KJ di Antara Waktu, Realisme, dan Estetika

Posted: Oktober 28, 2009 in Puisi, Review Buku Fiksi
Tag:, , , , , , , ,

Cover buku Cinta Seekor SingaCinta Seekor Singa (35 Tahun KJ Menyair)
Oleh: Kurniawan Junaedhie

ISBN    :    9786028543194
Rilis    :    2009
Halaman    :    158p
Penerbit:       Bisnis2030
Bahasa    :    Indonesia
Harga   :       Rp.42.600

—————————–

Oleh: Leonowens SP

Don’t look at your form, however ugly or beautiful. Look at love and at the aim of your quest…” (Jalalud’din Rumi)

Kumpulan puisi-puisi Kurniawan Junaedhie (KJ) yang terhimpun dalam kumpulan puisi “Cinta Seekor Singa”, merupakan karya puisi yang bergumul dengan realitas dan estetikanya. Tentu hal ini adalah bagian dari seni ekspresi emosional seorang KJ dalam berkarya puisi. Demikianlah dengan permaknaan teologis, renungan, replika ruang, dan ragam metamorfosa pada alur berpikir; merupakan hasil dari rentang waktu yang dialektis dengan pemahamannya akan beberapa nilai kehidupan. Rentang waktu merupakan suatu peran untuk mengabstraksikan beberapa ilustrasi praktis dari puisi KJ.

Suatu ekspresi manusiawi KJ, ketika perasaan dan ketajaman emosional telah bekerja sedemikian praktis dalam pengelolaan kata dan kalimat yang tidaklah metafora. Unsur romantis ekspresif telah terjalin dalam kalimat “kukecup bekas ciumanmu/ semalam” (“Puisi Bulan September”, 1974). Tentu dalam puisi ini bukan mengundang suatu pembiasan makna dari setiap pembacanya, jika diperbandingkan dengan kalimat “tak mungkin kulupa/ terbagi kesadaranku” (“Tanah Lahir”, 1977); atau dengan puisi yang berjudul “Sajak Kelereng”.

Kita akan kembali dipertanyakan tentang rentang perjalanan hidup KJ dan proses yang membentuk karakter dalam penulisan puisinya. Hal tersebut tidak hanya dapat disimplikasikan dengan beberapa catatan dan kesaksian dari orang-orang yang berada di sekitarnya, tetapi kita perlu untuk memahami penawaran dan realitas yang dibangun dalam puisi-puisinya tersebut. Demikianlah ketika dunia menggali realitas dari karya-karya puisi dan rentang masa kehidupan Al-Mutanabbi, seorang penyair klasik Arab di tahun 915-965.

Makna filosofis yang cukup kental akan relasi ruang, logika sentris, dan beberapa material yang mendukung timbulnya hasrat hingga rasa; terkandung dalam puisi-puisi KJ yang termaktub pada beberapa judul karyanya, antara lain: “Saat Edelweiss Diputar” (1977), “Tamat” (1979), “Jurang” (1982), “Ingin Berjumpa” (1982), “Antara Padang-Bukit Tinggi” (1983), “Waktu” (1985), “Di Perpustakaan“ (1986), “Sajak Untuk Orang Kecewa” (1993), “Sajak Untuk Orang Kasmaran” (1993), “Kau Pun Menghilang Di Balik Awan” (1994), dan “Sajak Untuk Ibunda Tercinta” (2008).

Inilah keindahan dari seni ekspresi emosional, ketika KJ tidak terjebak dalam suatu sentimen berlebihan di dalam puitika yang melukis gejolak rasanya. “Tidak./ aku tak boleh menangis/ Aku adalah pilar besi/ aku harus tetap berdiri/meski ada yang tiba-tiba hilang” (“Kau Pun Menghilang Di Balik Awan”, 1994); kalimat dalam baris puisi ini telah berkontribusi bagi suatu keeksotisan dari ungkapan rasa yang jujur. KJ sangat meminimalisir suatu ego yang bersifat semantik dalam pengungkapan realitasnya di balik kata-kata.

Mungkin cukup naif, jika analisis kita hanya memberi dimensi kepada karya-karya KJ dalam batas “gejolak rasa” atau tersaji hal-hal subyektif yang terdapat pada keindividualannya,seperti: cinta, penyesalan, penghormatan, kekecewaan, kerinduan,amarah,keloyalitasan, kecemburuan, dan unsur kenangan atau nostalgia tertentu; tanpa mengolaborasikan nilai-nilai yang tengah bergulir, hingga mendukung terjadinya penciptaan puisi tersebut. Salah satu nilai yang dipertaruhkan, agar puisi-puisi itu menjadi suatu kisah yang tidak menghilangkan sentuhan puisi adalah: keestetikaan.

Namun keestetikaan dalam kata akan menjadi sesuatu yang tidak bertanggung jawab, jika tidak mengalami pemilahan: ruang dan pencitraan tentang ruang tersebut dalam kata yang tepat dan mampu mewakili keberadaan ruang. Demikianlah halnya dengan suatu momentum, yang harus terwakili oleh pengondisian waktu. Puisi-puisi yang berjudul: “Di Bogor” (1979), “Ciawi” (1983), “Nyanyian Pagi” (1985), “Di Rimba Jakarta” (1992), “Aufwidersehe” (1994), “Dari Ujung Dunia” (1994), dan “Sketsa Di Rumah Wilson” (1996); adalah puisi yang merepresentasi pencitraan ruang dalam pengondisian waktu.

Ada sedikit perbedaan dengan puisi berikut: “Kesepian melindas hatiku di Amsterdam/ hari hampir malam/suasana dingin muram/ kudengar suara orang menggumam/ o, suara william” (“Sketsa di Rumah William”, 1996); suatu keestetikaan dari puisi yang ditempatkan di antara ruang, pengondisian waktu, dan akhiran kata yang serupa hingga menghasilkan ritme pelafalan yang cenderung stabil. Puisi tersebut adalah salah satu contoh karya puisi yang mensubordinasi keegoan penyairnya dalam mengelola kata-kata secara berlebihan (eufemisme), dan tidak membiaskan makna.

Tentang perbandingan antara keestetikaan dan keindahan dalam puisi-puisi yang dibangun oleh KJ, dapat kita analogikan dengan karya lukis retable oleh Van Eyek; bahwa ketika keindahan itu tidak hanya dapat terukur di beberapa nilai keestetikaan yang tersirat, namun dapat ditempatkan di ruang yang memahami kebenaran waktu dan masa mengenai makna dari keindahan itu. Artinya, ketika kesempurnaan dari suatu karya haruslah mampu mengekspresikan hal yang imajiner. Puisi “Pantun Hati Rindu” (2009), merupakan representasi yang cukup berani.

Kenapa puisi tersebut sedemikian berani?
Puisi itu telah berdiri di antara pantun dan kuartrin, dalam perbendaharaan teoritisnya. Namun sangatlah tragis jika kita hanya terjebak di dalam suatu perdebatan teoritis, tanpa mewakili beberapa nilai fundamental tentang simbol-simbol dan bentuk kulturasi untuk melahirkan karyanya. Perbandingan dari keberanian yang cukup baik dari puisi “Pantun Hati Rindu” (2009), adalah puisi “Ketika Limbung” (2003). Sesuatu yang simbolis dan liris telah dihadirkan dalam momen dan fenomena varian rasa dari seorang KJ.

Modifikasi kata yang minim, namun menampilkan ide dasar secara terskenario dan terkonstruksi dengan proposisional adalah basis dari kekuatan kontemplasi pada puisi-puisi KJ, seperti: “Lagu Percintaan” (1985), “Umur” (1991), “Cinta Ibu” (1995), “Surat Untuk Seorang Teman” (1995), dan “Lagu Perkawinan” (1995); adalah beberapa percontohan puisi, ketika kontemplasi dan kelugasan filosofi saling berkesinambung dalam struktur tulisan yang menggunakan pola “konteks di antara teks”. Hampir sama halnya pada roman Tristan and Yseult, ketika rangkaian cerita berkontemplasi dari beberapa sentuhan yang filosofis.

Puisi yang berjudul: “Kenangan Untuk Si Dia” (2009), adalah demonstrasi kata yang cukup signifikan kepada penalaran subjek yang dipampangnya. Namun, apakah subjek yang dimaksud oleh penulisnya adalah entitas dari beberapa objek di dalam sisi perpuisiannya? KJ telah membangun unsur-unsur pemenuhan syarat “rangkaian kata menuju suatu tanya yang memaknai,” sehingga mampu mengasah nalar pembacanya. Dua baris kalimat: “dipalu gelisah/ ditikam gelisah”, tentu melahirkan multi intrepretasi yang berefek dari keseluruhan isi pada puisi Kenangan Untuk Si Dia.

Unsur relijiusitas dan hal-hal yang berkarakter abstrak dalam beberapa puisi KJ, termaktub kata-kata seperti: surga, firdaus, tuhan, akhirat, takdir, Allah; merupakan tahapan transendental yang dipercaya, dikenyam, atau dialami oleh penulisnya. Dan, KJ mengeksplorasi dunia konotasi yang imajiner, misalkan tertera kalimat: “1000 masalah dunia” (“Sajak Untuk Ibunda Tercinta”, 2008). Penempatan kata yang tepat di antara tuntutan untuk mengilustrasikan suatu objek yang dituju, adalah ketika kata-kata harus mampu menata adanya representasi dari realita.

Sensasi, sentuhan humor, dan kerumitan yang minim dalam pengelolaan setiap rangkai kata yang tersaji; telah mempertegas adanya suatu hubungan puisi dengan proses pencerdasan bagi setiap kalimatnya, atau ketika makna yang harus dilontarkan kepada para pembaca tanpa membiaskan nilainya. Dalam kaitan ini, KJ bukanlah mewakili karakter Julien Sorel yang bersifat terus terang dengan memaksa diri untuk menjadi ambisius dan enerjik. Tetapi KJ adalah seseorang yang telah berdiri di antara waktu, realisme, dan estetika; tanpa lebih cenderung kepada salah satu ciri tersebut.***

Jakarta, Juli 2009

***

Leonowens SP dilahirkan di Jakarta, Indonesia; adalah seorang penulis esai, puisi, prosa, solilokui, dan artikel pada berbagai media cetak dan elektronik di dalam negeri dan mancanegara. Beberapa tulisan dan karyanya telah diterjemahkan ke bahasa asing. Buku-buku karya sastranya yang telah terbit, adalah: Terraluka I, Terraluka II, Terraluka III, Terraluka IV, Terraluka V, Karmakala,Ragakala dan Larapuan-Prahara Tabir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s