Review Film “?” (Tanda Tanya): Khotbah Tentang Pluralisme?

Posted: April 18, 2011 in Resensi Film
Tag:, , , , , , , ,

Inilah film yang menggiring para pejabat di MUI untuk menggelar rapat khusus tentang film “?” (Tanda Tanya) garapan Hanung Bramantyo.  Dan sepertinya MUI cukup (atau bahkan mungkin terlalu?) sensitif menanggapi masalah ini.

Film yang diangkat konon berdasarkan kisah nyata ini, pada kenyataannya hanya memotret peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masyarakat kita, yang berkaitan dengan kehidupan beragama,  kemudian dijalin dalam rangkaian sebuah skenario film. Pendalaman karakter dan profesi yang dipilih Hanung,  terasa kurang memadai. Kurangnya pendalaman informasi profesi yang diangkat dalam film ini, sangat terasa pada tokoh Soleh yang berperan sebagai Banser  NU. Dalam film ini digambarkan Banser merupakan profesi sementara pada kenyataannya Banser adalah salah bentuk pengabdian dan anggotanya tidak ada bayaran atau gaji.

Cerita yang dihadirkan lebih mirip potongan-potongan kecil kemudian disatukan menjadi satu. Sehingga dengan banyaknya bingkai-bingkai cerita yang berbeda, film ini lebih terasa seperti kumpulan cerpen.  Untungnya para pemain yang terlibat bermain dengan sangat apik sehingga terlepas dari kisahnya film ini sebenarnya bisa dinikmati selain potongan-potongan gambar yang diambil Hanung sebenarnya sangat elok dipandang.

Kisah 1:

Menuk (Revalina S Temat) digambarkan sebagai wanita cantik, alim, berjilbab, bekerja di retoran makanan China yang tentu saja mengandung babi.  Menuk hidup di sebuah kota bersama suaminya yang pengangguran, Soleh (Reza Rahadian). Inti permasalahannya Soleh merasa sebagai manusia tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan, dan setiap hari dihantui rasa tidak percaya diri.

 Kisah 2:

An Kat Sun (Henky Sulaiman) pemilik restoran tempat Menuk bekerja memiliki istri yang pengertian, dan dalam menjalankan usaha restorannya, An Kat Sun sangat menghormati pegawai-pegawainya yang beragama Islam. Sering kali An Kat Sun mengingatkan pegawainya untuk menunaikan salat jika sudah waktunya. An Kat Sun memiliki anak laki-laki Ping Hen (Rio Dewanto). Ping Hen digambarkan sebagai “pemberontak” dalam keluarga tapi tidak jelas masalahnya apa, dan memiliki hubungan masa lalu dengan Menuk.

Kisah 3:

Rika (Endhita) seorang Ibu muda yang awalnya beragama Islam, setelah bercerai dari suaminya karena tidak mau dipoligami, memilih keputusan untuk pindah ke Katolik. Rika memiliki hubungan khusus dengan Surya (Agus Kuncoro) seorang aktor melarat yang hidup di Masjid dan akhirnya dapat “peran” dalam sebuah pementasan drama di Gereja sebagai Yesus. Rika adalah sabahat Menuk.

Tiga kisah ini bergantian saling mengisi satu dan yang lain, dengan menampilkan problematika-problematika yang ada dalam masing-masing tokohnya. Dan khotbah tentang kerukunan beragama bertebaran di sepanjang film yang disampaikan baik oleh tokoh Ustadz maupun Pendeta.

Secara garis besar, film ini sepertinya memang sangat ingin menyodorkan bahwasanya plurarisme merupakan sebagai pilihan untuk menjalani hidup di tengah perbedaan umat beragama di Indonesia. Salah satu bentuk ungkapan kegelisahan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi terkait dengan kerukunan umat beragama di Indonesia saat ini.  Dan  hal itu menjadi titik sensitif yang di bahas oleh pihak MUI. Barangkali bagi Hanung sendiri, pluralisme merupakan tanda Tanya besar untuk dijawab oleh siapa saja dengan melempar film ini.  Dan khotbah-khotbahnya semakin diperkuat dengan mengambil cuplikan ayat dari kitab agama Islam, Kristen dan Budha pada akhir film.

Tema yang sensitif ini, cukup mengena dan bisa cepat menjadi pembicaraan hangat, maka tak heran, film ini juga penuh saat diputar di bioskop. Terlepas dari segala kekurangan dan kritik pedas terhadap Hanung, film ini sebenarnya cukup berhasil di pasaran. Bahkan isu-isu “haram” yang muncul seiring dengan diputarnya film ini, malah justru menjadi semakin film ini makin dicari oleh penonton. Ah, ujung-ujungnya tetap saja itu menjadi  praksangka strategi marketing!

Cheers..

Eviwidi

Referensi terkait:

http://entertainment.kompas.com/read/2011/04/14/22231735/MUI.Belum.Keluarkan.Fatwa.untuk.Film.Hanung

http://entertainment.kompas.com/read/2011/04/07/08240674/Film.Tanda.Tanya.Dikecam.Banser.NU

http://today.co.id/read/2011/04/14/24957/mui_gelar_rapat_khusus_bahas_film_hanung

Komentar
  1. adam mengatakan:

    Assalamualaikum Ukhti…
    Salam ukhuwah…

    Sekedar menyampaikan kata hati dari seorang hamba…
    Mohon maaf sblm nya kami tidak sependapat dengan sdr hanung tentang pluralisme ini..
    Membahas masalah Film “?” sesuai dengan thread di atas
    kami ingin mengupas sedikit masalah :

    1. ketika seorang wanita (diperankan Endhita) yang sebelumnya beragama Islam kemudian berpindah agama alias murtad menjadi seorang pemeluk Nasrani yang taat. Ada sebuah ungkapan yang terlontar dari bibir sang murtadin tadi, bahwa dirinya pindah agama tidak berarti mengkhinati Tuhan. Pesan yang disampaikan dalam film ini adalah manusia berhak menjadi murtad, dan itu adalah hak asasi yang patut dihargai.

    2.Adegan yang lebih menyengat lagi adalah ketika seorang pemuda Muslim (diperankan Agus Kuncoro) bersedia diajak bermain drama di sebuah gereja pada perayaan Paskah, dengan memerankan sebagai Yesus Kristus. Mulanya hatinya galau, tapi setelah berkonsultasi pada seorang ustadz muda (diperankan oleh David Khalik), ditemukan jawaban yang amat sesat menyesatkan.

    Katanya, bahwa untuk menjaga keimanan bukan terletak pada fisik, melainkan hati. Maka masuk gereja, bahkan memerankan aktor sebagai Yesus sekalipun bukan sesuatu yang subhat dan diharamkan. Bagi Hanung, hal itu tak perlu dipersoalkan.
    Serasa kontras, usai memerankan Yesus, pemuda muslim yang sehari-hari tinggal di masjid itu pun melafadzkan QS. Al Ikhlas. Hanung ingin menggambarkan, memerankan Yesus bukan ancaman yang bisa mendangkalkan akidah keislaman seseorang. Justru ia semakin shaleh. Inilah kampanye pluralisme yang diusung Hanung.

    Kok bisa, QS Al Ikhlas yang menegaskan bahwa Dia (Allah Swt) Tuhan yang Maha Esa. Tuhan tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tapi oleh Hanung, Al Ikhlas ditafsirkan secara serampangan dengan kacamata pluralis, yang membenarkan Yesus sebagai anak Tuhan. Setidaknya Hanung ingin menghantarkan seorang Muslim menjadi hipokrit bahkan musyrik.

    Kami yakin di masa2 mendatang musuh2 islam tdk perlu repot2 lagi memurtadkan kaum muslimin dengan iming2 Beasiswa,kuis berhadiah BMW,mendatangi rumah2 dsb,..toh umat muslim sendiri berbondong2 menuju jalan pemurtadan dengan biaya sendiri…Naudzubillah..!!
    Wacana selanjutnya adalah mendatangkan artis2 porno yang terkenal di dunia…sebagai usaha untuk melegalkan pornografi di negara tercinta ini..ikutilah langkah2 mereka ini..dan tak lama kemudian kita akan masuk dan terjebak ke dalam lubang biawak seperti yg di katakan Rasullulah SAW

    Di thread di atas juga kami menemukan pertanyaan hanung ..”selain pluralisme lalu apa dong?”

    Di dunia ini segala macam sistem telah di coba..pluralisme,kapitalisme,liberalisme,tetekbengekisme
    Semuanya adalah sistem gagal…hanya satu sistem yang telah tercatat sejarah yang mampu mensejahterakan seluruh rakyatnya selama ratusan tahun..yaitu menegakkan syariat islam dgn Kaffah dengan sistem Khalifah yang telah nyata2 di terangkan di dalam Al Quran..dulu Afghanistan di bawah Mullah Umar (Taliban) pernah menegakkan sistem ini..baru mulai beranjak ,ekonomi mulai meningkat akhirnya di bombardir hingga skrng oleh musuh2 islam..apakah saudara hanung takut menerapkan hukum ini…”TANDA TANYA BUAT HANUNG”

  2. eviwidi mengatakan:

    Waalaikum salam,

    Adam saudaraku.. terima kasih banyak atas sharing opininya..
    Saya ingin melakukan koreksi, untuk kalimat “selain pluralisme lalu apa dong?” itu adalah kalimat hasil analisa saya sebenarnya, jadi bukan kalimat saudara Hanung.. untuk supaya tidak menimbulkan lagi salah sangka, saya telah menghapusnya.

    Dalam kasus film “?” ini, saya hanya memandang hal itu sebagai salah satu karya manusia biasa saja, yang pasti akan sangat banyak kekurangannya, jadi saya tidak ingin terlalu berlebihan dan larut dan perdebatan.

    Dan saya tidak mau terjebak untuk menjadikan tontonan sebagai tuntunan, dan akhirnya tuntunan jadi tontonan. Justru sebaliknya saya ingin sekiranya film ini bisa menjadi bahan diskusi itu yang menjadikan kita bisa bersilaturahmi, mempererat tali persaudaraan, menambah saudara, dan bukan malah menimbulkan emosi atau perpecahan di antara umat muslim sendiri.

    Kita yang sudah dibekali akal yang demikian sempurna oleh Allah, tentunya bisa memilih dan memilah sendiri mana yang baik mana yang buruk, mana yang hitam, abu-abu, juga putih..

    Demikian dari saya, kurang lebihnya mohon dimaafkan..kesempurnaan hanya milik Allah semata..

    Wassalam.

    Evi

  3. adam mengatakan:

    Assalamualaikum Ukhti
    Salam Ukhuwah

    Terimakasih sudah menanggapi komentar kami
    Sungguh tidak ada niatan kami untuk menghina ataupun melecehkan suatu kaum niatan kami hanya semata2 karna Allahta’alla demi mengharap ridhonya, kami hanyalah setetes air di tengah samudra ilmu yang maha luas kami hanya menyampaikan yang HAQ walau hanya satu ayat..

    Setelah pemutaran Film “?” ini banyak sekali komentar2 mengenai film tsb Memang Benar adanya bahwa yang punya hak preogatif penuh untuk menentukan benar-salah, baik-buruk,hitam-putih sesat-lurus itu adalah Allah SWT semata. TAPI, Allah SWT ketika sudah merumuskan semua itu, Dia lantas tidak menyimpan rumusan itu dilangit hanya untuk diri-Nya sendiri.

    Melalui kitab suci dan Nabi-Nya, Dia menyebarkan rumusan itu untuk diketahui, dipelajari, dan dilakukan oleh manusia sebagai referensi ketika sewaktu-waktu manusia ingin menentukan mana yang baik-buruk, benar-salah, sesat-lurus.
    Jadi, bukan hal yang salah atau dilarang jika manusia ingin menilai, memahami, atau menghakimi, jadi carilah sumber yang tepat dari Maha yang Sumber, bukan cuma karena nafsu dan akal semata.

    Jika tetap berpegang pada persamaan “manusia tidak tau apa-apa tentang baik-buruk, benar-salah, sesat-lurus,” dan membiarkan kehidupan ini berjalan apa adanya dengan tetap berpegang pada persamaan itu, bayangkan betapa chaos-nya akan terjadi di dunia ini, setiap manusia bebas merumuskan kebenarannya sendiri. Jika rumusan baik-buruk, benar-salah, hitam-putih,sesat-lurus itu tidak disebarluaskan Allah SWT melalui wahyu,Kitab dan Nabi Nya, lalu untuk apa fungsi Tuhan/agama?

    Maha benar Allah Dengan segala Firmannya..pertanyaan tersebut kami khusus kan kepada diri kami pribadi sebagai bahan renungan kami

    Demikian pandangan kami yang awam ini ukhti..
    mohon maaf jika ada kata2 kami yang kurang berkenan..karena kami hanya manusia lemah yg hanya mengharap ridho dari Allah SWT

    semoga kita semua dapat mengambil hikmah
    Saling nasehat menasehati dalam kebaikan..
    dan yang terpenting memperkuat ukhuwah islamiyah

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya”
    [Al Ma’idah:2]

  4. budi barata mengatakan:

    ikhwan dan akhwat sekalian…. jgn terjebak dengan film itu hanyalah sebagai rambu2 biasa yang sesat lagi menyesatkan untuk berbelok ke jalan yang memandang bahwa agama di muka bumi ini sama, kalau memang sama pasti di dalam al quran akan difirmankan bahwa ALLAH itu berbentuk patung, atau berbentuk orang atau apalah… film sesat kyk gini memang gk layak edar, hanya akan membuat orang tidak ber acu kepada al quran dan as sunnah tetapi “Koran dan sunah” atau hanya ber acu kepada sesuatu sumber yang belum jelas benar atau tidaknya

  5. Emperor Nero mengatakan:

    Ada kumpulan komentar yang menarik tentang pluralisme:
    http://www.kaskus.co.id/showpost.php?p=730652140&postcount=3

    Mohon ditengok ya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s