Review Buku Pompeii (Robert Harris)

Posted: Oktober 10, 2009 in buku baru, Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi
Tag:, , , , , , , , ,

JIGK0931big

—————————————————
Review ini dimuat di Koran Jakarta, Sabtu 10 Oktober 2009
Versi cetak lebih “kurus” dari versi asli yang ada di blog  ini.
Untuk versi di Koran Jakarta bisa dibaca pada link berikut:
http://www.koran-jakarta.com/ver02/detail-news.php?id=25892&&idkat=78
—————————————————-

Pompeii

Robert Harris

Terbit : September 2009

Harga : Rp 50.000,-

Ukuran : 15 x 23 cm

Tebal : 392 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-979-22-4944-6; 40201090056

Soft Cover

Kemurkaan Tuhan pada manusia yang menyekutukan kenikmatan dan kemewahan dunia sebagai sembahannya.

Kota penuh kenikmatan dunia yang juga termasuk kemaksiatan dalam kehidupan sehari-harinya lenyap hanya dalam hitungan menit. Itulah Pompeii. Yang terkubur letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M.

Robert Harris, penulis  novel terkenal Imperium, menuangkan sejarah kota Pompeii sebelum terkubur dalam novel yang telah menjadi No. 1 International Bestseller, POMPEII. Novel yang rencananya akan dibuat versi layar lebarnya ini menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di Pompeii dan orang-orang yang terlibat di dalamnya yang diambil dari sudut pandang 4 tokoh utamanya.

Adalah  Marcus Attilius Primus, yang menjabat sebagai Aquarius Aqua Augusta (semacam pejabat penanggung jawab masalah pengairan Negara). Dalam usia mudanya 27 tahun, dia menggantikan Aquarius lama, yang menghilang secara misterius di Campania, Italia. Tugas utamanya adalah mengurus saluran air paling panjang di dunia Aqua Augusta yang mengairi kota –kota yang berada di wilayah yang berada beberapa mil jaraknya dengan gunung Vesuvius.

Penyelidikan tentang mengapa pada bulan Agustus tahun 79 M itu, Aqua Augusta yang terkenal perkasa alirannya terhenti. Dalam pekerjaannya, dia bertemu dengan Corelia Ampliata, putri  Numerius  Popidius Ampliata salah satu mantan budak yang telah menjadi kaya raya, dan jutawan yang kejam. Corelia adalah gadis cerdas yang nantinya menjadi bagian penting cerita Pompeii. Juga Pliny, Laksamana  yang tegas,berwawasan dan senang menulis buku.

Penceritaan yang sangat detil adalah salah satu kelebihan tulisan mantan wartawan BBC tersebut. Gunung Vesuvius yang merupakan gunung berapi aktif kala itu, dalam sejarahnya memang sering menimbulkan getaran-getaran gempa dalam hari-hari penduduk Pompeii. Namun getaran yang semakin hebat pada bulan Februari lalu pertengahan Agustus 79 dan beberapa peringatan setelahnya tidak digubris bahkan oleh penduduknya. Sehingga begitu kejadian banyak sekali rakyat yang dalam posisi masih beraktivitas dan meninggal dalan raut ketakutan dalam usaha melarikan diri dari letusan gunung. Kedahsyatan letusan Vesuvius, mengubur Pompeii pada tanggal 24 Agustus 79 M, hingga kota itu hilang selama 16 abad.

Novel berlatar sejarah yang kemudian difiksikan, barangkali sudah banyak, namun Robert Harris rupanya sangat piawai menceritakan sebuah tragedi sejarah dalam buku terbarunya ini. Kota-kota yang terekam, nama-nama yang terlibat, kejadian-kejadian yang dibuat hampir seperti kronologis membuat pembaca seperti berekreasi ke Pompeii. Buku setebal 392 halaman ini juga dilengkapi keterangan ensiklopedi berbagai hal yang berkaitan dengan gunung berapi  di setiap pergantian bab-nya. Hal ini semakin memberi nilai tambah bahwa novel ini tidak hanya sekedar fiksi, namun juga sebagai dokumen yang layak untuk dikoleksi.

Kejayaan Pompeii yang terkubur dalam sekejap, mengingatkan kita pada kisah kaum Nabi Luth. Pompeii yang mengumbar segala kenikmatan dan menurut Attilius adalah kota “penipu” karena hampir sebagian besar pendatang ataupun pelancong yang datang ke sana akan tertipu oleh penjual baik barang atau jasa yang ada di sana menggambarkan betapa tamak dan rakusnya orang-orang Pompeii.

Meskipun sudah dikaji secara ilmiah, letusan gunung Vesuvius berdasarlan analisis vulkanologi  Haraldur Sigurdsson, Stanford Cashdollar dan Stephen R.J.Sparks dalam bukunya  The American Journal of Archaeology (seperti yang diceritakan Robert Harris di bagian akhir buku ini) dan seperti biasa, manusia tentu bisa menganalisa dan menjadi masuk akal setelah terjadinya sebuah perisiwa, toh kita tidak bisa mengesampingkan kuasa Tuhan dalam peristiwa ini.

Robert Harris sendiri menulis dalam kisah setelah letusan, besar kemungkinan kejadian yang dahsyat ini adalah salah satu hasil dari ulah kesombongan dan keangkuhan manusia.

“Tetapi inilah Alam, melaju ke arahnya-tak bisa dipahami, menguasai segalanya, tak peduli-dan di dalam apiNya dia melihat betapa sia-sia segala keangkuhan manusia.” (hal. 383)

Lantas, jika kita kaitkan dengan kejadian bencana yang sedemikan sering melanda negeri kita Indonesia kemudian berkaca pada buku Pompeii ini, apakah kita akan menganalisa dan memiliki kemampuan untuk mencerna dan berpikir lebih dalam sebelum bencana baru datang?!

Eviwidi (Blogger, Book Reviewer)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s