Resensi Novel Bilangan Fu- Spiritual(isme) Kritis

Posted: Juli 28, 2008 in Resensi Buku Fiksi
Tag:, , , , , , ,

Setelah lama tidak muncul, penulis Novel laris Saman ini kembali menelorkan sebuah Novel yang mengangkat tema Spiritualisme Kritis. Yang didalamnya terdapat perdebatan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hal spiritual, seperti mistis, takhayul, sesajen dan juga kehidupan beragama monotheisme.

Jika di rumuskan secara kelompok, ada dua kubu yang ditampilan disini, kubu yang menghargai dan mempercayai takhayul, adat istiadat, sesajen dll, sementara kubu yang lain yang disebut modern yang tidak lagi mempercayai hal-hal takhyul.

Lantas apa hubungannya dengan Bilangan Fu? Apasih Bilangan Fu itu?

Bilangan Fu adalah bilangan yang menyesaki benak tokoh utamanya yaitu Yuda, seorang pemanjat tebing dan seorang petaruh sejati. Ada tiga tokoh disini; Marja, kekasih Yuda seorang mahasiswi desain dan Parang Jati seorang mahasiswa Geologi ITB semester akhir, penduduk lereng Watugunung yang berjari tangan 12!. Yuda bertemu dengan Parang Jati ketika hendak membeli peralatan memanjat di rumah sahabatnya yang telah ‘pensiun’ sebagai pemanjat karena menikah dan membuka usaha menjual alat-alat untuk panjat tebing.

Yuda sangat rasional, modern, tidak mempercayai takhyul dan membenci Televisi dan membenci kota. Parang jati sangat menghargai alam dan mempercayai adanya ‘penunggu’ di setiap ruang di alam raya, dan dia menganggap sesajen adalah seperti kita membayar bea cukai atau pajak dan upeti kepada penguasa, tidak lebih. Dalam pandangan Parang jati, manusia modern sudah demikian congkak dan tidak menghargai alam, sehingga perusakan hutan membabi buta sering kali terjadi oleh manusia yang mengutamakan kepentingan ekonomi diatas kepentingan alam itu sendiri.

Sesajen atau persembahan pada alam adalah wujud bahwa sebagai manusia kita masih menghargai alam, tidak merusaknya dan menjaga alam tetap lestari. Jadi kepercayaan atau takhayul tentang alam ada ‘penunggunya’ sehingga manusia perlu meminta ijin untuk mengolahnya dan tidak semena-mena terhadap alam adalah sebuah bukti manusia bisa menghormati alam. Sayang hal itu luput dari pemikiran manusia modern yang sering memandang rendah sebuah upacara adat dan sesajen sebagai suatu pemborosan.

Dalam petualangan memanjat di Watugunung bersama sahabat barunya Parang Jati-yang penduduk asli lereng Watugunung dekat Pantai laut selatan itulah dia mengalami hal-hal yang selama ini dianggap takhayul sehingga terjadi pergolakan dalam dirinya tentang hal tersebut.

Saat tertidur di Watugunung, dia mengalami hal aneh. Mimpi bertemu penunggu gunung itu yang dia sebut Sebul, dalam gambarannya sebul adalah mahluk berkaki serigala, memiliki payudara, berkelamin ganda yang membisikkan tentang bilangan Fu. Bilangan yang menyerupai obat nyamuk bakar, melingkar keluar bagai labirin yang juga disebut Hu.

Dalam penjabarannya Fu atau Hu, ini adalah bilangan ke 13, dalam hitungan jawa kuno, ada hitungan; ji,ro,lu,pat,mo,nem,tu,wu,nga,luh,las,sin,hu (hal.304). (Ji=siji/1, ro=loro/2, lu=telu/3, pat=papat/4, mo=limo/5, nem=enem/6, tu=pitu/7, wu=wolu/8, nga=sanga/9, luh=sepuluh/10, las=sebelas/11, sin=lusin/12, Hu=13). Angka 13 Yang biasanya di Barat disebut-sebut sebagai angka sial. Sementara dalam kepercayaan China, 13 bisa berarti 1+3 = 4 atau bliangan Tsi angka sial di China. Lalu bagaimana penjelasanya dalam Novel ini tentang Anga ke-13 tersebut? Tentu saja penjelasanya ada dalam Novel terbaru Ayu Utami ini.

Dalam mengungkapkan Spiritualisme Kritis yang menjadi tema besar novel ini, Ayu banyak sekali menghadirkan debat-debat antara tokoh Yuda dan Parang Jati, serta dengan penduduk setempat. Ayu juga banyak sekali menyinggung sejarah Babad Tanah Jawi dalam menyampaikan pendapatnya tentang berbagai adat istiadat yang berhubungan dengan spiritual Jawa seperti kepercayaan tentang Nyai Rara Kidul, pesembahan atau sesajen, upacara Bekakak di Yogyakarta.

Image, Detik.com

Sayangnya ada beberapa hal yang seperti dipaksakan seperti menghadirkan kliping-kliping dari koran yang seolah-olah berkaitan dengan kisah dalam novel ini. Serta pengungkapan sejarah yang begitu panjang seakan menenggelamkan cerita dan tokoh-tokohnya meskipun itu sebenernya juga layak disampaikan. Tapi jujur saja saya agak malas untuk membacanya.

Sebagai Novel yang padat dan berat (baik dari segi isi maupun jumlah halamanya juga harganya yang lumayan), Novel Ayu ini memerlukan sedikit pemikiran untuk mencernanya, tidak seperti halnya Novel Saman yang lumayan cair. Namun dengan gaya penulisan bahasa sastra yang menggunakan kalimat pendek-pendek, Ayu tidak kehilangan kelincahannya.

Bilangan Fu atau Hu adalah bukti sikap kritis Ayu Utami dalam hal Spriritual dan takhayul yang sudah begitu mangakar dalam masyarakat. Ditulis selama 4 tahun tentu bukanlah hal yang main-main. Namun jangan berharap Novel Ayu Utami adalah Novel manis yang happy ending yang menyenangkan dan memanjakan pembaca. Karena bagi Ayu Utami, membuat novel bestseller dan laris manis bukanlah tujuan utamanya di bidang sastra. Baginya Sastra adalah wadah untuk mempergulatkan nilai-nilai. Sastra itu selalu menghargai membuka persoalan.

link terkait:

http://greatliteraryworks.com/2008/07/ayu-utami-saya-tak-pernah-nulis-buku.html

http://greatliteraryworks.com/2008/07/spiritual-side-in-ayu-utami-latest-book.html

Komentar
  1. aji mengatakan:

    sip………

  2. wulan mengatakan:

    jd pengen baca…:))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s