Review Buku Hafalan Shalat Delisa; Khusyuk-Fokus Dalam Sesuatu Perkara

Posted: Oktober 28, 2012 in Resensi Buku Fiksi
Tag:, , , , , ,

Hafalan Shalat Delisa (Ganti cover)

Oleh: Tere Liye

ISBN      :               9789793210605

Rilis        :               2010

Penerbit  :           Republika

Bahasa  :               Indonesia

Bencana Tsunami di Aceh yang terjadi pada akhir tahun 2004, menjadi latar kisah dalam buku ini. Menceritakan tentang seorang anak; Alisa Delisa yang sedang berjuang untuk menghafal bacaan shalat.  Delisa, anak perempuan 6 tahun tinggal di Lhok Nga bersama ummi dan ketiga saudaranya yang kesemuanya perempuan. Kakak tertuanya  Cut Fatimah, kakak keduanya kembar, Cut Aisyah dan Cut Zahra. Abi mereka bekerja di sebuah kapal asing yang berlayar keliling dunia, biasanya pulang ke Lhok Nga setiap 3 bulan sekali, sehingga saat tidak berada di rumah, Abi hanya berkomunikasi melalui telepon dengan ummi dan anak-anaknya.

Sudah menjadi tradisi dalam keluarga tersebut, setiap anak-anak yang sudah hafal bacaan shalatnya, maka dia berhak untuk menerima hadiah berupa kalung emas seberat 2 gram yang bisa dipilih sendiri di toko emas langganan, milik Ko Acan. Demikian juga dengan Delisa. Delisa sangat senang sewaktu diajak untuk memilih kalung yang akan menjadi hadiahnya. Ketika berada di toko tersebut, kebetulan Ko Acan, yang sudah kenal baik mengusulkan untuk memilih kalung dengan hiasan huruf D, D berarti Delisa. Delisa setuju. Namun ternyata pilihan tersebut sedikit menimbulkan masalah ketika diketahui salah satu kakaknya, Aisyah. Karena merasa kalung Delisa lebih bagus, Aisyah merajuk dan cemburu kenapa kalung Delisa lebih bagus dari kalung miliknya. Setelah diberikan pengertian oleh Ummi dan sudaranya akhirnya Aisyah bisa menerimanya.  “Jangan pernah lihat hadiah dari bentuknya… Lihat dari niatnya.. –Kalau kamu lihat hadiah dari niatnya, Isya Allah hadiahnya terasa lebih indah…” (hal. 33).

Setiap sore, selepas pulang sekolah Delisa belajar mengaji di muenasah di dekat rumahnya, belajar dengan ustadz Rahman bersama dengan teman-teman seumurannya. Abi juga menjanjikan untuk membelikan sepeda jika Delisa sudah hafal bacaan shalatnya, sehingga makin semangatlah Delisa menghafal, Aisyah membantunya dengan memberikan “jembatan keledai” yang memudahkan untuk bisa menghafal. Setiap  habis bermain sore di pantai, Delisa belajar naik  sepeda dengan Tiur, teman seumurannya yang kebetulan memiliki sepeda.

Suatu hari, Ustadz Rahman pernah mengatakan pada anak-anak didiknya;  Aku mencintai Ummi karena Allah.  “Nah, coba kalian katakan kepada Ummi masing-masing, nanti kalau Umminya sampai menangis, Ustadz beri hadiah..” (hal. 55). Dua hari kemudian, Delisa mengatakannya sesaat setelah melaksanaan shalat subuh berjamaah, dengan memeluk Umminya. Ummi sampai menangis demi mendegar putrinya membisikkan kata-kata tersebut, kemudian kakak-kakaknya ikut memeluk dan mengakatan kalimat yang sama sambil menangis. Ketika bertemu lagi dengan Ustadz Rahman, Delisa meminta hadiah yang dijanjikan, yang ternyata berupa coklat. Hadiah tersebut tak sengaja diketemukan oleh Aisyah, tapi ketika ditanya tentang kenapa Ustadz Rahman sampai memberikan hadiah, Delisa enggan mengatakan kejadian yang sebenarnya.  “Delisa akan cerita deh…Tetapi besok-besok ceritanya” Sayang, ternyata besok-besok itu adalah misteri Allah yang tidak mengijinkan Delisa untuk terus berkumpul dan bertemu dengan saudara-saudaranya, juga Ummi yang sangat dikasihinya..

26 Desember 2004, jadwal Delisa untuk mengikuti ujian hafalan shalat. Ujian itu dilaksanakan di hari Ahad pagi, supaya tidak mengganggu jam belajar regular anak-anak kelas satu Ibtidaiyah. Satu persatu anak-anak yang mengikuti ujian dipanggil oleh Ibu Guru Nur, guru penguji untuk ujian hafalan shalat anak-anak. Saat giliran Delisa, perlahan-lahan Delisa mengucapkan kalimat-kalimat bacaan shalat, namun bersamaan dengan itu, alam bergejolak, menghentak bumi Aceh, meluluh lantakkan semua benda tanpa kecuali. Hingga akhirnya, air datang tak terduga yang meratakan semua bangunan, beribu-ribu manusia tak berdaya dalam aliran dan genangannya. Demikian juga dengan Delisa.. Namun, ternyata, Allah masih memberikan Delisa kesempatan, dalam nafasnya yang masih tersisa..  Akankah Delisa dapat meneruskan kembali hafalan  shalatnya?

 

Khusyuk – Fokus

Shalat adalah tiang agama dalam Islam. Oleh karenanya, perlu diajarkan sedari dini, agar anak-anak mengenal agamanya.  Sangat beruntung jika sekiranya, orang tua bisa memiliki anak-anak yang shaleh dan shalehah, yang mau belajar agama sedari kecil, menurut,  dan tanpa penolakan.  Jika mengingat anak-anak jaman sekarang, tentunya orang tua memiliki tantangan yang lebih besar, karena dengan hadirnya teknologi, anak-anak  kadang cenderung untuk lebih memilih bermain game, nonton tv dibandingkan dengan belajar membaca buku atau belajar mengaji Al-Qur’an.  Oleh karenanya, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membentuk mereka, utamanya dalam proses anak-anak yang serba ingin tahu di masa pertumbuhannya.

Kisah Delisa ini, lebih untuk memberi contoh pada orang tua, bahwa anak-anak harus diberikan teladan, terutama oleh orang tuanya, sehingga mereka punya contoh nyata. Dan keteguhan Delisa untuk menghafal bacaan shalatnya, juga salah satu contoh untuk terus fokus jika mengerjakan sesuatu perkara.  Demikian juga jika mengerjakan shalat, maka harus fokus, sehingga bisa khusyuk dalam shalat.

Fokus dalam sesuatu perkara, akan menjadikan kita bisa mencapai tujuan, dan maksimal dalam mengerjakannya, tidak terombang-ambing oleh perkara-perkara yang lain yang menyebabkan perkara tersebut tidak tuntas dan kadang malah terbengkalai. Fokus, akan mengantarkan kita untuk bisa memilih mana yang prioritas, dan mana yang bukan prioritas.

Kita akan banyak belajar tentang kehidupan dari Delisa. Kisah yang ditulis oleh Tere Liye ini juga telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Bencana akan selalu mengingatkan kita tentang besarnya kekuasaan Allah SWT. Bahwasanya, kita sebagai manusia yang masih bisa menghirup udara hari ini, berbuatlah yang terbaik, karena kita tidak pernah tahu, kita masih diberi kesempatan untuk bertemu hari esok, ataukah tidak. Buku ini juga banyak mengajarkan tentang makna hidup sederhana, ikhlas, tulus, bekerja keras, dan senantiasa bersyukur. ***

 Cheers..

@eviwidi

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s