Tanah Gersang

Posted: Desember 14, 2009 in Prosa

Di suatu pagi yang murung, aku terbangun dan mengusap kaca jendela yang berembun. Seakan tak percaya, benih-benih yang kusemai di ladang dan mulai tumbuh yang biasa kutatap setiap pagi, kini lenyap berganti tanah gersang. Aku berlari, menjerit, apakah semuanya selama ini hanya ilusi? Dan aku tak kuasa membendung derai air mata yang terus mengalir. Kini, di tanah gersang ini, aku harus memulai lagi segalanya, SENDIRI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s