Antara Kopi, Café, Laptop dan Buku

Posted: Juni 30, 2008 in Riset Kecil-kecilan
Tag:, , , , , , ,

Pernah nongkrong di café, ngopi sambil baca buku atau chatting? Sepertinya fenomena seperti ini sekarang sangat jamak ditemui. Terutama di Café-café baik di Mall maupun di outlet Café itu sendiri yang menyediakan tempat yang nyaman buat nongkrong dan berlama-lama di Café. (Hemm..sepertinya untuk beberapa kalimat diatas, saya menggunakan kata-kata asing cukup banyak yaa, Doh, jadi gak enak sama Om EYD..:P)

Ibarat paket hemat, bundlingan tempat yang nyaman, menu minuman dan makanan yang lezat, ditambah free hotspot seakan sudah menjadi syarat mutlak untuk sebuah café supaya bisa menarik tamu. Tamu yang tidak bawa laptop, membawa buku bacaan di café juga gak kalah keren. Apasih sebenarnya yang menggeser perubahan dari café yang semula hanya buat minum kopi menjadi semacam tempat untuk berbagai aktifivitas dan bahkan jadi gengsi sosial tersendiri?

Jika diamati (meskipun saya bukan pengamat..:D) perubahan ini dipengaruhi oleh perilaku cara orang berkomunikasi. Di era yang serba digital saat ini, yang semua seakan borderless, dimana jarak dan waktu bukan lagi sebuah halangan untuk berkomunikasi. Hal ini menjadikan perilaku orang juga bergeser. Bicara maupun meeting cukup lewat telepon genggam. Meeting dengan klien luar negeri bisa pakai tele-conference. Ngobrol santai bisa lewat chatting. Belanja bisa lewat online dan delivery. Mengerjakan tugas kantor bisa dimana saja asal ada sambungan Internet. Banyak kantor saat ini yang untuk menekan cost sewa ruangan atau gedung, air listrik dan tagihan-tagihan yang lain menggunakan jasa Virtual Office dan semua tugas bisa di kerjakan karyawannya dari mana saja, asal tersambung Internet. Bahkan mencari jodoh dan kuliah bisa lewat jasa Internet ini. Hal inilah yang membuat orang akhirnya mencari tempat senyaman dan seenak mungkin ketika mengerjakan tugas-tugas apapun, baik tugas kantor,kuliah sekolah bahkan profesi seperti penulis maupun bikin scenario film dikerjakan di café. Sudah internet gratisan, tempat enak, diiringi musik,makanan tinggal pesan, olala…

Karena kemudahan dan kenyamanan inilah, mungkin yang sekarang menyebabkan banyak bermunculan penulis-penulis muda. Dimana buku-buku baru begitu banyak bermunculan terutama novel fiksi yang sepertinya saat ini lebih bergairah. Begitu juga penulis-penulis dadakan di blog yang hampir ratusan jumlah pertambahannya setiap hari. Hal ini juga dibarengi dengan banyak munculnya café-café baru di Mall atau pusat-pusat perbelanjaan dengan menawarkan berbagai fasilitas untuk membuat betah tamu-tamunya.

Lantas apakah ini gejala baik atau gejala buruk dalam masyarakat? Dari sisi ekonomi tentu ini gelaja baik karena ada simbiose mutualisme yang bekerja di sini. Penulis bisa dapet ketenangan dan kenyamanan menulis atau mengerjakan pekerjaannya, pemilik café merasa untung karena si tamu ini pasti beli menu makanan atau minuman disitu, (yang biasanya di banderol cukup mahal). Sekarang begitu banyak pilihan dan fasilitas. Ketika Anda ingin menulis atau mengerjakan tugas yang bisa dikerjakan di mana saja, mana yang akan Anda pilih? Di rumah saja sambil bikin kopi sachet, atau pergi ke café dan minum kopi café?

Komentar
  1. hendra mengatakan:

    he..

    aku dah baca ini..

    lumayan bagus ya..
    🙂

    dah baca “Bank Kaum Miskin” belum..

    sampul & halaman belakangnya ada di friendsterku..

    klo belum baca, simak aja sampul belakangnya..

    (halah kok repot ya)

  2. ipk4cumlaude mengatakan:

    Saya belum pernah tuh ngongkrong di Cafe. Gimana rasanya ya…?
    Tapi kalau untuk tempat baca buku mah saya milih di taman yang rindang dihiasi bunga-bunga yang sedang mekar berwarna warni. Kupu2 dan lebah mengambil sari dari bunga itu silih bergantian. Burung2 beterbangan kian kemari. Di depannya, air mancur atau air terjun meramaikan suasana. Haaaah…. sampurna banget hidup ini. Haah jadi inget pas mahasiswa euy…! *Eh tulisan ini lagi bahas apa sih?*

  3. ipk4cumlaude mengatakan:

    Oya salam kenal…

  4. aishiteru mengatakan:

    Iya..setuju banget dengan tulisan ini. Jaman sekarang Kafe sudah jadi simbol status sosial tertentu. Ironisnya para tamu itu datang ke tempat “ramai” itu hanya untuk ” menghanyutkan diri” dengan dunianya sendiri, seperti Chatting, browsing atau apapun itu. Kafe lalu hanya sebagai tempat “berkonsentrasi” saja, bukan hanya untuk mengobrol….
    Kalau saya pribadi, ke Kafe untuk hotspot-an ria. Jadi sendirianpun tak masalah…Have fun dengan diri sendiri memang tujuannya…:D

  5. tirta syafitri mengatakan:

    yup…………….. tp bka yg kyk gtuan mhal g y

  6. Mega mengatakan:

    Asik juga di kafe ngopi sambil wifian😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s