Review Buku Thank You For Smoking, Pertobatan Seorang Juru Bicara Industri Tembakau

Posted: Mei 25, 2009 in Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi
Tag:, , , , , , ,

JCXN4149bigThank You for Smoking

Terima Kasih Sudah Merokok

Christopher Buckley

Harga : Rp 40.000,- *

Ukuran : 11 x 18 cm

Tebal : 416 halaman

Terbit : April 2009

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Soft Cover

Industri rokok di Indonesia adalah salah satu Industri besar yang mengantarkan pemiliknya menjadi orang-orang kaya. Di beberapa daerah yang menjadi sentra industri ini mampu menyerap bagitu banyak pegawai yang kebanyakan adalah penduduk setempat.

Meskipun industri ini secara terang-terangan sudah memasang peringatan di setiap bungkus produknya, toh pelanggannya masih begitu banyak. Demikian juga kampanye bahaya merokok yang banyak didengung-dengungkan oleh lembaga atau kelompok yang concern dengan bahaya merokok yang tetap semangat dengan misinya.

Tapi kehebohan industri rokok dan penentangnya di Indonesia, belum ada yang seheboh seperti yang terjadi di Washington – USA dalam buku karya Christopher Buckley yang berjudul Thank You For Smoking – Terima Kasih Sudah Merokok. Sebuah buku lama yang terbit lagi dalam bahasa Indonesia tahun ini, dengan sentuhan baru tentunya meskipun nama tokoh-tokohnya masih sama seperti saat buku ini pertama kali terbit tahun 1994 yang lampau.

Thank You For Smoking juga sempat difilmkan pada tahun 2006 dibintangi Aaron Eckhart, Katie Holmes,Robert Duvall dan Adam Brody.

Tokoh utama dalam buku ini adalah Nick Naylor. Nick adalah seorang juru bicara industri tembakau. Tentunya menjadi juru bicara sebuah produk yang menjadi pertentangan di masyarakat dan dunia kesehatan adalah sebuah tantangan berat, tapi Nick menyukainya. Nick ini adalah juru bicara yang sangat hebat. Saking hebatnya, seandainya saja dia berbicara pada orang-orang kalau kalau kadal itu adalah bayi komodo, besar kemungkinan banyak orang akan percaya padanya. Tetapi ternyata kehebatan Nick ini, tidak mampu mengambil hati bos-nya Budd Rohrabacher (BR) yang sudah gatal ingin menyingkirkan Nick dari posisinya.

Sebagai juru bicara sebuah industri besar dan selalu berhubungan dengan media dan orang-orang penting, tak lengkap jika tidak ada ‘teman-teman’ yang menemaninya. Nick memiliki 2 orang sahabat, Polly,seorang juru bicara assosiasi bir dan satunya lagi adalah Bobby Jay Bliss, seorang jubir assosiasi senjata api. Sebuah persahabatan yang disebut Mod Squad, Mod adalah singkatan dari ‘Merchant of death-Pedagang maut. Kerena anggotanya mewakili industri-industri yang bisa menjadi topik pembicaraan hangat di belahan bumi manapun, karena akan selalu dihubung-hubungkan dengan data statistik kematian manusia.

Mengetahui dirinya ingin disingkirkan BR, Nick dalam dalam salah satu talk show tv terkenal yang dipandu Oprah Winfrey, mengumumkan bahwa assosiasinya akan mengalokasikan dana sebesar $5 juta untuk kampanye Anti Rokok. Rupanya ide gila Nick mendapat restu dari pimpinan tertinggi assosiasi yang biasa di sebut Kapten dan yang pasti membuat BR semakin geram, karena pimpinan tertinggi tersebut justru menaikkan gaji Nick dua kali lipat.

Berita besar yang sudah diumumkan Nick di acara Oprah, menimbulan reaksi beragam dari banyak orang dan menarik bagi dunia media, dan lagi-lagi Nick diundang dalam acara talk show yang tak kalah terkenal yang dipandu oleh Larry King. Dalam sesi terakhir wawancara ada sesi menerima telepon dari pemerhati acara itu, sayangnya bukan pujian atau sekedar kritik pedas yang didapat Nick, tapi sebuah ancaman yang akan mengancam keselamatannya.

Mendapati hal itu, Kapten dan pejabat assosiasi tembakau mengambil tindakan untuk mengadakan pengawalan kemanapun Nick pergi,juga saat Nick mendatangi wawancara dengan seorang wanita cantik dan seksi berdada sentosa Heather Holloway, wartawan Washington Moon, sebuah koran terkenal.

Wartawan ini selain cerdas –dan sedikit rese- ternyata juga memanfaatkan kecantikannya untuk bercinta dengan orang-orang diwawancarainya, termasuk Nick. Sebagai informasi tambahan, Nick Naylor pernah menikah kemudian bercerai. Dia memiliki seorang putra yang tinggal bersama mantan istrinya. Sebagai duda yang masih penuh semangat melihat Heather yang seksi dan pandai merayu bukan salah Nick kalau akhirnya wawancaranya berakhir di ranjang.

Dalam salah satu kesempatan, Nick mampir di sebuah Café, Nick rupanya tidak menyadari bahaya yang mengancamnya, hingga saat seseorang yang tak dikenalnya dan pura-pura jadi gelandangan mengantarkannya pada sekelompok orang yang menculik dan memberikan siksaan yang tidak tanggung-tanggung, sekujur tubuhnya ditempeli plester nikotin dalam dosis yang besar-besaran sehingga menyebabkan Nick dalam kondisi Paroxysmal atrial tachycardia, yang dianalogikan seperti melaju hampir seratus kilometer per jam dan tiba-tiba memindahkan persneling ke gigi satu. Jantung diminta melakukan apa yang tidak biasa dilakukannya, yaitu memompa dengan kecepatan gila-gilaan. (Hal. 176).

Apa yang akan terjadi pada Nick selanjutnya?

Sebuah buku yang sangat menarik. Dengan mengusung tema yang masih menjadi perdebatan tentang benda seukuran 9 cm yang mengandung Tar serta Nikotin, yang sanggup merusak paru-parumu, apalagi kalau bukan rokok.

Sebagai juru bicara yang sangat hebat, kita akan menemukan argumen-argumen ala Nick yang sangat bisa membuat kita berpikir dan tentu saja dalam kaitannya Nick menjalankan profesinya sebagai juru bicara tembakau yang harus bisa bicara selogis mungkin dan memberikan contoh-contoh nyata yang bisa mempertahankan industri rokok sebagai industri yang legal dan wajar.

Dan sebagai pelobi juga, Christopher Buckley memberikan dialog yang sangat-sangat cerdas pada Nick dengan salah seorang mantan bintang iklan rokok yang menderita paru-paru amat parah. Nick diminta BR untuk menyuap orang tersebut agar tidak lagi menjelek-jelekkan industri tembakau dan lobinya berakhir sukses. Dialog ini tidak akan Anda temukan dalam buku-buku manapun.

Sebagai manusia biasa, tentu saja Nick juga bisa menemukan ‘hidayah’, tapi tentu saja hidayah itu tidak akan seru bila datang tiba-tiba begitu saja, dan yang pasti tidak pakai acara disambar petir atau keluar ulat dari wajahnya seperti cerita sinetron-sinetron yang ada di tv kita!

Cheerz

-Eviwidi-

Komentar
  1. a3u5z1i mengatakan:

    Iya, terakhir kali hunting ke toko buku sempat ngeliat buku ini..
    Tapi mata lagi tertuju ke buku Lonely Planet, jadi ane kagak beli dulu..
    Thanks reviewnya..

  2. nusantaraku mengatakan:

    Wah…. semoga buku ini meningkatkan motivasi kita untuk bersama-sama berjuang untuk melakukan perencanaan jangka panjang penutupan pabrik rokok sejak dini demi masa depan bangsa

    • eviwidi mengatakan:

      agak susah kalao ditutup pabriknya..yaa..secara..mereka kan gede bayar pajaknya ke Pemerintah…capek deh..kalo berurusan sama birokrasi dan kapitalis…

  3. ahahha mengatakan:

    hahah merokok dapat merugikan kesehatan tidak merokok merugikan pemerintah

  4. cahy mengatakan:

    bagus bgt q uda nonton filmnya, trus maw nyari bahan buat nulis paper tentang judul fim ini.. thank u 4 smoking.. mhn bantuannya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s