Take Your Time! (Semogalah Menjadi Sebuah Review Buku…amin)

Posted: Agustus 5, 2009 in Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi
Tag:, , ,

Cover Seribu Tahun Cahaya - Mad Soleh

Cover Seribu Tahun Cahaya - Mad Soleh

Take Your Time!

Seribu Tahun Cahaya

Oleh: Mad Soleh

ISBN: 978-979-19442-0-5

Penerbit : Pustaka Bimasakti, 2009

Jumlah Halaman : vi+245

Ukuran : 14,5cm x 20 cm

Harga : Rp. 40.000,-

———————————————————————————————

Review ini memenangkan salah satu kategori di lomba review buku Seribu Tahun Cahaya.

———————————————————————————————

Loh, katanya tahun 2012 bumi sudah hancur? Kok ini ada dongeng tahun 2099 Mbah?

“Ha-ha-ha…”*tawa khas seperti Mbah Surip (alm.)*

“Memangnya yang menentukan hancur tidaknya bumi itu manusia ya? Ha-ha-ha…” lalu si Mbah yang menyebut dirinya Sinom (seperti nama minuman karena konon kalau ada dia suasana jadi segar..*halah*)  melanjutkan bercerita. “Makanya kalau simbah lagi mendongeng, dengarkan dengan baik ya?”  Dan si anak remaja tanggung itu kembali mendengarkan dengan  penuh Hikmat  dan Kebijaksanaan.

“Jadi pada tahun 2099, Indonesia akan mencapai kejayaanya, semua Negara  menaruh hormat pada Negara kita” Mbah Sinom melirik sambil menundukkan kepalanya pada si remaja tanggung. “Indonesia akan meluncurkan  pesawat luar angkasa bernama  Garuda Pancasila I”

“Wah, sampai namanya saja Mbah Sinom tahu! Hebat…Mbah Sinom lebih hebat dari Mama Loreng-loreng” Kata si remaja dengan mata berbinar.

“Husss…jangan banding-bandingkan aku dengan yang lain!” Mbah Sinom kembali menengadahkan wajah dan menatap dengan pandangan tajam. “Nanti akan nada pemimpin yang benar-benar dicintai rakyat meskipun di pernah gila, dan peluncuran itu, akan membawa manusia-manusia terpilih yang cerdas dan berdedikasi, ke sebuah planet yang akan tercatat dalam sejarah….”

“Planet apa Mbah?” Tanya si remaja ingin tahu.

“Zarah” Jawab si Mbah Sinom mantab.

“Hah? Memangnya ada ya, nama planet Zarah, kok di sekolah saya tidak pernah dikasih tahu guru saya kalau ada yang namanya planet Zarah?” Kata di remaja bingung dan menganggap Mbah Sinom mengada-ada.

“Berarti  gurumu harus membaca buku yang baru Mbah baca” Mbah Sinom lalu mengeluarkan dari tas bututnya sebuah buku dengan gambar orang pakai egrang dan dengan background gambar mirip galaxy Bimasakti. “Nih, suruh gurumu itu baca buku ini” lalu Mbah Sinom menyorongkan buku itu pada si remaja.

“Seribu Tahun Cahaya, Mad Soleh”  Lalu dengan antusias dia membolak-balik buku pemberian Mbah Sinom dan mulai membaca. Beberapa menit kemudian dia mulai tersenyum simpul, mengerutkan kening,memiringkan bibir,menyelonjorkan kaki,menggeletakkan badan,tersenyum lagi,tertawa,mengerutkan kening..hingga…tak lagi memperhatikan si Mbah Sinom yang merasa tersinggung sudah dicuekin…

“Heh, bocah, apa yang kamu lakukan? Sini kembalikan bukunya!” Mbah Sinom mulai kesal karena dicuekin dan diabaikan.

“Sebentar Mbah, sebentar lagi…” Dan si remaja terus saja membaca dan membolak-balik halaman demi halaman buku Seribu Tahun Cahaya. Setelah beberapa lama si remaja tanggung bangun dari rerebahannya dan berbicara pada Mbah Sinom. “Jadi, nanti saat peluncuran itu, orang-orang yang terpilih untuk meluncur ke Planet Zarah nama-namanya adalah : Bahlol dari Indonesia,Siti Nurhalida dari Malaysia,Yok Opo Iki dari Jepang,Tong Koo Song dari Korea bersatu, Cui Lan Cuo dari Cina, dan  John Lemon dari Belanda, mereka adalah antariksawan dan antarikasawati terpilih…” Kemudian bla-bla-bla…..ganti si remaja tanggung yang berbicara banyak, hingga Mbah Sinom terdiam dan mulai mengantuk…dan dia berkata saking ngantuknya pada di remaja tanggung, “Tapi saya sekarang ngantuk sekali. Apakah saya boleh tidur?”

Lalu si remaja tanggung menjawab, “Baiklah, nanti akan saya teruskan ceritanya…”

Mbah Sinom merebahkan badan dan mulai mendengkur dan terlihat damai, lalu si remaja tanggung perlahan beringsut pergi dari sisi Mbah Sinom sambil meletakkan catatan kecil, setelah berguman dalam hati. “Ah, Mbah Sinom yang sarat pengalaman dan tidak pelit berbagi, hidupmu begitu bebas lepas …”

Lalu disobeknya lembaran  kosong bagian terakhir dari buku yang dipegangnya dan menulis dengan pensil yang diambil dari tas butut  Mbah Sinom yang kebetulan pensilnya nongol di sudut tas yang sudah bolong.

Mbah Sinom,

Take your time, jaga kesehatanmu Mbah, aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, tapi aku senang bicara dengan mu, dan dengan terpaksa aku ambil bukumu yang sangat memikat hatiku ini. Istirahatlah saat tubuhmu memang perlu istirahat. Jangan remehkan tidur. Tidur itu sama pentingnya dengan bekerja!

Ndaru

Komentar
  1. siais mengatakan:

    wah bisa di beli tuh bukunya??

  2. andre mengatakan:

    Ini Buku fiksi ya? saya lihat di bukabuku.com ini termasuk non-fiksi. Jadi bingung. Ada sinopsisnya ndk ya?

  3. farit praditya mengatakan:

    q suka buku ini soalx buku ini berisi tentang semua harapan harapan masyarakat indonesia.
    waktu q beli buku ini q udah penasaran dari judulx.
    walau fiksi buku ini mungkin akan memberi banyak motifasi pada yang membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s