Resensi Boulevard de Clichy: Agonia Cinta Monyet-Remy Silado

Posted: Agustus 28, 2008 in Resensi Buku Fiksi
Tag:, , , , , ,

Judul Buku : Boulevard De Clichy: Agonia Cinta Monyet

Penulis : Remy Sylado

Harga : Rp 85.000,-

Ukuran : 13.5 x 20 cm

Tebal : 672 halaman

Terbit : Maret 2006

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Soft Cover

————————–

Kota Paris sebagai salah satu Kota termasyur di dunia dengan Menara Eiffel-nya, sering kali diangkat kedalam sebuah kisah baik oleh pengarang,pelukis,sutradara film dan lain-lain untuk setting cerita mereka. Jika Anda penggemar Film, pasti ingat Film yang pernah dibintangi Nicole Kidman yang Berjudul Moulin Rouge, kalo untuk yang lokal ada Eiffel I’m in Love dan masih banyak lagi.

Kali ini, Remy Silado juga mengangkatnya dalam novel Boulevard de Clichy, Agonia Cinta Monyet (Rilis 2006). Boulevard de Clichy sendiri merupakan nama salah satu jalan di Kota Paris yang berisi sejumlah tempat hiburan tari telanjang. Dan disinilah tokoh utama di novel ini yang memiliki nama Anugrahati dengan panggilan Nunuk, bermukim serta bertahan hidup di Eropa, sebagai apa? Jangan kaget, Sebagai PENARI TELANJANG!

Awalnya jika melihat tebalnya novel ini, ada sedikit keraguan, akankah kisah yang tertulis didalamnya sanggup membuat pembaca tidak mati kebosanan? Setelah membaca 10 halaman pertama, saya tidak bisa melepaskan kisah dalam novel itu begitu saja. Ada dorongan untuk terus dan terus membaca hingga titik koma terakhir. Jika bukan Remy Silado yang menulis, saya sangsi akan bisa bertahan hingga lembar terakhir pada novel setebal 672 halaman ini. Sepertinya Teori Joe Vitale dalam bukunya Hypnotic Writing berlaku disini.

Nunuk yang merupakan tokoh sentral dalam novel ini, awalnya adalah seorang gadis anak seorang sopir Metromini yang memiliki cacat sumbing di bibir. Ayahnya, Bambang Suhardi yang trenyuh melihat kondisi putrinya bertekad untuk bisa mengoperasi bibirnya hingga Nunuk bisa menjelma menjadi gadis yang jelita. Saat gelap mata, Suhardi merampok seorang Ibu tua yang memiliki uang 100 juta. Uang didapat dan Suhardi akhirnya bisa membiayai operasi plastik untuk bibir Nunuk yang sumbing.

Operasi sukses dan Nunuk menjelma menjadi gadis yang benar-benar jelita. Semua lelaki yang dulu acuh tak acuh padanya berbalik 180 derajat mengejar cintanya. Salah satu “pengagum dadakan” itu adalah Budiman. Dia anak tunggal Ketua DPRD, Waluyojati. Kisah terus berlanjut, Nunuk yang sudah lama kurang mendapat perhatian seakan menjadi bintang dan berbunga-bunga mendapat perhatian berlebih dari Budiman. Apalagi Budiman anak tunggal orang yang lumayan kaya karena korupsi.

Rayuan gombal Budiman di hayati Nunuk sampai ke ranjang. Tak urung Nunuk akhirnya memiliki benih Budiman di rahimnya. Lalu apakah mereka akan menikah kemudian bahagia selama-lamanya? Jika saja kisah cinta Nunuk-Budiman sebatas itu, mungkin novelnya tidak perlu setebal ini.

Dan Nunuk tidak akan mengalamai Agonia (ago·nia Dok 1 n penderitaan berat; 2 a sekarat; Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia) selama hampir 5 tahun di Paris.

Setelah “ditolong” oleh pengacara kenalan pemilik Metromini tempat Suhardi bekerja, akhirnya Ayah Nunuk memperoleh uang lumayan banyak dari Waluyojati. Nunuk memilih untuk tinggal di Belanda di tempat saudara Ibunya, Ellen yang memang berdarah campuran Indo-Belanda. Nunuk akhirnya sekolah di Sekolah Tinggi teater, Fontys Academie voor Drama di Kanaalstraat-Eindhoven, Belanda. Dalam salah satu pentas teaternya, Nunuk bertemu dengan salah seorang pencari Bakat bernama Albeni, keturunan Turki yang sepertinya terlihat sebagai orang baik untuk mengajak Nunuk bekerja di Paris. Nunuk yang masih polos, ho-hoh saja setelah menyeleseikan masa studinya untuk ikut Albeni di Paris. Inilah episode lanjutan segala Agonia, hingga Nunuk menjadi penari telanjang paling bersinar dan mendapat julukan Meteore de Java di Boulevard de Clichy.

Boulevard de Clichy by Van Gogh, Taken From Vangoghreproduction.com

Boulevard de Clichy by Van Gogh, Taken From Vangoghreproduction.com

Selama di Paris, Nunuk tidak pernah tahu bahwa Budiman juga berada disana. Alasan berangkatnya memang akan kuliah, tapi sesampai disana waktunya lebih banyak habis untuk luntang-lantung dijalan bergaul dengan pelukis jalanan dan menghabiskan uang orang tuanya yang memang memanjakannya dari uang hasil korupsi.

Akankah nantinya Budiman bertemu dengan Nunuk? Dan akankah kebusukan Waluyojati juga “The Untouchable” dibelakangnya yang setali tiga uang suka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya hingga mengorbankan orang lain dan nantinya membahayakan hidup Nunuk juga Budiman, kejahatannya akan terbongkar? Novel ini akan memberi jawaban semua pertanyaan diatas.

Kisah agonia cinta monyet Nunuk dan Budiman ini dibungkus dengan intrik politik yang sedang terjadi pasca tumbangnya orde baru. Masih dengan korupsi dan kolusi yang demikian kental ditubuh pemerintahannya.

Diselingi dengan banyaknya peribahasa disana-sini dan percakapan dalam bahasa Prancis menjadikan Novel ini begitu berwarna dan memberi banyak wawasan baru.

Peribahasa seperti:

Menggantang asap mengukir langit (hal.140) .

Semut di seberang laut nampak, gajah dipelupuk mata tak tampak (hal.142).

Sungguh bersubang tiada berdara (hal.151).

Akal labah-labah di gua buruk suka merakut (hal.156)

Dan masih banyak lagi peribahasa yang diselipkan dalam paragraph-paragraf kisah ini. Remy bisa meramu sedemikian rupa hingga membuat kisah ini begitu menarik untuk disimak tanpa “membuang-buang bahasa” (baca: pemborosan kata) yang tak berarti.

Ibarat pepatah, tak ada gading yang tak retak, demikian dengan Novel ini, sebenarnya saat Nunuk sudah memiliki cukup uang setelah beberapa tahun di Paris. Kenapa dia tidak memutuskan untuk segera kembali “ke-jalan yang benar” saja? Kenapa harus menunggu hingga 4 tahun lebih? Ah, yang tahu jawaban itu sepertinya hanya Bung Remy sendiri.

Tips Saya: Siapkan buku kumpulan peribahasa milik Anda (jika ada) untuk tahu arti yang sebenarnya tentang semua peribahasa yang tercantum di Novel ini.

Cheerzzzzz

-Eviwidi-

Komentar
  1. helvryhelvry mengatakan:

    nice review🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s