Resensi Novel Grafis V for Vendetta Versi Indonesia,Original + Movie

Posted: September 13, 2008 in Resensi Buku Fiksi, Resensi Film, Riset Kecil-kecilan
Tag:, , , , , ,

Meskipun secara waktu V For Vendetta uda lumayan lama, namun sejak kehadirannya hampir tidak ada karya lain yang setara baik secara Ide maupun fenomenal-nya.

Untuk itu saya ingin meresensi karya Mr. Moore dan Mr. Lloyd ini, ada yang suka?

Judul Buku : V for Vendetta

Penulis & Ilustrator : Alan Moore & David Lloyd

Harga : Rp 95.000,-

Ukuran : 17 x 26 cm

Tebal : 301 halaman

Terbit : Januari 2007

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Soft Cover

Buku yang saya resensi kali ini bukan buku baru. Film-nya mungkin sudah banyak yang melihat, secara Film V for Vendetta lebih dulu menyapa publik Indonesia.

Sudah banyak para peresensi hebat yang sudah mereview baik buku maupun film-nya setelah beredar di Indonesia. Saya pun menemukan berbagai literaturnya di Wikipedia. Baik ide maupun teknik penceritaan rasanya sampai saat ini belum ada yang melakukan sebaik Alan Moore dan David Lloyd. Meskipun V for Vendetta sendiri adalah buku berat yang tidak sedikit mendapat kritikan pedas saat kemunculannya karena ada indikasi seperti “merestui” anarkisme. Tak bisa disalahkan jika timbul pendapat semacam itu karena memang pada kenyataanya di cerita V for Vendetta ini tokoh V melancarkan tindakan semacam anarkisme dalam menyatakan pendapatnya. Tentu bukan tanpa alasan kenapa tokoh V berbuat semacam itu. Mau tau kenapa?

Untuk sekedar remind, saya akan ceritakan kembali kisah V for Vendetta ini berdasar versi Indonesia yang diterbitkan GPU tahun 2006 yang lalu.

Latar belakang kisah V For Vendetta adalah Negara Inggris di Kota London tepatnya. dengan setting tahun 1997. Dikisahkan saat itu Inggris dikuasai oleh Takdir, yang mengusai negara dengan paham Fasis (Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. –berdasar Wikipedia-) yang memenjarakan kebebasan rakyatnya.

5 November 1997. Seorang gadis remaja usia 16 tahun bernama Evey Hammond, karena terhimpit ekonomi, nekad merayu seseorang untuk di ajak kencan dengan harapan orang tersebut akan memberi imbalan uang setelah habis kencan. Malang, situasi politik yang saat itu tengah kacau dan rakyat hampir tak punya privacy sampai-sampai kamera terpasang dimana-mana untuk mengawasi kegiatan rakyatnya, Evey yang lugu merayu orang yang salah. Dia merayu antek-antek politik yang di sebut dengan Jemari yang mengaku sebagai polisi Susila. Tak ayal. Evey pun jadi bulan-bulanan petugas itu. Saat sedang terdesak, seseorang bertopeng dan berjubah muncul menolong Evey. Nasib malang pun berpindah pada polisi yang di rayu Evey.

Sang penolong yang menolong Evey mengajak Evey untuk tinggal di rumahnya yang di sebut Shadow Gallery (Galeri Bayangan). Dari balkon Galeri Bayangan, Evey melihat gedung parlemen meledak tepat tengah malam dan di akhiri dengan kembang api di langit malam London. Kembang api itu sangat indah membentuk formasi huruf V. Evey sangat terkejut begitu tahu bahwa otak di balik pengeboman itu adalah orang yang baru saja menolongnya.

Meledaknya gedung parlemen tentu disambut dengan sangat ribut oleh warga kota terutama petinggi-petinggi yang merasa kebakaran jenggot.

Ditempat berbeda, Evey juga dikejutkan oleh keadaan di Galeri Bayangan, dimana disana terdapat semua buku dan CD lagu-lagu yang sebenarnya tidak boleh dimiliki oleh rakyat biasa. Dan Evey, diantara ketakutannya dengan keadaan kota menceritakan masa lalunya kepada penolongnya. Tokoh penolong itu sambil terus melancarkan serangan-serangan kepada tokoh-tokoh penting di kota London menjadi teman bicara Evey untuk beberapa waktu.

Kisah di buka pelan-pelan, tokoh penolong Evey itu, yang selalu mengenakan topeng tersenyum, memakai topi tinggi dan jubah panjang semata kaki, memiliki panggilan V.

Satu persatu tokoh penting di London mati dengan berbagai cara yang sangat memusingkan polisi. Awalnya Polisi tidak menyadari semua tokoh yang mati tidak berkaitan. Namun ada titik terang setelah salah satu polisi melakukan analisa data, bahwa semua tokoh yang mati itu pernah bekerja di suatu Kamp Relokasi Larkhill. Sebuah Kamp yang berisi ekperimen-ekperimen dari Ilmuwan dan dokter, yang menjadi percobaan adalah orang-orang yang sudah tak berdaya karena keadaan situasi politik yang kacau. Salah satu orang yang menjadi “orang percobaan” itu adalah tokoh V tersebut. Tokoh V memakai nama V dari nomor kamarnya yaitu No. 5 yang di tulis dalam huruf Romawi yaitu V. V adalah satu-satunya korban selamat setelah kamp tersebut meledak. Salah satu korban V yang bernama Uskup Lilliman mati atas bantuan Evey, Evey baru menyadarinya setelah uskup tersebut mati setelah ditinggalkannya.

Kisah terus bergulir, V terus menyerang dan melancarkan aksinya di kota London. Situasi makin kacau dan masyarakat semakin tertekan dengan situsi yang ada. Di tengah-tengah kekacaun seperti biasa dalam situasi politik selalu ada saja yang memancing ikan di air keruh.

Evey yang telah meninggalkan Galeri Bayangan akhirnya menemukan seseorang yang menolongnya dengan memberikan ruang di rumahnya untuk Evey. Sayang orang tersebut akhirnya mati terbunuh juga. Dalam keadaan frustasi, Evey di tangkap oleh polisi yang menduga dia terkait dengan teroris bersandi V. Lantas kenapa Evey bisa meninggalkan Galeri Bayangan? Juga dapatkah dia mengatasi masalah polisi yang menganggapnya sebagai antek teroris V? Akankah Evey bertemu lagi dengan V?

Bagi yang sudah nonton mungkin sudah tahu apa yang terjadi. Namun rupanya cerita film tidaklah sama dengan cerita di komik ini, atau tepatnya Novel Grafis ini.

V For V , Alan Moore & David Lloyd.

Sebagai seorang kreator, boleh dibilang Alan Moore dan David Lloyd ini sangat jenius. Kostum dan perwajahan tokoh V didapat dari tokoh Guy Fawkes, seorang tokoh nyata yang berencana melakukan aksi peledakan gedung parlemen Inggris di Abad ke-17, usahanya gagal namun aksinya tetap dikenang. Aksi peledakan itu dilakukan pada tanggal 5 November, nyambung kan?

Secara ide, okelah V adalah tokoh nyentrik yang melakukan aksinya dengan cara teatrikal dan layak diingat. Alasan melakukan aksinya karena ada dendam pribadi di masa lalu-nya dan ingin masyarakat keluar dari system politik fasis. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, haruskah selalu aksi anarkis untuk mengatasi semua persoalan? Hal ini membuat kita ingat di Indonesia sendiri sering kali tindakan anarkisme dilakukan untuk menyatakan pendapat dan ketidak setujuan pada kebijakan-kebijakan yang tidak bijak oleh pemerintahan kita. V For Vendetta seperti sindiran, sebuah kenyataan yang di fiksikan. Dan kadang kenyataannya sungguh lebih kejam daripada fiksi.

Hello,..ini sekedar kisah fiksi..Okay?, selebihnya mari kita lihat V For Vendetta sebagai karya Alan Moore dan David Lloyd yang patut untuk diapresiasi dan di kritisi.

Dari beberapa sumber di Internet, Alan Moore menyebut Versi Film yang di garap oleh Wachowski bersaudara (yang menggarap The Matrix) “versi film dari V for Vendetta adalah sampah”. Versi filmnya di bintangi Natalie Portman sebagai Evey Hammond dan Hugo Weaving sebagai V.

Memang ada perbedaan sangat mencolok terutama pada ending dari kisah V For Vendetta ini. Dimana dalam versi film semua warga London berbondong-bondong ke Trafalgar Square saat gedung parlemen diledakkan, mereka berbaris rapi memakai topeng V. Sedangkan di Versi Novelnya yang menggantikan V adalah Evey.

Meskipun dalam novel sempat V mengatakan saat dia akan dibunuh :

“Nah, kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh, hanya ada ide, dan ide tahan peluru” (hal 236)

Pada akhirnya V mati juga oleh peluru orang itu. Jadi pada intinya, Alan Moore dan David Lloyd sepertinya ingin menanamkan di benak pembacanya bahwa tokoh V adalah semacam Ide, dia bukanlah karakter nyata, oleh karena itu dia memilih tokohnya memakai topeng dan jubah yang nantinya siapa saja bisa menggantikan perannya jika dia mati. Dan benar saja setelah dia mati, Evey yang selama ini telah “di didik” akhirnya menggantikannya. Jika di nalar memang lebih masuk akal versi Novelnya dari pada versi Filmnya untuk ending kisah V ini.

Yang masih menyisakan pertanyaan, setelah V keluar dari Larkhill dari mana dia mendapatkan semua kemewahan seperti Galeri Bayangan yang besar dan megah serta lukisan-lukisan indah, buku-buku,dan CD-CD lagu juga dana untuk peledakan gedung parlemen?

Alan Moore dan David Lloyd sama sekali tidak menceritakan apakah V dapat sponsor dari orang lain atau V adalah jenius yang bekerja untuk orang lain yang kaya raya yang sanggup membiayai berapapun proyek yang di kerjakannya.

Sementara untuk penerjemahannya, ada beberapa hal yang patut menjadi catatan. Saya sebenarnya kurang paham andai tidak mengintip Koran Tempo yang juga meresensi V For Vendetta pada 25 Februari 2007 oleh Donni Ramdani, misalnya tentang puisi W. B Yeats yang dipakai V di halaman 196 yang berjudul The Second Coming. Yang ingin tahu lebih jauh silakan membuka-buka file lama di Koran Tempo tahun lalu.

Selain puisi itu, ada hal lain yang juga ada dalam catatan saya, adalah penerjemahan judul cerita Alice in Wonderland yang sudah terkenal itu, saat Evey berbicara pada V.

“Mengapa segalanya perlu demonstrasi besar-besaran? Pertanyaanku sangat sederhana dan ini seperti Alice di Negeri Ajaib” (hal. 218)

Sempat terlintas dalam pikiran saya, andai yang di sebutkan Evey adalah kisah semacam serial Friends yang juga sempat terkenal itu mungkin akan diterjemahkan jadi serial Teman-teman….:D

Dalam visualisasi, tak diragukan lagi V For Vendetta yang di garap oleh Alan Moore dan David Lloyd di divisi Vertigo DC Comic, dengan sangat cermat. Baik angle pengambilan gambarnya, penintaannya, ekspresi tokoh-tokohnya serta covernya.

Penggambaran London yang muram sangat tepat diterjemahkan oleh Moore & David dalam buku ini. Meskipun saya awalnya agak memicingkan mata saat pertama kali melihat gambar-gambar di buku ini karena seperti membaca buku beberapa tahun silam, saat DC Comic sering saya baca untuk kisah semacam Wonder Women,Superman,Batman dll. Jadi serasa membaca buku jaman dulu. Tapi begitu masuk dalam ceritanya Anda tak mungkin melewatkannya satu bagianpun. Karena semua terangkai begitu cermat dan teliti.

Buku ini tergolong genre Novel Dewasa yang lumayan berat, perlu beberapa kali baca untuk memahami yang di maksud oleh Alan Moore dan David Lloyd. Namun jika anda penikmat komik-komik DC Comic, tidak membaca V For Vendetta rasanya akan seperti ketinggalan pesawat..(apaan..coba?). Ya intinya sih, sebagai koleksi, buku ini sangat pantas mengisi jajaran buku Anda, terlepas dari semua kontroversi yang terlanjur melekat padanya.

Cheerz

-Evi-

Komentar
  1. Ren mengatakan:

    Novel yang menarik… karena berbau politik…
    filmnya juga keren biarpun tidak se-vulgar versi novel

    • eviwidi mengatakan:

      Iyah, novelnya menarik..jarang ada buku yang seperti ini…kalo versi filmnya mungkin karena pertimbangan pasar jadi tidak ‘setajam’ novelnya…

  2. alexvander mengatakan:

    film V tentang, balas dendam, ideologi, pemikiran, keberanian, teror, kekuasan, fasis, pemuka agama, provokasi, kejujuran, gender, ras, ketakutan, darah, beladiri, pilihan. novel V nya blm baca . smoga suatu saat bisa ber jodoh

  3. Lina mengatakan:

    Saya baru saja menonton filmnya di televisi, karena sebelumnya saya tidak pernah tahu film ini ada di layar lebar, sangat dramatis dan mengharukan, juga kritik yang tajam terhadap pemerintahan, saya sempat kaget film ini dapat beredar di televisi indonesia.
    Saat menonton filmnya saya jadi tertarik untuk membaca novelnya.

  4. Lirik Lagu mengatakan:

    wah ni buku pasti keren banget

  5. _V_ mengatakan:

    _V_

    Freedom Forever

  6. celana jeans mengatakan:

    buku V For Vendetta ceritanya yang sangat mengharukan..
    nice post.. salam sukses

  7. basuki adi wahyono mengatakan:

    di gramedia jogja ada gak y ????

  8. Alireza mengatakan:

    Mbak, Widi saya copas resensinya buat di Blog saya, ya. Tks.

    bekasiconenction.blogspot.com

  9. Yogi mengatakan:

    sumpah makna dan pesan yg terkandung sangat berkesan…
    Like thizZ lah pkoknya.
    Wkt it nntnx g beres soalx smbl ngbrol…pgn nntn lg biar kecerna smuanya!

  10. not second to waisted mengatakan:

    mbak saya minta izin coppas ya re

  11. filmya seru …
    tapi novelnya belum baca

  12. adwqdqwq mengatakan:

    topeng x nyari d mana ??

  13. Toya Chaudhari mengatakan:

    Do you have a spam issue on this blog; I also am a blogger, and I was
    wondering your situation; many of us have created some nice practices and we are looking to swap
    techniques with other folks, please shoot me an e-mail if interested.

  14. Gilang mengatakan:

    Novelnya nyari di mana ya?

  15. Arya r mengatakan:

    Pesan novelnya dong

    …?

  16. Arya r mengatakan:

    Minta kontak nomor buat pesan novelnya .

  17. Oktarina Triany mengatakan:

    ini novel versi bhs indonesia yah?? klo mau nyari dmna yah???

  18. Kiki Syarif mengatakan:

    novelnya sngt klasik

  19. maya salinka simanjuntak mengatakan:

    wih bener banget. pengen banget punya novel sm komiknya
    bisa jadi pelajaran dan nambah wawasan juga tentang kebenaran yang ada

  20. maya salinka simanjuntak mengatakan:

    penasaran banget isi atau makna yang tersirat di tiap kata

  21. v mengatakan:

    yang menjadi pertanyaan saya adalah ? bagai mana cara v meledakan penjara larkhill

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s