Cover Elle Eleanor

Cover Elle Eleanor

Elle Eleanor
Penulis : Zev Zanzad
Penerbit : Kakilangit Kencana, Juni 2009
Halaman : 456 hal, 12,5x20cm
ISBN : 978-602-8556-00-1-2

“Entah mengapa, hanya dengan satu lelaki saja tak cukup membuatku puas. Maka biasanya dengan dua atau tiga lelaki baru aku akan merasa melayang”. (buku harian Eleanor, Tahun 1939, tahun kejayaanku. hal. 361)

Kegilaan akan permainan seks yang bersumber dari tuntutan kepuasan pribadi dan trauma masa lalu merambati kehidupan Eleanor, istri seorang business man tua bernama Robert Van Der Sneijder yang muda, sangat cantik dan molek, kala Kompeni masih menjajah negeri ini.

Kepuasan seks yang mengantarkan Eleanor ke puncak kenikmatan dunia, juga mengantarkannya (mungkin) hingga ke neraka, melalui pucuk pistol suaminya sendiri.

Berlatar belakang tahun 1930, di pantai Popoh Kediri, awal kisah ini dibuka. Menceritakan tentang kehidupan mewah orang Belanda yang memiliki vila nan cantik dan megah di kota Kediri. Sebuah vila yang menyimpan kenangan dan menjadi saksi bisu kegilaan penghuninya, saat-saat Eleanor menaiki puncak-puncak kenikmatan dunia yang sudah seperti candu kelas berat baginya, bersama setiap laki-laki yang diinginkannya, juga Sastro, pembantunya yang setia. Di sebuah kamar rahasia, yang membuka sekaligus menutup kegilaannya. Menyisakan dua bocah lelaki buah hatinya, Johan dan Salyo yang akan mengalami trauma seumur hidupnya karena menjadi saksi hidup kegilaanya…

Berganti ke masa kini, vila itu tetap berdiri kokoh dan dikenal dengan nama vila Pandersider yang didiami oleh pemiliknya yaitu seorang pria paro baya keturunan Belanda bernama Johan dengan pembantu setianya Suro Sodron yang biasa dipanggil Ki Suro dan Maryati anak gadisnya.Vila itu kini terbuka untuk umum, artinya bisa disewa untuk berlibur orang luar yang ingin menikmati indahnya Pantai Popoh dari dekat.

Alkisah, datanglah tamu bersepuluh orang yang akan berlibur ke pantai Popoh dan menyewa vila itu untuk tinggal selama liburan di sana. Elle,Tian,Rini,Mark,Susan,

Julius,Teddy, Adrian,Patricia dan Stella (Koordinator event organizer).

Anak-anak muda metropolitan generasi Facebook ini, memiliki problematika pribadi antar masing-masing tokoh. Mark suka Elle yang pernah mengisi hatinya tapi kini pindah ke lain hati;Tian. Sementara dia sudah menjalin kasih atas dasar uang dengan Rini. Teddy punya dendam terkait bisnis dengan Rini, seterunya. Sedangkan penghuni asli vila Pandersider, juga memiliki misteri terpendam yang terkait masa lalu vila tersebut.

Rumit? Tidak salah lagi.

Kisah mencekam pun dimulai di Vila itu. Pembunuhan terhadap para pelancong itu satu persatu terjadi. Semua merasakan aura misterius itu, bahkan sejak menginjakkan kaki pertama kali di Vila itu. Tatapan Johan yang terasa janggal terhadap Elle yang cantik dan sangat mirip dengan Eleanor, membuat jiwa Johan bergolak teringat masa lalu yang sangat ingin dicampakkannya.

Dendam Teddy yang akhirnya menghabisi riwayat Rini di vila itu, kematian Adrian yang ditemukan terapung di laut,belum terbukanya tabir Ki Suro dan anaknya semakin menambah ruwet, juga Mark dan Stella yang terjebak dalam kamar rahasia yang akhirnya sedikit menguak misteri vila itu.

Kisah berpilin-pilin tentang pembunuhan di sebuah vila nan elok ini yang dibangun dengan beberapa plot dan sub plot, ditulis oleh dua orang, Ferry Zanzad dan Zeventina Octaviani Bouwmeester dan menggunakan nama pena Zev Zanzad. Dengan alur mundur maju-maju mundur untuk menceritakan masa lalu dan masa kini. Mengambil setting masa lalu saat penjajahan Belanda di Indonesia (1930) dan awal perang Eropa. Kehidupan masa lalu Eleanor bisa dilacak dari buku hariannya yang tertera dari tahun 1940 hingga 1946.

Meskipun ditulis oleh dua orang, pembaca awam akan menilai kisah dalam novel ini dapat melebur dengan baik, jika yang sudah mengenal kedua penulisnya mungkin akan bisa membedakan mana tulisan Ferry dan mana tulisan Zeventina. Dengan kedalaman riset yang baik, novel ini sarat dengan cerita sejarah kolonial Belanda yang jika dilacak tidak akan menyimpang dari data sejarah yang ada. Dan kelebihan dari novel ini, adalah diambilnya lokasi pantai Popoh di Kediri yang jarang disentuh oleh penulis novel lain, yang biasanya berpuas diri dengan cerita seputar metropolitan seperti Jakarta,Sydney,New York yang mungkin lebih bisa menawarkan sensasi cerita.

Ada pesan tersirat yang terdapat dalam Elle Eleanor ini adalah mengenai kejiwaan anak. Kegilaan terbentuk dari didikan orang tua yang salah sejak kecil. Kasus yang jelas tergambar tentu tercermin dari tokoh Johan dan Salyo yang merupakan anak-anak Eleanor yang mengetahui kegilaan orang tuanya hingga membuat mereka harus menanggung kelainan jiwa seumur hidup mereka. Bukan sesuatu yang adil, karena sebenarnya mereka berhak hidup secara normal dan menikmati masa kanak-kanak yang indah dan menjalani kehidupan yang juga normal hingga dewasa.

Kegilaan mereka intinya adalah buah dari didikan yang salah dan pengalaman yang buruk dari orang tuanya yang gila. GILA yang terjadi karena KEGILAAN

Jika Anda penggemar cerita-cerita pembunuhan ataupun misteri, tentu akan akrab dengan buku-buku semacam karya Sidney Sheldon,Marry Higgins Clark,Agatha Christy atau James Patterson yang belakangan menulis buku remaja Maximum Ride, apakah karya Zev Zanzad ini bisa disejajarkan dengan mereka?

Bukan karena terkena demam #Indonesiaunite jika secara pribadi saya menilai karya mereka berdua sebenarnya tidak kalah dengan karya-karya orang-orang luar itu.

Dalam penulisannya meskipun tidak terlalu banyak typo yang mengganggu, tetapi ada salah satu halaman, yaitu di halaman 370 yang sepertinya salah setting huruf. Di halaman sebelumnya terdapat Diary Eleanor berjudul Januari 1941, yang dibaca Stella, huruf-hurufnya dimiringkan seperti seharusnya. Tetapi di halaman berikutnya yang merupakan kisah Stella ikut-ikutan dimiringkan. Sehingga tidak bisa dibedakan mana narasi Stella yang masa kini yang seharusnya dibuat tegak, dengan Diary masa lalu Eleanor yang hurufnya dimiringkan.

Selain pesan tersirat di atas, novel ini barangkali bisa untuk catatan Anda yang suka melancong, jangan sewa vila yang pemiliknya terlihat menatap Anda dengan tatapan menyeramkan, dan ada baiknya selidiki sejarah vila yang akan Anda sewa sebelum Anda memutuskan untuk menyewanya.

Kutipan:

“Semuanya sudah pasti. Mereka bukan orang-orang normal” (Julius, hal. 268)

“Ki Suro. Bongkar dinding ini. Bongkar paksa sampai engkau menemukan pintu di baliknya. Buka pintu itu dengan kunci ini.” (Johan, hal. 422).

Cheerz..

-Eviwidi-

****Sttt…numpang narsis dikit, di hal. vi ada namaku nyangkut di situ….hihihihi….gak lengkap rasanya kalo gak diomongin…;)

Komentar
  1. Zev mengatakan:

    Terimakasih reviewnya, Evi..
    Salam, Zev

  2. eviwidi mengatakan:

    Sama-sama Mba Zev…:)

  3. Anazkia mengatakan:

    wah, jadi pengen baca bih. keren reviewnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s