Review Buku 9 dari Nadira, Bertahan Hidup Dari Gempuran Persoalan Psikologis

Posted: Januari 3, 2010 in Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi
Tag:, , , ,

———————————————-

Review ini dimuat di Koran Jakarta,

Sabtu, 2 Januari 2010 – Rubrik PERADA.

———————————————-

Judul : 9 dari Nadira
ISBN :   9789799102096
Pengarang :   LEILA S. CHUDORI
Penerbit :   KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
Penerbitan :   2009
Bahasa :   INDONESIA
Sampul :   Soft Cover
Ukuran :   13.5 x 20 cm
Berat :   0.40 kg
Bonus :   Pembatas Buku
Jumlah Halaman :   270 hal
Harga :   Rp 55.000,00

Ini adalah kumpulan cerita pendek.  Cerita – cerita pendek tentang seorang perempuan cantik bermata indah bernama Nadira Suwandi dalam menghadapi persoalan-persoalan psikologis di kehidupannya. Dalam 9 cerita ini, ada bagian di mana Nadira diceritakan oleh tokoh lain, tidak semuanya ditulis dari sudut pandang Nadira sebagai “aku”.

Kisah pertama, dibuka dengan kematian Ibu Nadira di sebuah pagi yang murung; Ibunya ditemukan mati bunuh diri (Mencari Seikat Seruni, hal. 2). Pembukaan cerita yang kelam ini langsung akan membetot perhatian kita untuk lebih jauh tahu tentang dunia yang Nadira hadapi. Kakak Nadira, Nina yang melolong karena kematian ibunya karena pada dasarnya Nina memiliki jiwa yang rapuh dan selalu butuh pengakuan, dan Arya yang paling rajin ibadah akan segera tenggelam dalam lantunan kesedihan sambil membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Sedangkan Nadira, melakukan hal-hal praktis seperti menyiapkan tetek bengek pemakaman termasuk melapor ke Ketua RT. Dari peristiwa ini saja, kita tentu sudah mulai bisa meraba, bagaimana karakter-karakter yang ada dalam kehidupan Nadira.

Tidak hanya tokoh-tokoh keluarga yang akan muncul dalam kehidupan Nadira, ada Utara Bayu, atasannya di Majalah Tera tempatnya bekerja (Tasbih, hal. 94) yang jatuh cinta pada Nadira namun tidak berbalas. Ada Kris, rekan sekerjanya yang “mengamati” Nadira dari jauh sambil membuat sketsanya (Sebilah Pisau, hal. 182).  Ada Niko, suaminya yang memberinya seorang anak laki-laki namun akhirnya bercerai (Kirana, hal. 166), dan kisah dua saudara Nina dan Nadira di hal. 36 yang memperjelas tentang keduanya : mereka seperti sepasang rel kereta api yang tidak akan pernah bersentuhan (hal. 49). Ada Bapak X seorang psikopat genius, Tito Putranto seorang pengusaha kaya dan berselera tinggi  yang sangat memegang teguh perjanjian dan akan memberi “pelajaran”  bagi siapa saja yang mengingkari perjanjian dengannya serta sangat menghormati ibunya.

Kesembilan kisah yang disodorkan Leila, bagai kepingan-kepingan kisah, yang memiliki awal dan akhir. Namun tetap memiliki benang merah cerita yaitu tokoh-tokohnya, terutama Nadira sebagai tokoh sentral. Dengan mengambil setting cerita di  beberapa kota di Indonesia, Amsterdam-Belanda, Victoria, B.C., Kanada, Paris-Perancis, dan New York-USA membuat cerita dalam buku ini terasa menarik dan tidak membosankan. Meskipun dalam balutan kisah-kisah yang cenderung kelam, dengan beragam tokoh yang memiliki karakter masing-masing, namun Nadira berusaha untuk tetap tegar menghadapi segala hal dalam hidupnya. Dia tetap untuk berusaha survive dan terus hidup. Inilah esensi yang bisa ditangkap dari buku 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori ini.

9 dari Nadira, merupakan buku Leila setelah absen 20 tahun tidak menerbitkan buku. Buku sebelumnya berjudul “Malam Terakhir”  yang diterbitkan pada 1989. Menyusuri jiwa tokoh-tokohnya yang begitu beragam, mau tidak mau akan membawa kita ke dalam imajinasi tentang kehidupan Nadira sebagai wartawan, Istri, anak dan seorang kekasih. Semua tertuang dalam rangkaian kisah cerita pendek ini. Karya sastra yang satu ini, layak untuk mendapat tempat di hati Anda.  Dengan kepiawaian Leila mengungkapkan cerita, memilih kata dan merangkaikan menjadi kalimat, dan kisah yang menyedot kita ke dunia rekaannya tanpa kesan dibuat-buat atau memaksa, adalah pengalaman mengikuti kisah persoalan psikologis yang mengesankan.

Eviwidi (Blogger, Book Reviewer)

Komentar
  1. sinta mengatakan:

    sejauh ini baru mengenal sosok leila chudori sebagai penulis bertema muram, tanpa pernah bersentuhan dengan karyanya…kayaknya mw beli buku ini dah ^^ mkasih mbk evi

  2. oipiyah mengatakan:

    Hmmm…..

    Jadi pengen baca….

    (tapi, gak pengen beli, hehehehe).

  3. faris vio mengatakan:

    ikut nimbrung …

  4. BookWorm mengatakan:

    Kalau dari yang saya baca sekilas sih …
    9 dari Nadira itu sepertinya beda ‘genre’ dengan Malam Terakhir.
    Atau cuma harapan saya?
    Karena jujur, saya kurang suka dengan gaya penulisan Malam Terahir yang selalu muram dan serius, tanpa memasukkan humor.
    Kalau dilihat dari track-record Mbak Leila sewaktu masih menulis di majalah Hai, saya harap 9 dari Nadira juga manis dan mengharukan seperti cerpen-cerpennya dulu.🙂

  5. triana.. mengatakan:

    ceritanya sangat menarik dan bagus untuk di baca…!!^-^

  6. Ayu R. Widati mengatakan:

    9 Dari Nadira memang bacaan yang cukup berat.
    Novel ini mengunggah problema kehidupan berawal dari cerita gantung diri ibu tercinta, sepeninggal ibunya, alur hidup Nadira pontang-panting tak keruan. Dia bagaikan berlari mengejar benang layang-layang yang diterbangkan angin. Tambah lagi, background keluarga Nadira yang tumbuh dari keluarga elite smart jurnalistik,semakin mempertegas kesan serius. Pilihan kata atau diksi nya juga tak jauh-jauh dari bahasa koran.
    Walopun begitu, membaca novel ini cukup menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s