Resensi The Godfather – Mario Puzo

Posted: September 16, 2008 in Resensi Buku Fiksi
Tag:, , , ,

The Godfather

Judul : Sang Godfather – The Godfather

Penulis : Mario Puzo

Harga : Rp ,-

Ukuran : 15 x 23 cm

Tebal : 680 halaman

Terbit : September 2006

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

“Pembalasan dendam adalah hidangan yang paling lezat kalau disajikan dalam keadaan dingin” (hal. 618)

Dalam dunia Mafia, balas dendam, pembunuhan dan narkotika adalah hal biasa. Tapi tidak dengan tokoh mafia bernyali tinggi dari Sisilia -Italia bernama Don Vito Corleone. Bagi pemimpin mafia ini yang menguasai New York dan beberapa wilayah di Amerika yang sangat menghargai komitmen juga sangat menjunjung tinggi arti persahabatan dengan tegas menolak narkotika dalam bisnisnya. Meskipun pembunuhan karena pengkhianatan masih menjadi tradisi. Bagi seorang Vito Corleone, membunuh untuk keadilan adalah sesuatu yang pantas dan halal.

Tak diragukan, reputasi Vito Corleone sebagai DON (gelar untuk orang yang agung dan sangat di hormati serta di segani baik kawan maupun lawan di dunia Mafia) terhadap wilayahnya dan anak buahnya sudah demikian disegani. Kata-katanya adalah hukum. Dan terkadang Vito mendapat panggilan yang sangat penuh kasih sayang, “Godfather”. Ya, Vito Corleone adalah Godfather yang sangat dihormati dan ditakuti, dicintai sekaligus dibenci. Corleone sendiri adalah nama wilayah asal Vito lahir di wilayah pinggiran yang dulunya sangat gersang.

Vito Corleone tidak membeda-bedakan orang yang mau ditolongnya maupun yang datang sendiri untuk meminta tolong. Jika dia berkata bisa, maka dia pasti akan menepati janjinya. Namun demikian orang yang ditolong tersebut juga harus bersedia menolongnya jika sang Don membutuhkannya. Itulah persahabatan ala Don Vito Corleone. Setiap orang yang datang padanya asalkan mau berkata “aku bersedia bersahabat denganmu” maka Don Vito akan memenuhi janjinya.

Demikiamlah Don Vito Corleone. Tokoh mafia ini dikisahkan di awal kisahnya telah kokoh menguasai wilayahnya. Selama kurang lebih 10 tahun terakhir, kelompok mafia yang dipimpinya hampir tidak pernah terjadi pertumpahan darah dengan kelompok lain. Semua tampak damai dan menjalankan bisnisnya masing-masing. Para kelompok mafia tersebut biasanya di kuasai oleh sebuah keluarga. Yang menjadi pucuk pimpinan tentu sang Don mereka.

Setiap Don memiliki seorang “asisten” yang di sebut Consigliori. Don Vito sendiri sebenarnya memiki seorang consigliori orang Sisilia asli bernama Genco Abbandando, namun dia sekarang sedang tergolek sakit dan meregang nyawa karena sakitnya, nyaris hampir 3 tahun. Untuk menggantikan kedudukannya, untuk sementara Don Vito menunjuk “anak angkatnya” yang bukan orang Sisilia namun memiliki kecakapan yang patut diperhitungkan bernama Tom Hagen. Tom sendiri adalah orang luar keturunan Jerman-Irlandia yang dibawa oleh Sonny sebagai temannya yang telah yatim-piatu dan memohon pada Don untuk mengangkatnya sebagai anak. Don tidak menuruti mengangkatnya sebagai anak namun mau mengasuhnya dan Hagen boleh tinggal dirumahnya, mendapat perlakuan yang sama dengan anak-anak Don yang lain. Hagen diasuh serta di sekolahkan di sekolah terbaik sesuai minatnya.

Don Vito sedang mengadakan pesta pernikahan putrinya Constanzia (Connie) pada hari Sabtu terakhir bulan Agustus 1945 yang tentu saja meriah dihadiri oleh semua orang “sahabat” Don atas undangan Don sendiri. Don Vito memiliki 4 orang anak. Anak pertama bernama Santino (Sonny), anak kedua bernama Frederico (Freddie) yang ketiga Michael yang keempat adalah Connie. Masing-masing memiliki karakter yang berbeda-beda. Sonny yang anak sulung, sangat temperamental gampang terbakar emosi dan kekejamannya sangat ditakuti. Freddie lebih manja dan senang main perempuan. Connie juga tipikal anak perempuan yang manja Sedangkan Michael cenderung pendiam juga pemikir. Paling berani menentang Don Vito diantara anak-anak yang lain. Namun meskipun begitu setiap kali keluar rumah, Michael selalu membawa prestasi yang membanggakan bagi Negara dan keluarga.

Pada pesta pernikahan itu semua berjalan lancar. Seluruh tamu merasa gembira demikian juga sang tuan rumah. Di sela-sela menjamu tamunya, Don Corleone juga menerima tamu dengan “kepentingan khusus”. Yaitu orang-orang yang datang untuk meminta bantuannya. Seperti biasa tentu sebuah “persahabatan” yang nanti harus dibalas jika waktunya tiba untuk membalasnya.

Sesudah pesta pernikahan usai, Don mengajak anak-anaknya kecuali Connie untuk menjenguk Genco dan memberikan penghormatan sebelum kematiannya di rumah sakit. Sesudah Genco meninggal Don Vito mengumumkan dia mengangkat Tom Hagen sebagai Consigliori yang baru. Meskipun hal itu tidak umum karena Hagen bukanlah orang Sisilia namun semua paham Don pasti memiliki pertimbangan yang tidak sembarangan.

Ketenangan Keluraga Corleone dalam menjalankan bisnis Mafianya mulai terusik saat Sollozzo, salah satu mafia kejam asal Turki yang di dukung oleh keluarga Mafia lain, Tattaglia mengharapkan bantuan pada Don Vito untuk mendukungnya dalam bisnis narkotika. Di Amerika sendiri terdapat 5 keluarga pemimpin kelompok mafia yang sangat di segani dan ditakuti. Don dengan lemah lembut menolaknya. Namun Sonny yang saat itu juga mendampingi Don mengeluarkan kata-kata penuh emosi yang tidak dipikir panjang. Sehingga secara jelas Sollozzo bisa menangkap bahwa Sonny adalah “celah”. Don sangat marah dengan apa yang dilakukan Sonny dan memperingatkannya dengan keras. Selang beberapa lama terjadi insiden yang menggemparkan seluruh kota. Don tertembak saat keluar dari kantornya sendiri dan gambarnya terpampang secara jelas dengan darah menggenang, tercetak di Koran-koran.

Seluruh keluarga langsung sibuk dengan penyelamatan Don Vito. Untunglah Vito bisa diselamatkan namun Freddie yang saat itu melihatnya langsung syok melihat ayahnya yang dikiranya mati. Semua anak-anak dan petinggi di kelompok Corleone langsung melakukan rapat darurat. Sayang semua orang yang dibutuhkan tidak bisa hadir. Luca Brasi tokoh yang paling kejam yang sangat membantu Don Corleone tidak bisa dihubungi. Begitu juga Tom Hagen. Akhirnya hanya Sonny dan pimpinan kelompok-kelompok “prajurit” yang akhirnya melakukan rapat darurat dirumah dan markas Don Vito, di Long Beach.

Robert Duvall as Tom Hagen (left) and Al Pacino as Michael Corleone (right)

Robert Duvall as Tom Hagen (left) and Al Pacino as Michael Corleone (right)

Sesuai dengan perkiraan, memang Sollozzo-lah otak dibalik semua insiden tersebut dan menyulut pertumpahan darah antar kelompok Mafia. Hal itu dipicu oleh tidak terimanya Sollozzo atas penolakan Don Vito pada tawarannya. Sollozzo sangat paham, jika Don Vito tidak membantunya maka dia dipastikan tidak bisa bergerak karena para hakim dan polisi di wilayah New York ada dibawah pengaruh Don Vito. Sollozzo menilai, Sonny sebagai anak tertua yang memiliki sifat emosional adalah celah yang bisa dimasukinya untuk bekerja sama dengan kelompok Corleone. Dengan membunuh Don Vito, celah tersebut tentu akan terbuka semakin lebar.

Sayangnya Don Vito bisa selamat. Dan rencana balas dendam atas penembakan terhadap Don Vito menjadi agenda utama kelompok Corleone. Setelah beberapa hari akhirnya diketahui bahwa Tom Hagen di Sandera oleh Sollozzo dan Luca Brasi sudah di tamatkan riwayatnya oleh salah satu anak Tattaglia dan juga Sollozzo. Ketika di bebaskan dan kembali ke Long Beach, Tom Hagen menceritakan bahwa Sollozzo ingin berunding dengan keluarga Corleone untuk masa depan bisnisnya serta mengharapkan kompromi. Sollozzo ingin berunding dengan salah satu anggota keluarga, dia memilih Michael karena selama ini Michel dianggap “bersih” dan tidak terlibat langsung dalam bisnis ayahnya. Selain itu Michael adalah orang yang tenang nyaris seperti Don Vito. Sehingga Sollozzo beranggapan Michael dipastikan tidak akan melakukan tindakan bodoh dengan melakukan balas dendam penembakan terhadap dirinya.

Dengan ditemani kapten Polisi hasil suapannya, Sollozzo akhirnya berunding dengan Michael. Di luar perhitungan Sollozzo, Michael yang tenang dan selama ini dianggap “banci” oleh kelompok mafia yang lain, ternyata bisa melakukan hal yang kekejiannya setara dengan Sonny dan Luca Brasi. Dia menyarangkan tembakan tepat di pelipis Sollozzo hingga peluru tersebut masuk dari sisi kepala kiri dan keluar dari sisi kanan. Beberapa detik kemudian disusul tembakan terhadap Kapten Polisi yang mendampinginya. Pertemuan yang dilakukan di salah satu bar di sudut kota itu langsung gempar oleh tembakan tersebut. Dengan cepat Michael meninggalkan TKP dan diasingkan ke Sisilia. Lantas apa yang terjadi selanjutnya? Tentu saja kisah seru antar Mafia serta intrik politik dan kekejaman yang terjadi didalamnya.

Tentang Mafia

Mario Puzo, dalam buku ini menerangkan tentang arti Mafia.

Bahwa kata “Mafia” aslinya berarti tempat pengungsian. Kemudian kata itu menjadi nama organisasi rahasia rahasia yang muncul untuk berjuang melawan penguasa yang menghancurkan negeri ini dan penduduknya selama berabad-abad.( hal.496)

Dalam organisasi Mafia juga berlaku hukum tutup mulut yang disebut OMERTA, orang yang melanggarnya sudah dipastikan dia akan mendapat ganjaran setimpal yaitu kematian. Omerta ini sudah menjadi semacam “agama” di Sisilia. Jadi jika Anda sebagai orang asing dan kebetulan di sana dan kemudian bertanya pada penduduk setempat arah jalan yang benar, jangan harap mendapat jawaban yang benar.

Mungkin karena dalam buku ini banyak terdapat istilah dalam bahasa Italia, penerjemahan buku ini tidak seluruhnya diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Namun sayang tidak ada halaman khusus yang menjelaskan tentang segala istilah yang tercantum di buku ini. Kosa kata seperti: Pezzonovante,Caporegime,Regime dan lain-lain banyak bertebaran di sepanjang buku. Meskipun sudah dijelaskan sambil bercerita mungkin akan lebih baik jika dibuat semacam kumpulan kosakata dan artinya. Saya tidak tahu hal itu tidak ada apakah karena request dari Penerbit pertamanya atau memang pihak Gramedia menganggap hal itu tidak perlu.

Selain itu agak sedikit membingungkan saat penerjemahan tentang anak-anak Don Vito. Sudah jelas-jelas anak Don Vito adalah 4 orang, 3 putra dan 1 putri dan Michael di jelaskan sebagai anak ke-3, namun ada penjelasan :

Michael Corleone putra bungsu Don dan satu-satunya anak yang menolak arahan ayahnya (hal. 19).

Sedangkan di halaman lain juga di jelaskan:

Dan ia (Michael) baru pulang pada hari pernikahan adik perempuannya untuk memperkenalkan sang calon istri pada mereka, gadis Amerika yang tak menarik (hal.21)

Bukankah putra bungsu adalah anak terakhir? Lantas kenapa masih ada adik? Barangkali lebih tepat jika jika penjelasan tetap konsisten bahwa Michael adalah putra ke-3. Apakah memang dalam keluarga Mafia, anak putri “tidak dianggap”? saya belum tahu masalah itu.

Membaca buku tentang Mafia ini, kita akan juga sedikit mempalajari taktik berperang dan seni memimpin ala Mafia. Dan sedikit membuka wawasan bahwa ternyata seorang anggota Mafia harus menghormati istri dan melindungi keluarganya. Hal itu ditunjukkan sangat jelas oleh Don Vito. Meskipun banyak anggota lain yang melanggar.

Tapi bagaimanapun karena Mafia identik dengan kekerasan dan pertumpahan darah serta narkotika maka kadang meskipun sebaik apapun jika seseorang sudah di cap sebagai Mafia dia akan tetap ditakuti jika hidup di tengah masyarakat. Namun sebenarnya dalam dunia Mafia sendiri, komitmen,omerta,saling menghargai, berhati-hati dengan kawan maupun lawan serta membunuh dengan alasan demi keadilan dan karena pengkianatan adalah poin pentingnya.

Di Indonesia sendiri juga ada istilah Mafia Peradilan, Mafia minyak, mafia senayan, dan lain-lain, bagaimanakah kode etik dalam kelompok Mafia tersebut? Hemm…sepertinya tidak perlu dijelaskan ya..

Mario Puzo, Image taken from www.co.uk

Mario Puzo, Image taken from http://www.bbc.co.uk

Saat buku ini booming, Mario Puzo sang penulis sempat di curigai bahwa dia juga terlibat atau pernah terlibat sebagai anggota Mafia, karena dia menceritakan dengan begitu detil seluk beluk tentang dunia Mafia di Amerika. Namun Puzo membantahnya dan menyatakan bahwa semua hal yang dituliskan hanya berdasarkan studi literatur. Pengen tahu sedetil apakah dunia mafia? Dan ingin mempelajari seni memimpin mafia ala Don Vito Corleone? Anda tak akan mendapat esensi yang saya maksud jika melewatkan satu kalimat apalagi satu halaman dari buku ini.

Puzo menulis dengan teknik maju mundur dalam penceritaan kisah The Godfather ini. Untuk versi film-nya berhubung saya agak lupa-lupa ingat jadi saya memilih tidak menjelaskan. Apalagi membanding-bandingkannya. Jika yang penasaran tentang bagaimana penggambaran kekejaman serta strategi perang antar kelompok Mafia dalam film yang di besut Francis Ford Coppola tersebut, Anda bisa mencari literaturnya di internet. Lumayan sebagai acara nostalgia, kita putar kembali film-film lama yang melegenda. Versi film ini sendiri mendapatkan piala Oscar meskipun Marlon Brando yang memerankan Don Vito sebenarnya sangat membenci peran sebagai Bos Mafia.

Cheerz,

-Evi-

Komentar
  1. echy mengatakan:

    aku dah baca buku ini tahun lalu, tapi kayaknya gak rugi untuk dibaca ulang, termasuk jenis wajib punya dan tentu must read.

    btw, aku lagi baca trilogy-nya thomas harris yg the silent of the lamb, udah baca wid ?

  2. eviwidi mengatakan:

    Silent of the Lamb? wah aku belum baca kalo bukunya, tapi udha pernah liat Film-nya kalo gak salah di bintangin sama si Jodie Foster, pasti versi bukunya lebih keren…ya gak?

    ntar deh kalo lagi lowong aku hunting bukunya..

  3. solarismania mengatakan:

    gw blum baca bukunya tuh, tapi film sih udah semua… lalu mengenai ini :

    “Pembalasan dendam adalah hidangan yang paling lezat kalau disajikan dalam keadaan dingin” (hal. 618)

    kayaknya memang selalu terjadi di tiap akhir film ya, contoh konkritnya pas Michael menghukum Carlo dan membunuh 5 keluarga di NY.

    btw, di blog ku ada lagu Manhattan Serenade (itu loh, pas Tom Hagen mendarat di California mau bantuin Johnny Fontane…

  4. Daniel mengatakan:

    Siang, saya mau nanya nih novel Godfather (Mario Puzo) tuh kan sama dengan filmnya, tapi filmnya Godfather part II dan III juga apa ada novelnya?
    Apa sudah ada terbitan bahasa Indonesianya…??

  5. Nisa mengatakan:

    bagus banget…. tapi aku belum liat film nya… buku ya tebel jadi memerlukan waktu yang agak lama untuk bacanya maklumlah anak sekolah….

  6. Don Ortega mengatakan:

    kalian enak udah pada lihat sama baca bukunya, biar pun yang nggak pernah baca bukunya ada yang sudah nonton flimnya dan sebaliknya. sedangkan aku TV tak punya mau belih buku tak ada duit, jadi tak tahu apa-apa soal The Godfather. Makanta aku bingung mau ngisih komentar apa?

  7. chai mengatakan:

    makisi loh atas tulisan y. berkat tulisan mas ini sy jd bnyk tahu tentang buku godfather. dan sy juga sudah membeli buku y lho

  8. Don Galuh mengatakan:

    Saya menangkap tentang perbedaan yang ada antara kalimat di halaman 19 dan halaman 21.
    Perhatikan pada kalimat halaman 19, disana tertulis “Michael Corleone PUTRA bungsu…”
    Disana penulis mengatakan Putra, jadi sangat jelas ia tetaplah anak ke-3.
    Coba Anda bedakan perbedaan arti dari “Putra Bungsu DENGAN Anak Bungsu?
    Putra Bungsu adalah anak laki-laki terakhir, sedangkan Anak Bungsu adalah anak terakhir dari keseluruhan anak lelaki dan perempuannya.
    Putra Bungsu bisa memiliki adik perempuan, Putri Bungsu bisa memiliki adik laki-laki.
    Ini permainan bahasa kelas atas.

  9. grosir tanah abang mengatakan:

    cerita the godfather memang bagus.. tapi belum pernah baca bukunya.. sukses selalu

  10. vitalic mengatakan:

    terima kasih sangat kepada penulis rangkuman..

  11. Henri mengatakan:

    Resensi nya Brow..?pke Word dwong..aku lg da tugas,Please..:)

  12. Rico Jandu mengatakan:

    “Selain itu agak sedikit membingungkan saat penerjemahan tentang anak-anak Don Vito. Sudah jelas-jelas anak Don Vito adalah 4 orang, 3 putra dan 1 putri dan Michael di jelaskan sebagai anak ke-3, namun ada penjelasan :

    Michael Corleone putra bungsu Don dan satu-satunya anak yang menolak arahan ayahnya (hal. 19).

    Sedangkan di halaman lain juga di jelaskan:

    Dan ia (Michael) baru pulang pada hari pernikahan adik perempuannya untuk memperkenalkan sang calon istri pada mereka, gadis Amerika yang tak menarik (hal.21)

    Bukankah putra bungsu adalah anak terakhir? Lantas kenapa masih ada adik? Barangkali lebih tepat jika jika penjelasan tetap konsisten bahwa Michael adalah putra ke-3. Apakah memang dalam keluarga Mafia, anak putri “tidak dianggap”? saya belum tahu masalah itu.”

    Menurut sy sudah benar dikatakan bahwa Michael merupakan Putra Bungsu artinya dari ketiga saudaranya dia merupakan anak laki2 terakhir. Conie memang anak terakhir dari Don Vita Corleone, tp dia perempuan, jadi sudah paslah, mungkin itu sedikit penjelasan. Grazie🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s