Cover Buku LBRJudul Buku : Laki-Laki Beraroma Rempah-Rempah
Penulis :Tina K.

ISBN : 9786029501018
Rilis :  Pertama, Juni 2009
Halaman :227
Penerbit :Kutubuku Sampurna
Bahasa : Indonesia

Di antara belantara buku-buku cerita fiksi yang sedang menjamur saat ini. Yang menawarkan berbagai macam cerita dengan bumbu-bumbu penyedap yang banyak mengandung unsur seperti seks bebas,feminisme,pemberontakan jiwa,kehidupan yang ‘nyeleneh’ yang dibungkus dengan kategori bahasa marketing ‘metropop’, ‘chicklit’ atau apalah. Tina K yang sebelumnya dikenal sebagai cerpenis di majalah Anita Cemerlang, dan beberapa media lain, hadir dengan berani mengusung tema yang jarang disentuh; kesederhanaan dan bersahaja.


Buku yang berisi delapan belas cerita wanita lajang kota metropolitan, tidak lantas dengan serta merta akan dibandingkan dengan buku yang tidak jauh-jauh yang juga mengambil kata lajang dalam judulnya yang sudah terbit sebelumnya, apalagi kalau bukan Parasit Lajang-nya Ayu Utami. Karena meskipun sama-sama mengambil kata lajang, kedua buku ini sangat berbeda satu sama lain.

Membaca buku kumpulan cerita pendek, mengandung resiko; seperti mudah lupa nama tokoh yang sedang dibaca, karena begitu banyaknya nama dalam setiap cerita-cerita yang hadir dengan beragam pesan yang disampaikan dalam setiap cerita. Akan tetapi juga sedikit memudahkan karena untuk setiap cerita yang habis dibaca, pembaca tidak akan merasa ‘kepikiran’ tentang kelanjutan cerita, jika belum tuntas seluruh halaman buku seperti membaca sebuah novel yang ceritanya lebih panjang.

Dan meskipun memakai embel-embel “metropolitan” kita tidak akan pernah menemukan kehidupan hedonisme, memuja-muja merk baju atau sepatu, pamer gadget-gadget terbaru, clubbing, party sampai pagi atau kehidupan yang biasa kita jumpai sebagai simbolisasi dari “metropolitan”.

Kedelapan belas cerita dari Tina K, malah lebih ke arah kesederhanaan, bermain-main dengan perasaan dan mengunggulkan dialog-dialog antar tokoh yang lugas selain memiliki benang merah, ceritanya tentang wanita lajang. Hal ini menjadikan buku Tina K, lebih seperti segelas ‘air putih’ di sebuah pesta nan ramai, sementara gelas-gelas lain berisi minuman aneka rasa yang menawarkan sensasi yang kadang dibicarakan secara berlebihan.

Laki-laki Beraroma Rempah-Rempah adalah salah satu judul cerita pendek yang ada di dalam buku ini. Bercerita tentang seorang laki-laki yang menurut tokoh utamanya, dia bernama Tjandra. Tjandra memiliki hampir semua kesempurnaan sebagai laki-laki mapan idaman para wanita, dan dia mempunyai aroma yang menurut si tokoh beraroma seperti rempah-rempah, sedangkan si tokoh utama (yang tak disebutkan namanya) adalah wanita yang merasa dirinya kurang sempurna secara fisik, tidak seperti wanita-wanita dalam iklan atau model majalah. Tetapi Tjandra memandangnya sebagai sosok yang pantas untuk mendampingi hidupnya. Tentu ada alasan kenapa Tjandra memilihnya.

Sayangnya dalam kesederhanaan cerita-cerita yang menjadi kelebihan dalam buku ini, Tina K kadang masih belum bisa lepas dari kutukan terbesar yang sering menghinggapi penulis kita; klise. Pada beberapa cerita juga masih terasa sangat datar dan nyaris tanpa konflik. Seperti yang terdapat dalam cerita keenam yang berjudul Sentuhan Sayap Kupu-kupu (hal. 69-81). Dalam kisah keenam ini, terdapat dua tokoh utama Petra dan Leo. Petra adalah gadis yang sedang menempuh kuliah, dia tinggal di rumah orang tua Leo yang merupakan teman karib Ibu Petra. Sedangkan Leo yang tampan dan cerdas sedang menempuh kuliah di Perancis dan setahun lagi akan selesai. Leo dikisahkan pulang ke Indonesia selama dua minggu. Dan bertemu dengan Petra yang dulu, jauh sebelum Petra kuliah dan ikut tinggal di rumah itu pernah akrab sekali dengan Leo saat kecil dan masih suka digendong-gendong. Cerita bergulir dan saat akan kembali ke Perancis Leo melamar Petra dan Petra mau menerima Leo begitu saja.

Segalanya begitu indah, tapi justru di situlah masalahnya. Bagaimana memberi konflik pada manusia-manusia yang sudah sedemikian mapan dan baik-baik ini? Inilah jebakan terbesar yang justru Tina K terperangkap di dalamnya.

Namun begitu, beberapa cerita lain juga masih menyisakan rasa yang memainkan perasaan kita, seperti Badai Siang Hari (hal.19-30), Melintas Sunyi (hal.45-53) dan masih banyak lagi. Dan tidak adanya simbol-simbol waktu (jaman) yang terdapat dalam kisahnya, membuat cerita dalam buku kumpulan cerpen ini bisa dibaca sepanjang masa.
Kekuatan Tina K sebagai pencerita yang tidak menggebu-gebu juga merupakan salah satu kelebihan tersendiri selain tidak mengumbar kata-kata rayuan dalam kisah-kisahnya.

Jika Anda ingin menikmati ‘segelas air putih’ yang melegakan tenggorokan di antara riuhnya pesta yang menawarkan minuman aneka rasa, buku Tina K adalah salah satunya.

Cheers..

-Eviwidi-

Komentar
  1. puisiazzet mengatakan:

    Wah…, jadi kepengen segera menikmati ‘segelas air putih’ itu. Makasih banyak ya…, resensi yang cukup menari. Salam kenal dan selamat terus berkarya.

    [Akhmad Muhaimin Azzet]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s