Review Buku Metropolis-Awas Banyak ‘Curut’ Berkeliaran!

Posted: Juni 12, 2009 in Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi
Tag:, , , , , , , , ,

metro_cover_by_angin_keringMetropolis

Penulis : Windry Ramadhina

ISBN:9789790257146

Rilis:2009

Halaman:332p

Penerbit:Grasindo

Bahasa:Indonesia

Harga : Rp.54.900

Jangan terkecoh dengan kavernya. Meskipun desainnya mengingatkan kita akan koran-koran yang berisi berita-berita kriminal, dengan kertas buram dan cetakan yang sering  kita jumpai kadang tintanya berceceran.  Metropolis bukanlah nama sebuah koran.  Sampai halaman 10  pembaca belum diberi tahu, apa sebenarnya Metropolis itu. Windry memberi tahu bahwa Metropolis adalah nama sebuah pub, ketika  pembaca sampai di tengah buku.

Novel ini, masuk dalam kategori drama kriminologi. Kisah yang diangkat adalah seputar dunia narkotika, mafia,konspirasi, ditambah dendam dan sedikit unsur roman. Sebuah kategori yang sangat jarang dimasuki oleh penulis-penulis lain di negeri ini. Jadi bisa dibilang ini salah satu genre yang layak untuk dicermati. Dengan riset yang lumayan, Windry mengajak pembacanya untuk menikmati cerita kriminal lokal  dengan tokoh-tokoh yang unik dan tidak hitam putih.

Jika Anda sering membaca komik detektif Conan, kisah teka-teki pembunuhan tentu sudah tidak asing lagi. Adalah Agusta Bram, seorang  polisi yang menjadi tokoh utama dalam cerita Metroplis ini. Latar belakang Bram hanya disampaikan sekilas oleh penulisnya. Bahwa dia adalah anak dari seorang pecandu narkoba yang mati ditembak karena tidak bisa bayar utangnya. Ibu Bram meninggalkannya saat masih kecil dan belum mengerti hidup itu untuk apa, bersama seorang ayah  pecandu yang akhinya mati saat Bram juga masih belum terlalu besar untuk bisa hidup mandiri. Tidak diceritakan bagaimana dia bisa masuk kepolisian.

Di kepolisian ini, Bram masuk dalam divisi Sat Reserse Narkotika Polda Metro Jaya.  Agak aneh, di sini diceritakan Bram masuk kesatuan ini karena permintaan sendiri, bukan ditugaskan oleh atasannya. Tapi sudahlah namanya juga fiksi. Alasan masuknya Bram di kesatuan itu tidak lepas dari latar belakang kehidupannya yang merupakan korban dari efek buruk narkoba yang telah mencerai beraikan keluarganya. Dan kematian ayahnya,  “Demi ayahku yang sudah mati…” yang juga tertulis di bagian depan buku ini, tapi tentu saja hal itu tidak disampikan secara eksplisit kepada atasannya.

Bram bukan polisi yang ”bersih” dalam artian bukan polisi yang lurus menunaikan tugas sesuai buku panduan, mematuhi atasannya dan bukan yang terbiasa mengatakan “Siap Pak” atau “Siap Komandan” bila mendapat tugas dari atasannya seperti yang sering kita temui di Film maupun cerita kehidupan nyata. Tapi dia memiliki caranya sendiri. Dia bisa berkompromi dengan penjahat buruannya bila dia bisa memberikan sesuatu yang setimpal, semisal informasi penting di dunia narkotika.

Alkisah, ada 12 sindikat  geng narkoba yang menguasai wilayah Jakarta. Sindikat ini sangat kuat selama beberapa tahun dan tidak tersentuh hukum. Namun saat ini beberapa pemimpin geng tumbang satu persatu dengan kematian yang tidak wajar. Salah satu pemimpin geng yang cukup disegani, Leo Saada penguasa wilayah 10, mati di jalan tol karena kecelakaan. Tentu bukan kecelakaan biasa. Setelah sebelumnya pimpinan geng besar yang lain penguasa wilayah  11, Maulana Gilli terkena luka tembak dari jarak jauh.  Awalnya ada analisa Gilli mati karena di tembak geng Saada, karena hal itu sudah biasa, perang antar geng yang berujung saling bunuh lawan. Tapi begitu Leo Saada meninggal, kemudian disusul kematian Ambon Hepi penguasa wilayah 4, maka indikasi dan teka-teki adanya pihak luar yang ingin menghancurkan sindikat 12 semakin kuat.

Bram semakin ingin menguak apa yang sebenarnya terjadi. Selama masa penyelidikan itu, ada pergantian pimpinan di tubuh kesatuannya. Pimpinan yang lama Moris Greand pensiun dan digantikan oleh Burhan D. Saputra yang “kebetulan” adalah seteru Bram.  Jadi jangan heran nanti Bram tidak pernah mermanis-manis kata selama berdialog dengan atasannya ini.

Selama pengungkapan kasus pembunuhan geng-geng narkotika ini, Bram ditemani  asisten, seorang Polwan bernama Erik. Satu demi satu petunjuk diselidiki. Dimulai dengan seorang wanita bernama Miaa (ingat pakai ‘a’ dobel) yang selalu muncul dalam setiap kasus kematian pimpinan geng tersebut. Miaa diketahui ternyata adalah mantan polisi yang pernah juga menangani kasus narkotika namun dipecat oleh atasannya. Kematian demi kematian itu akhirnya membuat para pimpinan geng merasa ada sesuatu yang harus dibicarakan. Akhirnya pimpinan pengganti serta pimpinan asli yang tersisa dari geng 12 itu melakukan pertemuan secara rahasia. Bram ikut dalam pertemuan itu secara sembunyi-sembunyi atas tawaran Ferry Saada (pengganti Leo Saada). Tapi akhirnya pertemuan itu tidak mencapai kesepakatan apapun karena Blur, pemimpin wilayah 6 ternyata mengetahui keberadaan Bram di pertemuan itu. Bram lolos dari sindikat itu karena dijamin oleh Ferry.

Masalah semakin rumit, dan petunjuk-petunjuk baru bermunculan apa yang sebenarnya terjadi?

Inilah novel kriminal karya penulis negeri sendiri  yang cukup menarik. Jika Anda telah membaca The Godfather, komik detektif Conan  dan lain-lain punya orang luar, keberadaan novel ini seperti angin segar dalam dunia penulisan novel Indonesia. Windry dengan berani mengambil cerita tentang kepolisian yang selama ini jarang disentuh.  Terlepas dari beberapa hal yang agak aneh, karena membaca novel ini, jika dibayangkan seperti menonton film-film semacam Remington Steel, The X-File,Hunter atau NYPD Blue. Jadi sepertinya tidak benar-benar kondisi riil bagaimana cara polisi kita menangani kasus narkotika. (Apa karena Windry tidak berani?).

Dan seperti  yang dikatakan Bram saat menginterogasi Miaa perihal keberadaan Miaa di lokasi kejadian ketika Soko Galih, penguasa wilayah 9 yang mati karena dilempar dari jendela,”Jangan bilang itu cuma kebetulan, Miaa. Aku tidak akan percaya. Aku melihatmu pada pemakaman Leo, juga di kompleks Ambon Hepi terbunuh. Kebetulan tidak terjadi tiga kali. Tiga kali terlalu banyak.” (hal.75).

Kesalahan penulisan ‘frustasi’ yang seharusnya ‘frustrasi’ muncul di halaman 167,215,234,239 dan 320. Kalau itu suatu kebetulan (kebetulan salah ketik maksudnya), dia  tidak akan muncul 3 kali bahkan lebih, iya kan Windry?

Masalah dunia narkotika yang seharusnya menjadi topik  utama, sepertinya juga masih kurang dalam penyampaiannya, jadi nyaris keberadaanya masih seperti yang orang awam ketahui. Barangkali jika sedikit diungkap seluk beluk narkoba, juga efek buruk narkoba dan dampaknya  di masyarakat dan keluarganya (selain cerita ayahnya Bram) mungkin akan lebih mengena. Tapi memang sepertinya yang menjadi fokus utama novel ini adalah cerita intrik antar geng dan permasalahan orang-orangnya, bukan narkotikanya dan efek buruknya. Ya itu sah-sah saja. Yang jelas buku yang satu ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Dengan gaya penulisan kalimat yang pendek-pendek, tulisan Windry terasa lincah dan tidak membosankan juga karena banyaknya ‘curut’ yang berkeliaran…:).  Sebagai orang awam, saya berharap semoga Windry mau menulis lagi kisah kepolisian yang lain dengan sentuhan lokal dan menyampaikan bagaimana yang sebenarnya cara kepolisian kita menangani sebuah kasus.

Cheers,

-Eviwidi-

Komentar
  1. wulan sari mengatakan:

    buku nya sip decc………………….toi munkin terlalu banyk tokoh2 jd kadang2 bingung juga
    andira capa?johan capa? kadang sempet inget2 sejenak

    tpi yang suka dec.conan wajib bca!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s