Bunuh Diri, Akankah Menjadi Trend Selayak Blackberry?!

Posted: Desember 3, 2009 in Bad News is a Good News?, Secara Menurut Aku...., Yang Lagi Naik Daun
Tag:, , , ,

….tetapi karena dia memutuskan: hari ini, aku bisa mati. (9 dari Nadira, hal:3)

Saya masih membaca cerita kedua, buku 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori ketika pagi-pagi di Trax-FM membahas tentang berita bunuh diri seorang wanita muda di Mall paling elit di Jakarta Grand Indonesia, dan seorang pria di Senayan City.

Di cerita 9 dari Nadira, tokoh Kemala ibunda Nadira diceritakan meninggal karena bunuh diri, saat ditemukan, dia tewas dikamarnya dengan tubuh membiru dan mulut yang mengeluarkan busa putih. Sedangkan kedua berita bunuh diri baru-baru ini, pelakunya sama-sama terjun bebas dari lantai 5.


Kita tak pernah tahu, rahasia apa dibalik keputusan bunuh diri tersebut yang pasti akan terkubur bersama jasad dingin mereka. Pun keluarganya. Yang jelas keluarganya pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Sungguh perilaku tak berperikemanusiaan jika masih ada yang mengaku dirinya manusia, menanyakan kepada keluarga yang ditinggalkan dengan pertanyaan bodoh: bagaimana perasaan Anda menghadapi peristiwa bunuh dirinya anak Anda?

Sering kita dengar pujian, bahkan kadang rasa salut atas kematian Kurt Cobain yang meninggal bunuh diri sebagai pilihan hidup-kematian-nya. Tapi sehebat itukah mati dengan jalan bunuh diri? Juga bunuh diri yang menggunakan dalih-dalih agama?

Dunia sepertinya memang adalah sebuah pistol yang terkokang, jika mengutip tulisan Nugroho Nurarifin. Dan manusia adalah sasaran empuk pelurunya. Kematian bukan lagi hal yang menakutkan. Atau bunuh diri akan menjadi semacam trend baru seperti halnya Blackberry. Bahkan mungkin bisa jadi adalah adanya nanti pilihan rekreasi ke kematian.. Manusia bisa memilih ingin mati seperti apa yang diinginkan. Sungguh sebuah dunia baru yang mencekam dan mengerikan.

Manusia memang seharusnya tidak takut mati. Tetapi akan lebih tepat, biarkan kematian itu datang sendiri. Bukan dicari, didatangkan atau didahului.

Setiap manusia memiliki pilihan. Bahkan hidup itu sendiri adalah sebuah pilihan. Berani hidup atau berani mati?

Kadang secara serampangan kita sering melontarkan keinginan bunuh diri hanya karena hal-hal yang sebenarnya bisa diatasi.Tidak bisa mengerjakan PR, Laptop hang,internet lelet…

Tapi dari semuanya, yang paling rentan untuk mendorong orang untuk bunuh diri adalah: putus cinta…

Sebenarnya, cinta itu membunuh atau menghidupkan ya? Saya tidak ingin mengutip syairnya D’massive, dalam hal ini. Meskipun Romeo dan Juliet juga mati karena cinta. Dan berjuta-juta kisah romansa yang sering mengantarkan tokoh-tokohnya mati karena cinta, what’s the hell it is? Apakah memang benar, kematian demi cinta begitu indahnya? Seperti halnya kemiskinan itu begitu romatisnya?

Saya bukan penganut aliran rela mati demi cinta, bukan pula penganut rela miskin demi cinta….(kok kedengarannya saya sedang mengumumkan pada dunia kalau saya adalah cewek matre..hihihi..). Tapi percayalah, dunia ini adalah memang sebuah pistol yang terkokang, dan kita harus lihai menghindari setiap peluru yang diarahkan kepada kita. Peluru- peluru bisa berwujud cinta tak sampai, patah hati, depresi karena kerjaan dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan Jakarta yang makin absurd ini, memahami teori ketidak pastian, menerima segala kemungkinan sepertinya adalah hal mutlak jika ingin bertahan hidup. Setiap detik adalah kemungkinan-kemungkinan baru. Dan setiap detik memiliki hal ketidak pastiannya sendiri. Satu-satunya kepastian di dunia ini, adalah ketidak pastian itu sendiri.

Adalah sebuah pilihan jika Anda ingin ini dan itu, dan kita menghadapi begitu banyak pilihan dalam hari-hari kita, yang menuntut kita untuk memilih, tapi mudah-mudahan bunuh diri bukanlah pilihan Anda.

Cheers..

-Eviwidi-

Komentar
  1. meilan fitriani mengatakan:

    di jaman sekarang ini, ketika kehidupan makin sulit dan keimanan semakin tipis, orang yang berpikiran pendek akan dengan mudah memutuskan untuk bunuh diri, menganggap bahwa bunuh diri adalah hal yang dapat membebaskannya dari masalah, mungkin benar orang tersebut akan terbebas dari masalah dunia yang sedang dihadapinya, lalu bagaimana dengan kehidupan setelah meninggal nanti…

  2. gedongproject mengatakan:

    teori romeo and juliet ini masih kasak kusik kan. udah baca belom komentar humas senayan siti ttg hal ini?

    http://yoshife.wordpress.com/2009/12/03/mengakhiri-hidup-atau-karir-di-pusat-belanja/

  3. Nur Ali Muchtar mengatakan:

    mati karena cinta?
    kalo cintanya karena cinta “yang di atas” sih no problem
    betul??

  4. stainless tanks mengatakan:

    menurut gua seh tuh org yg bunuh diri dah mati langkah .. ga tau mau kemana lagi .. terlalu byk penderitaan yg dia alami sehingga dia ga kuat lagi menerima penderitaan tersebut ..
    curhat memang bisa menjernihkan .. tapi tidak selamanya .. karena tuh pikiran akan muncul kembali suatu saat .. yahh intinya kalo org sedang depresi jgn di biarkan sendiri aja .. makin sendirian dia akan makin menderita … itu seh pengalaman gua .. tapi yah ga ampe bunuh diri la .. masih bisa menahan ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s