Totto-Chan Mendobrak ‘Jendela ‘ system pendidikan formal yang memasung kreativitas

Posted: Juni 5, 2008 in Resensi Buku Non Fiksi
Tag:, , , , ,


Mendobrak system pendidikan formal yang memasung kreativitas.

Kurang lebih itulah misi yang diusung oleh Tetsuko Kuroyanagi dalam sebuah novel non-fiksi yang diangkat dari kisah nyata dimasa kecilnya; Totto-Chan Gadis Cilik di Jendela.

Mau buku ini ? klik disini

Totto-Chan yang merupakan panggilan sayang untuk Tetsuko ini mengawali masa sekolah pertamanya di sekolah dasar (SD) umum, namun karena di kelas Totto-Chan suka sekali di jendela dan sesekali memanggil pengamen untuk memainkan musik, hal itu menurut guru-gurunya tindakan ‘terlalu nakal’ –lebih tepatnya terlalu aktif dan memiliki rasa ingin tahu yang besar- dia akhirnya dikeluarkan dari sekolah tersebut. Beruntung Totto-Chan memiliki ibu yang sangat memperhatikan kebutuhannya yang haus akan ilmu pengetahuan, sampai akhirnya ibunya menemukan sekolah bernama Tomoe Gakuen (berdiri tahun 1937) untuk Totto-Chan. Tidak seperti sekolah biasa, ruangan sekolahnya adalah gerbong kereta api, dengan view pemandangan alam sehingga para murid-muridnya serasa bukan sekolah tetapi melakukan perjalanan rekreasi.

Dalam ruangan sekolah yang tak biasa ini, mata pelajaranpun diajarkan secara tak biasa juga. Yaitu setiap murid boleh memilih jadwal pelajaran yang disukainya. Bisa dimulai dengan menggambar,berhitung,Fisika (hebat ya, di masa itu anak SD di Jepang sudah dikenalkan pelajaran Fisika ). Sehingga setiap murid merasa sekolah bukanlah sebuah rutinitas yang menjemukan dan melelahkan malah sesuatu yang begitu menyenangkan.

Kepala sekolah mereka, yaitu Sosaku Kobayashi juga menerapkan ‘kurikulum unik’ yaitu setiap murid harus menyiapkan menu makan siang ‘sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan’. Dalam suasana kelas dengan pelajaran yang bisa di atur sendiri, Totto-Chan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri,menghargai orang lain dan tidak perlu menjadi orang lain dikehidupan masa depannya kelak, karena sejak kecil dia sudah diajarkan untuk tahu apa yang diinginkan. Sayangnya sekolah ini tidak ada dokumentasi atas permintaan kepala sekolah tersebut yang kebetulan membenci publikasi, dan ketika tahun 1945 sekolah ini hancur oleh bom dari Amerika, sekolah gerbong nan unik inipun lenyap tak bersisa.

Secara cerita, novel yang diilhami cerita masa kecil (seperti hal-nya Laskar Pelangi karya Andrea Hirata) boleh dibilang sangat unik dan menarik. Kisahnya di sajikan bab-per bab dengan kronologi kejadian dan disampaikan secara ringkas dan padat. Jadi dijamin tidak membosankan ketika membaca novel ini karena tidak ada kalimat bertele-tele maupun tulisan yang panjang-panjang.

Sekolah Dasar Tamoe Gakuen sangat menarik jika dibandingkan dengan sekolah SD di Indonesia pada umumnya yang terkesan membosankan dan mengutamakan kelas monolog daripada dialog. Sehingga siswa dalam proses belajar-mengajar lebih sering diam menunggu perintah dari pada mengembangkan pola berpikir. Hal inilah yang memasung kreativitas siswa dan ketika dewasa, kebanyakan siswa tersebut cenderung tidak bisa punya peran dalam kehidupan sosialnya dan tidak bisa berfikir untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Bagaimanun pondasi sebuah bangsa terletak pada anak-anak sekolah dasar yang merupakan generasi yang akan menentukan proses kalangsungan bangsa tersebut di kehidupan selanjutnya, akan lebih maju atau malah mengalami kemunduran.

Jika di Indonesia ada SD seperti Tomoe Gakuen, para ibu tidak perlu susah-susah membangunkan anak-anaknya ketika harus berangkat sekolah, karena mereka merasa kegiatan sekolah adalah tempat yang membuat mereka bisa mengembangkan segala kreativitas dan energinya dan pastinya menyenangkan. Buku ini sangat inspiratif tentunya bagi dunia pendidikan kita.

Jika biasanya komik dari Jepang yang sering kita jumpai, novel Jepang ini sangat layak untuk dikoleksi. Sangat unik,inspiratif dan sarat dengan filosofi menanamkan menyukai belajar sejak dini. Ada ungkapan menarik dari Tetsuko Kuroyanagi tentang sekolah dimasa kecilnya ini di akhir tulisan:

“Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering kita dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe tidak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana. Begitulah sekolah itu.”

Eniwei kalo kalian pengen dapet Versi English gratisannya kalian bisa download di:

http://ebooks.du.ac.in/edu-resources/Resources/books/Tottochan.pdf

Yang jelas sih siapkan kamus, dan kacang goreng untuk nemenin kamu nerjemahin..hehhehe…

Review diatas juga ada di resensi-nya bookoopedia.

Cheerz

Evi

Komentar
  1. kenapa_tanya mengatakan:

    Iya benar… Memang kita perlu menempuh cara non-konvensional alias kreatif utk mhsilkn produk pendidikan yg OK PUNYA!!

  2. eviwidi mengatakan:

    Iya harus.., karena kok sepertinya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita ini, sehingga para lulusan yang seharusnya berbagi ilmu pada masyarakat, cenderung tidak bisa mengaplikasikannya, ada ide lain?

  3. wenny mengatakan:

    Aku baca buku ini sekitar thn 2007an. Yang ada d pikiranku saat itu, “msh ada gak ya, sekolah kayak gini d Jepang?”
    Waktu itu aq jg gak tau klo itu kisah aslinya si penulis. jd surprise banget pas di bagian ‘perang’. Baru nyadar “kok namanya sama kayak penulisnya ya..” hehe😀😀

    Oya,skrg dah ada yg baru kan. Totto-Chan’s Children. Tapi aku blm baca tuh.. (T_T)>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s