Film KING, Ini tentang spirit Bung!

Posted: Juni 30, 2009 in Resensi Film
Tag:, , , , , , ,
Film KING

Film KING

Nun jauh di pelosok, di Jampit, salah satu kelurahan di Banyuwangi, cerita ini berasal. Adalah Pak Tejo (Mamik Prakoso) yang memiliki anak semata wayang bernama Guntur (Rangga Raditya). Pak Tejo sangat tergila-gila pada olah raga bulutangkis hingga hampir seluruh hidupnya ‘mengabdi’ untuk bulutangkis. Mulai dari menjadi komentator pertandingan tepok bulu di kampungnya, menjadi pengumpul bulu untuk dijual di sentra pembuatan kok, memakai jaket bertuliskan Indonesia setiap hari, hingga mendidik anaknya untuk bisa menjadi pemain bulutangkis yang hebat, seperti King-Liem Swie King idolanya.

Sebuah keinginan mulia. Pak Tejo mendidik Guntur dengan keras, scot jam, lari keliling hingga memarahinya jika kalah dalam pertandingan. Guntur yang merasa semua yang ayahnya lakukan adalah tindakan yang sewenang-wenang, semua yang dilakukannya adalah hukuman. Guntur memberontak dalam diamnya. Karena dia tahu ayahnya adalah keluarga satu-satunya, Ibunya sudah meninggal. Jadi sedapat mungkin Guntur jarang membantah kata-kata ayahnya meskipun dalam hati dia sangat kesal.

Dalam sebuah pertandingan antar sekolah, Guntur yang tidak punya raket, tiba-tiba saja diberi raket oleh Raden sahabatnya, yang mengatakan bahwa raket tersebut dipinjami oleh Raino (Aryo Wahab) yang juga pemain badminton tingkat kampung. Gunturpun akhirnya bisa bertanding dan menang, sayang raketnya rusak. Waktu pulang dia sangat sedih dan berpikir untuk mengganti senar raket dengan senar lain, mengingat itu bukanlah raket pribadi tetapi raket milik orang lain. Segala cara dikerahkan mulai mengganti dengan senar gitar hingga mencuri senar balon…yang akhirnya membuahkan hukuman baginya.

Sebuah keluarga kecil datang di desa itu. Seorang Ibu muda (Wulan Guritno) dan seorang anaknya yang bernama Michelle. Singkat cerita si Michelle yang satu sekolah SD dengan Guntur dan Raden menjadi sahabat mereka berdua.

Prestasi di bidang bulutangkis Guntur sempat diwarnai dengan percekcokan dengan ayahnya hingga tidak bicara beberapa hari karena Guntur berpendapat ayahnya tidak pernah perhatian, tidak pernah memikirkan bagaimana dia dan perjuangannya juga marah karena latihan-latihannya. Namun setelah Raino memberi tahu bahwa ayahnyalah yang meminjam raket untuk pertandingan dan sangat perhatian padanya, Guntur akhirnya luluh.

Raden sahabatnya, yang mengetahui ada club bulutangkis di kelurahan lain yang agak jauh (setelah menguntit ayah Guntur menjual bulu) melihat ada pengumuman penerimaan siswa baru. Terbersit di benaknya, pasti Guntur akan senang jika bisa ikut latihan di situ. Masalahnya hanya satu; untuk ikut latihan harus bayar, sementara dia uang dari mana?

Michelle yang akhirnya jadi teman berunding menyetujui untuk mencari uang dengan cara ngamen di pertunjukan keliling. Uangpun didapat, dan Raden mendaftarkann diri dengan nama Guntur untuk bisa ikut latihan di situ. Setelah beberapa lama Guntur yang asli datang ke sana untuk menemui Raden yang sedang latihan dikarenakan nenek Raden bilang kalau Raden setiap hari latihan dengan marah-marah padanya. Mengetahuinya, Raden akhirnya menyerahkan latihan itu pada Guntur yang asli.

Guntur akhirnya ikut club bulutangkis beneran….setiap hari menempuh perjalanan yang jauh dengan sepeda, hingga pulang malam setiap habis latihan. Saat yang mendebarkan akhirnya datang juga, apalagi kalau bukan pemilihan atlit untuk dikirim ke PB Djarum, ke tempat Liem Swie King berlatih dahulu dan mengantarkannya menjadi juara mengharumkan nama bangsa….akankah Guntur terpilih?!

Sebagai film liburan, film ini sangat cantik. Selain karena eksplorasi gambar-gambarnya di hutan yang masih segar dengan koloni rusa yang mendiaminya. Pohon-pohon menjulang tinggi, kadang diselingi kabut pedesaan yang indah, juga lereng-lereng gunung juga tak kalah cantik. Yang jelas selain menjual cerita, film ini juga menjual keindahan alam daerah Banyuwangi dan sekitarnya.

Jika melihat masih pekatnya hutan dan pohon-pohon yang alami, jadi teringat film Twilight yang settingannya juga hutan untuk koloni vampire. Sepertinya hutan di Indonesia juga tidak kalah untuk setting film vampire-vampiran.

Rangga Raditya, pemain debutan Alenia Pictures ini juga cukup lumayan memainkan peran sebagai pemain bulutangkis amatir. Kulit legamnya dan juga wajah ‘lugu’nya cukup pas dengan lingkungan pedesaan di Banyuwangi, meskipun logatnya menurut saya masih kurang medok untuk ukuran anak yang tinggal di Banyuwangi yang berbahasa Jawa dalam kesehariannya (maklum dia siswa dari Sekolah Bulu Tangkis YPRI Ragunan dan saya berasal dari sekitar Banyuwangi sana, jadi tahu..hehehhe..). kata-kata ‘Ngawur Koen’ yang berhamburan sepanjang film juga tidak banyak menolong.

Secara cerita, yang dibuat dengan plot lurus, tidak mengurangi keindahan cerita. Pesan yang ingin disampaikan tentang semangat juang dan spirit bertanding juga cukup sampai untuk penonton (ini yang saya rasakan). Konflik-konflik yang dihadirkan juga masih bisa dinalar sebagai konflik khas anak-anak remaja tanggung yang memang biasanya keras kepala dan pemberontak serta dipenuhi emosi meluap-luap. Saya Cuma kurang setuju sebenarnya sosok Raden digambarkan sebagai anak yang suka mencuri, tidak adakah cara lain?

Sayang saat nonton, cuma separo bangku yang terisi. Ini film yang cukup lumayan sebenarnya, ceritanya cukup membumi dan yang jelas mengekplorasi daerah sendiri…mestinya juga ada stempel “Asli Banyuwangi”…meskipun seperti biasa ada saja kata-kata ‘menggurui’ yang hadir. Seperti saat Ayah guntur berbicara tentang setiap orang yang menjadi atlit bulu tangkis tidak boleh besar kepala, menyusahkan orang lain..bla-bla-bla….

Dan satu lagi, iklan! Olala..makin terang-terangan saja sekarang orang beriklan lewat film. Di King, Anda akan menemui BCA dan Pocari Sweat…

Wulan Guritno ambil uang di ATM BCA, lalu Surya Saputra memberi minum Pocari kalengan pada Guntur sehabis latihan dan yang paling lama, saat guntur di lokernya mengambil peralatan bulutangkis dia minum Pocari Sweat botol sedang dan kemudian disyut..lamaaaa…..dieng!!

Bagi yang belum nonton, nontonlah…ajak anak-anak, ponakan dan teman-teman kecil, sewaktu nonton ini, saya juga ditemani beberapa anak-anak SD!

Cheerz,

-Eviwidi-

Komentar
  1. […] WAJIB TAHU « Film KING, Ini tentang spirit Bung! […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s