Review buku How I Sold 1000 CDs In 30 Days dan CD Provovative Proactive

Posted: April 12, 2009 in Album lagu, Resensi Buku Non Fiksi, Review Buku Non Fiksi
Tag:, , ,

0996How I Sold 1000 CDs In 30 Days

Pandji Pragiwaksono

Harga : Rp 30.000,- *

Ukuran : 13.5 x 17 cm

Tebal : 126 halaman

Terbit : Januari 2009

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)

Soft Cover

CD Album:

Provocative Proactive – Pandji

Harga : Rp.50.000,-

Tracks : 12 track + 2 bonus tracks

Rilis : 2008

Produksi : Rizky Record

Distribusi : PT. Remix Distribusi

www.provocative-proactive.com

Bagi yang pernah melihat acara “Kena deh..!” di tv atau sering mendengar radio Hardrock FM Jakarta, tentu nama Pandji tidak akan asing di telinga Anda. Sebagai seorang entertainer, Pandji merupakan salah satu favorit saya.

Meskipun tidak selalu mengkuti acara-acara yang Pandji buat, tapi lompatan-lompatannya di dunia entertainment tetap saya perhatikan. Dan saya salut banget dia berani berkiprah di musik hip-hop yang tentu akan memerlukan ekstra kerja keras mengingat musik Indonesia sekarang sudah dikuasai oleh musik-musik pop semacam Peterpan,Samson,Afgan…

Saat berbincang di Bentara Budaya beberapa waktu lalu, saya sempat bertanya padanya, kenapa sih Ndji kok kamu bikin album hip-hop? Yakin? Dan Pandji dengan cukup serius menjawab,bahwa dia yakin dengan Albumnya dan apa yang telah diperbuat dan dihasilkan sekarang adalah karena dorongan dari istrinya Gamila, yang mengingatkan dia supaya berkarya, tidak hanya bekerja. Ya, berkarya! Itulah poin utama Pandji membuat Album Provocative Proactive.

Dan karena menyukai musik hip-hop maka segala usaha akhirnya membuahkan hasil, dengan tidak mengikuti musik hip-hop yang sudah ada seperti Soul ID, Iwa K dll, Pandji bererja sama dengan orang-orang di luar genre hip-hop, dan berhasil menggandeng Tompi dan Angga “Maliq n D’Essential” Puradiredja untuk masuk ke albumnya.

Ketika karya tersebut sudah terwujud, tentu Panji tidak tinggal diam, inovasi-inovasi marketing untuk pemasaran Albumnya yang didapat dari buku-buku marketing dari pakar-pakarnya segera menjadi “panduan” dalam gerakannya.

Seth Godin dan Malcolm Gladwell nama mereka ada di antara buku-buku yang menjadi inspirasinya. What next? Album Pandji memang akhirnya terjual dengan segala teori yang didapat dari buku-buku itu.

Tak ingin menyimpan sendiri keberhasilannya, Pandji membuat buku tentang proses penjualan CD-nya itu dengan judul How I Sold 1000 CDs In 30 Days.

Buku ini sebenarnya sudah ada dalam bentuk ebook yang bisa diunduh di blog-nya www.pandji.com, tapi versi bukunya lebih detil pembahasannya.

Buku ini, lebih banyak mengupas langkah-langkahnya yang terinspirasi dari buku-buku marketing tersebut yang terbagi menjadi 7 pokok bahasan:

  1. Find a niche, terinspirasi dari buku karya Seth Godin yang berjudul Purple Cow, membahas mengenai perbedaan dan keunikan membuat albumnya naik ke permukaan.
  2. Learn from the outside! And the Box Office Methode, terinspirasi dari buku I Can Cre8 & Tipping Point karya Malcolm Gladwell. Mambahas mengenai keinginan untuk belajar dari dunia yang berbeda membawa ilmu baru bagi Pandji.
  3. Trade up! Terinspirasi dari buku Treasure Hunt karya Michael J. Silverstein, membahas mengenai harga album Pandji yang relative mahal justru membawa keberuntungan.
  4. Add Value! Terinspirasi dari buku Free Prize karya Seth Godin dan Fake Factors karya Sarah MC Cartney, membahas mengenai cara Pandji melawan pembajakan.
  5. Tell a Story! Terinspirasi dari buku Marketers are Liars karya Seth Godin, mengenai cara Pandji memasarkan albumnya, tidak dengan iklan tapi dengan diomongin orang.
  6. Involve The Market! Terinspirasi dari buku We are smarter than me, karya Barry Gilbert & John Spector and thousand of contributors. Berbicara mengenai keikutsertaan pembeli dalam proses bermusik sehingga memperkuat jaringan pembeli album Pandji.
  7. Don’t make Hits! Terinspirasi dari Jay Z. Mengenai cara Pandji membuat orang mau membeli CD-nya.

Sejak memegang buku Pandji ini, saya sedikit mendapat pencerahan mengenai cara-cara marketing, kerena saat ini saya sedang berkecimpung di profesi ini. Meskipun saya tidak lagi menggemari musik hip-hop seperti saat saya berumur ‘twenty something’ tapi memang lagu-lagu yang ditawarkan Pandji cukup menggelitik telinga. Jadi saya bisa sedikit belajar dan berpikir cara Pandji memasarkan melalui buku yang ditulisnya.

Berhubung Pandji juga seorang blogger, dia menulis buku ini seperti layaknya blog, dan memang buku ini merupakan posting-posting yang sebelumnya telah ada di blog-nya dan tak ketinggalan juga komen-komen dari pengunjung blog-nya.

Dan inilah pertama kalinya saya membaca buku yang seluruh text-nya sama. Meskipun ini menabrak EYD karena kata-kata asing ataupun istilah asing yang seharusnya dibuat miring, tidak berlaku di sini. Saya tidak tahu ini permintaan dari Pandji sendiri atau bagaimana. Karena dari kebanyakan buku-buku terbitan GPU yang pernah saya baca,sangat mematuhi EYD.

Ada salah satu track yang ada di albumnya Pandji yang berjudul Mulanya Biasa Saja Feat Angga yang jadi track favorit saya.

Lagu ini intronya adalah lagu lawas yang kalo gak salah dulu dinyanyikan oleh Meriam Bellina. Lagu ini menurut saya agak bersebarangan dengan lagu pertama yang berjudul Bajak Lagu Ini, karena dalam lagu pertama itu Pandji menyerukan hidup “tidak menganut paham rutinitas” yang dalam salah satu liriknya terdapat kalimat “Gimana mau berkembang? Kita harus hajar zona aman, Slama masuk jam 9, pulang jam 6, uang masuk tiap akhir bulan, AMAN”

Sedangkan di lagu Mulanya Biasa Saja justru menceritakan kehidupan kantoran yang pasti berada dalam zona rutinitas dan AMAN.

Petikan dialog antara Pandji dan Angga di track ini:

Pandji : Angga..

Angga : Ya Dji..

Pandji : Mau nanya nih gue..

Angga : Apa man?

Pandji : Apa sih yang lo liat dari perempuan man?

Angga : Fisiknya dulu dong…

Pandji : Fisiknya?

Angga : Pertama-tama iya..

Pandji : Setelah itu?

Angga : Baru hatinya…

Pandji : Okay, sekarang pertanyaan selanjutnya…siap-siap yaa…Apa yang elo liat dari LAKI LAKI?

Angga : ??????!!!???

Ayo coba tebak-tebak buah manggis, track itu isinya tentang apa…hehehhhe…

Dan aku baru tahu, ternyata suara Angga saat ngomong di track ini terdengar begitu halus bagai beledu…(jadi teringat gambaran suara Edward Cullen..hihihii..).

Ini buku dan CD lagu kedua, setelah sebelumnya yang saya baca dan dengar CD albumnya adalah buku dan CD-nya Dewi Lestari yang berjudul Rectoverso. Secara konsep memang beda sih..kalo Dewi CD-nya adalah proyeksi dari bukunya dan merupakan satu kesatuan tapi tetap bisa dinikmati meskipun secara terpisah, jika buku Pandji adalah proses penjualan CD albumnya.

Dan saya (sekali lagi) salut untuk Pandji yang mendonasikan 50% dari penjualan CD-nya untuk anak-anak yang menderita kanker melalui yayasan www.c3friends.com, memang jika membantu secara keseluruhan untuk menyembuhkan kanker membutuhkan biaya yang tidak sedikit, jadi apa artinya 25 ribu bagi penderita kanker itu?

Pandji menjelaskan:

“Orang-orang lupa bahwa penderita kanker itu bukan hanya harus diobati penyakitnya, tapi juga hatinya. Uang Rp. 25.000 bisa dipake buat beli krayon dan kertas. Krayon dan kertas bisa dipake menggambar berjam-jam dan (percaya atau tidak) selama berjam-jam mereka bahagia dan lupa bahwa mereka membawa penyakit mematikan” (hal. 99)

Jika Anda peduli untuk berbagi dengan orang lain, mungkin Anda bisa lebih banyak berbuat daripada yang telah Pandji lakukan, namun jika ingin membuat langkah kecil membeli buku dan CD-nya Pandji ini adalah salah satunya.

Cheers..

-Eviwidi-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s