Review Buku Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen

Posted: Juni 23, 2009 in Resensi Buku Non Fiksi
Tag:, , , ,

115-08-25570Cacatnya Harian Pidi Baiq: Drunken Molen

Oleh: Pidi Baiq

ISBN:9789797528980

Rilis:2008

Halaman:212p

Penerbit:  DAR Mizan

Bahasa:Indonesia

Harge : Rp. 34.000,-

—————————————-

Inilah ini, tulisan semacam review atau apalah setelah membaca bukunya Pidi Baiq yang punya judul Drunken Molen.  Itulah itu, buku Baiq yang baik dan akan baik-baik saja jika tidak dibaca, tapi akan lebih baik jika sudah dibaca. Membacanya tidak perlu berpikir keras seperti membaca buku filsafat yang berat.  Karena eh karena hanya semalam saya sudah sanggup membereskannya.  Dan inilah ini sekali lagi, sejenis reviewnya.

Saya belum membaca buku Pidi Baiq yang sebelumnya yang berjudul Drunken Monster, juga belum memegangnya, karena bagaimana bisa membaca, memegang saja saya belum…

Ini adalah cacatan catatan harian Pidi Baiq. Adalah seorang ayah dari 2 orang anak yang bernama Timur dan Bebe, dan suami dari seorang Istri bernama Rosi.

Buku ini berisi delapanbelas cerita dalam kehidupan sehari-hari seorang Pidi Baiq. Dengan penulisan yang sangat berani menerjang EYD, karena kalau menerjang ombak pantai selatan saya tidak yakin Pidi Baiq berani. Kalau hanya untuk gaya-gayaan atau untuk menarik perhatian ratu pantai selatan saya masih yakin Pidi Baiq tidak akan mau, walaupun jika dibaca dari tulisannya saya agak meragukan kewarasannya.

Jika Anda tidak terkekeh-kekeh atau tertawa sampai menangis membaca buku ini, giliran saya yang akan meragukan selera humor Anda. Ditulis dengan gaya ‘datar’ tidak mengurangi humor yang Pidi Baiq sampaikan.  Misalkan saja cerita pertama yang diberi judul “Naruto Bersyukur”.  Game PS Naruto yang Timur  mainkan sudahlah tamat.  Menamatkan game Naruto ini adalah sebuah perjuangan,menyebabkan Pidi ingin membuat syukuran atas tamatnya game Naruto yang dimainkan oleh Timur, anaknya. Apa salahnya kan syukuran?  Toh acara  perayaan tujuh bulanan juga kan sama, itu juga acara mengada-ngada untuk dirayakan, jadi apa salahnya mengumpulkan orang untuk bersilaturahmi. Kan sama baiknya. Apa salahnya?

Jadi saat sehabis Isya, semua berkumpul, yang disebabkan oleh undangan Odah kepada tetangga-tetangga dekat untuk datang di acara syukuran tamatnya game Naruto-nya Timur. Yang datang mengenakan sarung dan peci. Mereka betul-betul datang sebagaimana syukuran serius.  Kemudian sang tuan rumah membuka acara syukuran itu:

“Singkatnya, saya sebagai ayahnya, merasa.. apa ya, merasa apa salahnya, gitu. Bapak-bapak. Apa salahnya kalau saya adakan syukuran atas jerih payah anak saya, Timur ini, karena sudah bisa tamat menyelesaikan game Naruto. Karena menurut saya, pasti itu bukanlah hal mudah. Kita yang meskipun sudah tua dan dibilang sudah makan asam garam kehidupan ini, belum tentu juga memainkan game Naruto, lebih-lebih sampai menamatkannya” (hal.31).

Selain cerita syukuran “apa salahnya” itu, Pidi juga bercerita tentang Molen yang ada di sekolah TK anaknya yang kecil, Bebe.  Molen yang menyebabkan ibu-ibu pengantar anak-anak yang bersekolah di TK itu berhenti bergosip dan melihat dompet Pidi yang bukan berisi uang tapi berisi daun.  Juga ada cerita tentang “Sales Badminton”.  Cerita tentang sales yang biasanya mendapat perlakuan dan tatapan kurang bersahabat dari pemilik rumah yang didatanginya, akan tetapi disambut dengan aneka buah-buahan segar oleh Pidi, menyebabkan saya teringat bahwa tamu adalah orang yang harus dimuliakan.

Ada cerita lagi tentang ibu tua penjual serabi. Ibu itu sudah tua tetapi masih saja berjualan. Di pagi hari menembus kabut, Ibu itu sudah berjualan serabi. “…si Emak yang meskipun sudah uzur, masih harus tetap bekerja, demi membantu meringankan beban pemerintah agar dengan begitu pemerintah tidak usah lagi repot memikirkan nasib dan keadaan mereka. Supaya pemerintah bisa fokus menyelesaikan apa?” (hal.174).

Akan ada banyak lagi cerita yang lucu namun diakhiri dengan sesuatu yang menyebabkan kita akan  merenung  dengan dalam. Hal-hal sepele yang sepertinya luput dari perhatian kita.

Disebabkan oleh terbatasnya waktu dan tenaga, juga saya tidak ingin kalau kata orang-orang yang kabarnya pakar-pakar mereview itu semacam spoiler gitu, maka saya akhiri saja semacam review ini. Akan lebih baik jika Anda membeli dan membacanya sendiri gitu. Juga supaya Pidi Baiq bisa membantu meringankan beban pemerintah, sehingga tidak repot-repot memikirkan rakyatnya gitu. Supaya mereka bisa fokus menyelesaikan apa?

Jakarta, 24 Juni 2009

-Eviwidi-

Komentar
  1. ello mengatakan:

    Gila, pengin baca, keyen!

  2. Firman Kaimun mengatakan:

    sudah baca bukunya nih…gila, gokil

  3. febrian putra mengatakan:

    keren abis

  4. zenal mengatakan:

    masih ada ga bukumya
    saya mau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s