Adanya Dirimu

Posted: November 3, 2009 in Prosa
Tag:, ,

Konon, berakhirnya jaman 2668444240_760f24417ddinosaurus disebabkan oleh benturan sebuah komet atau asteroid raksasa. Jika kusebut, ‘jaman’ ku denganmu sebagai jaman “Dirimusaurus” sebagai manusia biasa, aku tidak bisa memprediksi, akankah nanti berakhir dengan senyum bahagia, ataukah hujan air mata.

Aku sungguh tidak mengerti. Bermimpipun tidak pernah untuk bisa mengenalmu. Kamu hadir serupa mahluk yang dikirim Tuhan untukku. Pengakuanmu, kau menemukan nomor telponku lewat Google. Oh.. ya..ya.. ini sudah jaman internet, dan aku kadang secara serampangan menuliskan nomor telponku di milis atau kadang forum online. Aku berpikir, ah..siapalah aku? Ngapain juga menghubungi aku kalau gak penting-penting amat.

Tapi itulah yang terjadi. Entah di milis atau di forum mana kamu temukan nomor handphoneku, hingga akhirnya kita bisa berkomunikasi, bersms, berkirim email hingga menjadi teman di beberapa situs pertemanan. Seluruh peristiwa masih terekam dengan baik dalam memori otakku biarpun mungkin tidak sebagus Pentium menyimpannya.

Aku bersyukur bisa mengenalmu. Adanya dirimu adalah tempatku bersandar pada semua kisahku. Pada semua kepedihanku. Dirimu adalah poros dalam rotasi kehidupanku. Sampai akhirnya terucap kata keramat yang menasbihkan sebuah hubungan:
“Aku suka kamu..”
Di hari itu, hampir seluruh benda menampakkan keindahannya di mataku. Bahkan kaus butut yang biasa menemani tidur malamku, kurasakan seperti baju tidur mewah yang melekat di tubuhku.
“Aku bahagia..” kata hatiku.

Omelan orang-orang di sekelilingku yang biasa aku dengar dan membuatku geram, tak lagi kurasakan demikian. Semua orang kumaafkan. Semua orang yang bertemu denganku seperti bintang pujaan,aku mengasihi mereka. Aku seperti Dewi penebar keramahan dan kebaikan.

Namun, segala hal memang memiliki harga. Demikian juga kebahagiaan. Tidak ada makan siang gratis. Dan aku menebusnya dengan senang hati.

Akan tetapi..

Rupanya jalur perjalanan sepertinya tidak berbelok menuju arah seperti yang kuduga. Hal yang tampaknya hijau ternyata merah. Kursi yang tampaknya kayu jati, ternyata plastik. Aku masih barsabar. Mungkin inilah sebuah proses, pikirku, sambil aku tetap tersenyum padamu.

Dan masih terus berlanjut, ternyata kutemukan lagi dusta-dusta lain darimu. Dan entahlah, kekuatan mana yang menahanku, hingga aku masih sesabar ini. Dan terus di sisimu.

Hingga, dalam beberapa kali hempasan aku masih bertahan, demi dirimu, demi kita. Aku akhirnya memilih mengkaji ulang, apa sebenarnya yang kucari, apa sebenarnya yang kau cari?

Akan beginikah terus perjalanan kita, hari ini tertawa,esok menangis. Hari ini bahagia esok menderita. Terus berlapis-lapis dan berputar tanpa arah dan tujuan.

Dalam diam aku masih merasakan adanya dirimu. Dalam kebimbanganku aku masih merindukanmu. Aku tak pernah menginginkan ini. Tapi entah takdir macam apa yang menggiringku kemari. Apakah ini akhir dari jaman “Dirimusaurus” ku? ataukah ini awal babak baru kehidupan kita? Aku tidak tahu. Aku hanya ingin berucap, aku masih di sini, untukmu…untuk kita…

Meski rasa telah hambar tertelan dusta. Meski raga telah lelah menanggung derita. Dalam kecewa aku masih bisa tertawa. Oh, kenapa? Aku yang begitu naïf dan bodoh, ataukah dirimu yang sungguh lihai bermain hati.

Kini, aku benar-benar lelah dengan semuanya. Usaikan saja kisah kita. Menangispun tak apa. Hanya cucuran air mata pelega rasa. Cukuplah satu dua hari saja. Untuk menapaki esok yang lebih berharga.

Jakarta, 1 November 2009.

Komentar
  1. herux mengatakan:

    Jadi pengen nangis vi … hiks …
    tanyain dong. jangan diem aja
    tul ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s