Tradisi Amplop di Acara Nikahan

Posted: Desember 1, 2011 in Secara Menurut Aku....
Tag:, , , ,

“Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada segenap hadirin yang nanti akan hadir menyampaikan atau memberikan doa restu. Kami tidak menerima bingkisan kado ataupun semacamnya,” 

———–

Dulu kala kita sudah pernah memiliki tradisi untuk memberikan semacam bingkisan kecil kepada pasangan pengantin yang telah mengundang kita. Kado ataupun bingkisan bisa macam-macam bentuknya, pigura foto, album foto, jam dinding, gelas, dll.  Entah siapa yang memulai, tradisi itu meluntur sejak banyak orang lebih menghimbau untuk memberikan “bingkisan” nya tidak berupa barang, tapi uang! haha

Ya kalau dikembalikan lagi sih, memang ada sisi baiknya, khawatirnya ntar barangnya yang dikasih gak cocok, trus gak kepakai, mubazir dong.. dan dari “logika” sederhana itulah, akhirnya memberikan amplop berisi sejumlah uang pada acara nikahan seakan menjadi “kewajiban” bagi setiap tamu yang diundang.

Kalau dikembalikan lagi logikanya: yang diundang gue, kenapa jadi gue yang ngasih duit? :p 

Jadi sekarang itu begini logikanya:

Undangan =  kalau datang harus bawa amplop berisi duit untuk bayar makan di resepsi.

Jadi ini acara resepsi untuk menghadiri nikahan dan mendoakan penganten yang akan menempuh hidup baru atau bayar makan ceritanya?

Terkadang beberapa acara resepsi nikahan diusahakan oleh penyelenggaranya dengan modal hutang sana-sini dengan mengharap pujian kalau pestanya “wah” dan mengharap modalnya kembali dari uang amplop undangan yang datang. Ada beberapa yang bisa balik modal, ada yang tidak, bahkan sampai habis hartanya hanya untuk mewujudkan pesta pernihakan yang hanya berlangsung 1 hari. Ough.

Dalam tradisi beberapa keluarga juga ada yang mencatat;  misalnya si A, memberi amplop sekian ratus ribu. Nah, nanti kalau si A menikah akan diberikan juga amplop yang kurang lebih sama dengan yang si A beri. Ya, begitulah. Tradisi “mengembalikan” itu rupanya juga masih banyak melekat di di masyarakat kita.

Jika undangan pernikahan setiap tamu yang hadir harus membawa amplop, dampaknya kadang undangan yang sedang kantong cekak, mungkin lebih memilih tidak hadir saja.

Bahkan ada yang lebih ekstrem, entah karena ingin menghemat, di undangan tertulis “Harap membawa seorang pendamping“, juga ada yang dengan kupon makan. olalaaa…

Yang lebih lucu lagi, kadang tuan rumah secara ceroboh bicara ke keluarganya yang kebetulan menjadi panitia acara dan didengar oleh salah satu tamu, dengan bilang:

“eh, mereka yang datang, udah pada kasih angpao belum, jangan-jangan numpang makan ajah, tolong liatin yah, mereka dah kasih amplop belum..”

Kemudian saat acara selesai, marah dan ribut sendiri karena ternyata para undangan tidak memberikan uang di amplop yang cukup banyak, dan dia merasa rugi karena acara tersebut.

Jadi sebenarnya, makna mengundang sendiri itu apa?

Mengharap amplop berisi duit?

Mengharap kedatangan dan doa restu kepada penganten baru?

Menghitung untung rugi?

Apakah esensi resepsi pernikahan itu sudah sedemikian dangkalnya?

Kira-kira, kalau udangannya seperti ini:

Atau seperti ini:

Mau ngasih amplop yang isinya berapa? :D

Cheers,

Eviwidi

Komentar
  1. Asop mengatakan:

    Ya elah, ribet amat yak mikir untuk dateng ke undangan. :|

    Kalo saya sih gampang aja. Berpikirlah bahwa ngasih amplop itu adalah tradisi. Saya ikuti aja. Dan, saya ngasih semampu saya dan seikhlas saya. Dua kali saya datang ke resepsi pernikahan teman saya, dua2nya pula saya ngasih amplop dengan kemampuan semampu saya. Ikhlas deh yang penting, dan jangan sekali-kali berharap imbalan. :mrgreen:

    Saya sih mikir gini, dengan saya ngasih amplop, saat saya nikah nanti setidaknya kemungkinan saya dapet amplop bertambah. Bukan berarti saya ngarep (berharap) dapet amplop. Tapi coba pikir, dengan kita ngasih amplop, kita sama dengan membantu sepasang pengantin baru dalam memulai hidup barunya. :mrgreen: Justru sang pengantin yang berhutang sama kita yang ngasih. :lol:

    • eviwidi mengatakan:

      Sebetulnya bukan ribet ngasih amplopnya sih, tapi tradisi ini terlanjur menjadi sesuatu yang “diharepin” banget dan malah semacam jadi hitungan untung rugi kalau bikin acara resepsi nikahan, itu yang bikin kacau, :D

  2. randallhart mengatakan:

    semoga sukses dan lancar dalam menjalankan usahanya. kami menyediakan juga informasi untuk keamanan usaha anda dari bahaya kebakaran.

    Terima kasih untuk informasi lebih lanjut silahkan MELIHAT : http://www.randallhart.com/,
    tlp:031 853 8830,
    e-mail : randallhart9@gmail.com

  3. tutorial hacking mengatakan:

    haha dasar indonesia

  4. Penggemar Honda mengatakan:

    tapi kalo kasih amplop amplop gitu biasa ditulis nama ga? atau bagaimana?

  5. nonaManis mengatakan:

    hahaha bener mba… like this sangadddd jadi nti nga ngarrepin dapat angpao dong :p

  6. sonny mengatakan:

    kayanya yang paling tepat ngharepin duit dech wkwkwk….salam kenal gan :)

  7. lintang mengatakan:

    ntah acara nikahan jadi hitung rugi dan untung T_T

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s