[Cerpen Kolaborasi] Terhubung

Posted: Juni 11, 2011 in event, Penulisan, Prosa
Tag:, ,

Oleh: Eviwidi & Granito Ibrahim

Aku heran, pekerjaan begini banyak tidak satupun yang menarik. Membuat kata sambutan, menulis beberapa paragraf pada lembar profil perusahaan, iklan-iklan yang menyesatkan, ah kenapa pula tak ada yang menantang. Bukannya apa, seringkali memanipulasi data bukan keinginanku. Kata-kata adalah senjata promosi dan aku tidak ingin menyalah gunakan untuk membunuh, memengaruhi masyarakat pada ketidak jelasan sebuah manfaat produk industri. Dan ini jebakan, aku butuh pemasukan, namun bukan cara seperti ini. Keinginanku untuk menulis cerpen sudah beberapa lama memudar. Butuh mood yang luar biasa. Dan aku dalam masalah.

Aku sering bertengkar dengan Mel akhir-akhir ini, perbedaan yang mencolok mulai terkuak. Aku memilih malam hari untuk bekerja sementara Mel memulai segalanya pada pagi hari. Dia sudah terbiasa dengan jam biologisnya dan aku dengan kebiasaan melawan hukum alam. Malam hari adalah waktu yang super tepat untuk penulis sepertiku, bebas dari hiruk pikuk sekitar sehingga seluruh pikiranku begitu fokus untuk mengembangkan imaji dan kreatifitas. Mel sulit mengerti akan hal ini. Dan ini awal segala permasalahannya.


Aku sadar, tak dapat mengubah cara pandang seseorang, namun lalu lintas argumentasi tetap berjalan dan seperti biasa aku dan Mel bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Aku mencintai Mel dan begitu pula sebaliknya, sayangnya otak kiri kami mendominasi hubungan ini, berlarut-larut hingga pada sebuah bentuk benang yang kusut. Kami berdua sulit mengurai gumpalan benang itu agar dapat kembali rapih terjalin, yang ada malah semakin ruwet dan kami berlama-lama dengan keruwetan itu. Tidak ada yang salah dalam hal ini dan mungkin tidak satupun yang benar pula.

Suara Hayley Williams menggema dari ponsel di atas meja kerjaku. Aku beranjak dengan malas mengangkatnya, ada suara Siska rekan sesama penulis yang juga kadang berperan sebagai malaikat tak bersayapku soal job menulis.

            “Frank, hello…are you okay?” Suara Siska semacam orang khawatir aku akan segera mati.

            “Ya, cyiin… kenapa?, aku baik-baik saja..seperti Pingkan Mambo..” Jawabku asal.

            “Gokil lo ya, seminggu matiin hp, email gak direply, mention twitter gak dibalas, nge-wall FB gak ada tanggepan..kemana aja Pak? Lo gak bikin acara bunuh diri secara berencanakan?”

            “Hahaha… lo kali yang gelo, gue masih mau hidup kali bok, gue lagi ada sedikit masalah sama Mel, tahu nih.. agak puyeng kepala euyy..”  Aku pindah duduk ke sofa untuk bercakap-cakap lebih nyaman dengan Siska. Untuk urusan telpon menelpon Siska sangat irit, jadi begitu dia telpon pasti ada hal yang sangat penting. Oh Tuhan semoga ada job menulis yang honornya 1 M, amin. Aku berdoa sembarangan, Tuhan, maafkan aku.

            “Lo inget Jasmin gak Frank? Yang pernah ketemu kita di PlazaIndonesiatahun lalu waktu peluncuran produk kosmetik. Itu loh..yang lagi heboh di Infotainment.. yang sedang terlibat kasus trafficking dengan salah satu pejabat Negara..” Siska mulai membuka percakapan, Jasmin? Apa pula hubungannya denganku?

            “Jasmin? Iya tahulah…. Bintang film itu.. emang ada masalah apa sama kamu?”

            “Bukan dengan gue, dia pengen dibikinin buku, dan minta elo yang nulis… manajernya kirim email ke gue seminggu yang lalu..kalau lo mau honornya 1 M, 500 juta bayar dimuka!”

            “What???” aku hampir membuang ponselku saking terkejutnya. Doaku yang sembarangan semenit yang lalu, sekarang begitu saja terwujud. Oh my God, kenapa cepat sekali terkabulnya? Aku masih bengong.

            “Frank, Franky… hello…” Suara Siska memanggil-manggil.

            “Ya, Sis…. Aku masih shock ini, kamu gak becandakan?”

            “Ya, gak lah… SERIUS, dengan huruf kapital dan dibold, puas loh?! Ya sud, kalau kamu mau, cepat ke rumahku kita langsung bikin janji ketemuan dengan Jasmin hari ini juga, aku tunggu, gak pakai lama!”

            “Siap..Sis..” aku segera bergegas ke kamar mandi, dan siap-siap ke rumah Siska.

***

Sepatu High heels Manolo Blahnik desain terbaru, menyentuh ujung celana jean lusuhku, Jasmin pemiliknya tersenyum sambil menyalakan sebatang rokok, di sebuah senja yang redup karena mendung, pada sebuah kedai kopi internasional dalam mal di Jakarta Selatan. Ntah berapa juta rupiah kalau dikalkulasi dari ujung kaki hingga kepala semua property yang hari ini dipakai Jasmin. Bah, mungkin aku bunuh diri saja kalau punya istri dia. Oh, tidak….dia yang akan memberiku 1 M. Aku kembali menenangkan pikiran.

“Franky, aku sudah baca semua tulisan-tulisanmu, dan aku berharap kita bisa bekerja sama, sederhananya, aku ingin kamu membuat buku tentang aku dan tolong tulis yang baik-baik saja. Kamu tahu, aku sekarang sedang ada masalah, si bangsat itu mulai menyanyi di depan wartawan. Aku tak mau terus-terusan jadi tambang emas media, demi Tuhan, mereka harusnya membayar mahal padaku untuk semua sampah yang ditulisnya tentang aku”.  Jasmin menghela napas, lalu menghisap dalam-dalam rokok yang terselip di jarinya yang teramat lentik.

            “Berapa lama  aku harus mengerjakan ini?”

            “1 bulan, sanggup?” Jasmin memandangku tanpa berkedip. Oh my God, 1 bulan 1 M, aku hampir menendang meja di hadapanku saking girangnya. Tapi aku harus jaga image, jadi aku bersikap sok cool menanggapi pertanyaanya.

            “1 bulan ya…hemm… tapi untuk tulisan biografi semacam itu aku butuh waktu untuk riset tentang data kamu Jasmin, jadi mungkin aku perlu tinggal di rumah kamu selama satu bulan selama proses penulisan itu…supaya  lebih efisien dan aku butuh ruang kerja…”

            “Tinggallah di rumahku, aku ada rumah kecil di sebelah rumahku yang juga biasa dipakai ruang kerja asistenku kalau sedang ada project, selama proses ini, kamu akan dibantu sepenuhnya oleh asisten yang mengurus dokumen-dokumenku, kamu bisa ketemu dan ngobrol denganku sebelum subuh selama 1 jam, karena aku sedang ada syuting film terbaru dan aku pergi syuting selepas subuh.”

            “Ok, kalau begitu..deal..” Jasmin tersenyum dan menuliskan alamatnya di secarik kertas lantas menyorongkannya padaku.

            “Ini alamat rumahku, tolong ini adalah secret project, aku minta kamu jangan membocorkan ini lewat social media manapun sebelum buku launching,surat kontrak silakan nanti kamu pelajari dan tandatangani di rumahku dengan asistenku.”

***

            Aku meninggalkan catatan kecil di kulkas untuk Mel, entah kapan Mel akan membacanya, sejak pertengkaran hebat 3 hari yang lalu, Mel belum kembali ke rumah, dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Tapi aku tahu Mel, dia pasti bisa menjaga diri, mudah-mudahan saat ini dia dalam keadaan baik-baik saja, di suatu tempat, dan akan segera kembali begitu mulai tenang, doaku kembali bergema dalam ruang hatiku.

            Bergegas aku rapikan tas berisi baju-baju untuk dibawa ke rumah Jasmin di kawasan menteng. Tekadku sudah bulat, selepas project ini aku akan membawa Mel ke Mediterania dan menikmati liburan a la bulan madu kesana. Jadi aku akan bekerja sebaik-baiknya; untuk Mel, untuk hubungan kami.

            Taksi yang kutumpangi subuh ini melaju dengan mulus, jalanan Jakarta yang biasa macet masih lengang, dan memasuki kawasan menteng yang penuh rumah-rumah mentereng membuatku sedikit mual bila dihubungkan dengan berbagai kasus korupsi yang makin parah di Negara ini.  Begitu memasuki rumah Jasmin, aku segera disambut satpam dan seorang asisten. Rumah besar nan mewah ini begitu senyap. Hanya bunyi air mancur di taman depan rumah yang sedikit memberi aroma kehidupan.

            Asisten Jasmin mengantarkan aku ke sebuah rumah mungil, yang canggih peralatannya. Monitor komputer dengan logo buah apel seolah memanggil aku untuk segera menyentuhnya. Setelah berbasa-basi sejenak dan menunjukkan apa-apa saja yang ada di rumah itu, aku mulai membaca file-file lama punya Jasmin. Project film, charity, kunjungan misi budaya, foto-foto lama sewaktu masih kuliah diAustralia, berita-berita dari Koran dan majalah lama, semua lengkap menungguku memerasnya untuk menjadi sebuah buku. Untuk sebuah buku biografi sebenarnya dibutuhkan waktu minimal setahun masa riset dan pengerjaan. Tapi demi Mel, aku menyanggupi untuk satu bulan saja pengerjaannya. Kadang hidup memang perlu sebuah kegilaan untuk tetap bisa survive.

            Aku hampir tidak mengalami kendala dalam project ini, terima kasih untuk Tuhanku yang maha baik. Dan sebulan berlalu, tibalah saat buku tersebut diluncurkan. Hari ini aku menggenggam tangan Mel. Ya, Mel telah kembali beberapa hari sebelum project-ku selesai. Kami bercinta siang malam untuk meledakkan semua masalah….masalah kerinduan biologis. Dan Mel, sepertinya sudah benar-benar pulih. Dia kembali segar dan ceria, meskipun tidak pernah sedikitpun menyinggung dan berbicara kemana perginya selama hampir satu bulan meninggalkan rumah. Ah, sudahlah..yang jelas saat Mel kembali disisiku, apa lagi yang harus aku risaukan?

            Aku mengenalkan Mel dengan Jasmin dalam sebuah jamuan makan malam yang formal, yang dihadiri oleh relasi dan kolega Jasmin yang hampir kesemuanya mahluk awang-awang, kalangan jetset dengan tas atau sepatu yang mustahil aku beli. Aku pakai kemeja terbaik dan sepatu terbaik malam itu, demikian juga Mel memakai gaun terbaiknya. Jamuan singkat itu juga diadakan untuk peluncuran buku Jasmin. Mel tersenyum bahagia dan langsung akrab dengan Jasmin. Ini agak aneh menurutku. Mel bukan tipikal wanita yang mudah akrab dengan orang baru. Tapi entahlah dengan Jasmin, rasanya Mel seperti tak berjarak. Saat pesta usai aku mengajak Mel untuk sekedar jalan-jalan menikmati malam diJakarta. Aku masih rindu dengan Mel.

            Dan aku memberanikan diri untuk mengajak Mel melakukan perjalanan ke Mediterania, seperti rencanaku semula, dan aku berharap Mel akan menyambutnya dengan antusias, karena memang dia sudah lama memimpikan bisa berlibur ke Mediterania. Tapi jawaban Mel malam itu sungguh diluar dugaan, dia memilih bertahan diJakartadengan berbagai alasan yang sepertinya kurang masuk akal. Tapi aku berusaha untuk sabar, ya mungkin besok dia akan berubah pikiran… jadi aku putuskan besok lagi aku mengajukan proposal padanya untuk berlibur.

            Entah kenapa, sejak pulang, Mel seperti sering berubah-ubah mood-nya, Mel memang sejak dulu sering moody, tapi tidak separah saat ini. Pagi hari masih tertawa..siang hari sudah menangis tersedu-sedu dan setiap kali aku tanyakan kenapa, tak satupun jawaban keluar dari bibirnya, hanya memelukku dengan erat. Sangat erat. Okay, ini pasti ada yang tak beres. Sore harinya, Mel pamit akan pergi ke suatu tempat, akan bertemu dengan kawan lama katanya. Aku menawarkan diri untuk mengantarkan, tapi Mel memilih untuk naik taksi. Aku hanya tersenyum dan berkata; “hati-hati”. Dan Mel balas tersenyum.

            Adarasa kekhawatiran yang mendera, dan aku memutuskan untuk membuntuti taksi yang membawa Mel pergi. Mel, maafkan aku, aku bukan ingin mencampuri urusanmu, sumpah, tapi aku sangat khawatir dengan kamu sayang. Aku berbicara dengan pikiranku. Aku tetap menjaga jarak dengan taksi yang ditumpangi Mel. Sampai akhirnya taksi yang membawanya menuju sebuah rumah besar….rumah yang tak asing lagi…oh my god, inikan rumah Jasmin?!Ada urusan apa Mel dan Jasmin? Aku segera meminggirkan mobilku dan menunggu dengan resah. Aku mulai mengingat-ingat kembali hubungan Mel dan Jasmin. Setahuku mereka hanya kenal saat jamuan peluncuran buku, atau ada  jamuan-jamuan lain diluar itu yang aku tak tahu? Atau Mel dan Jasmin sebenarnya sudah saling kenal sebelumnya? Tapi mengapa Mel selama ini tidak pernah cerita soal Jasmin? Berbagai pertanyaan berhamburan di kepalaku. Tak satupun punya jawaban yang memuaskan, dan akhirnya aku hanya bisa  menunggu di mobil, menunggu Mel keluar dari rumah besar itu….

            Hingga malam turun dan hampir berganti pagi, Mel belum keluar juga, aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan akan menanyakan soal Jasmin kepada Mel kalau Mel telah kembali. Aku terkesiap saat ada usapan lembut di keningku, tangan Mel.  Aku membuka mata pelan-pelan dan menahan tangan Mel dalam genggamanku.

            “Sudah pulang Mel?” Pertanyaan bodoh, tapi ntah kenapa aku selalu saja menanyakan pertanyaan pada Mel yang sebenarnya tak perlu jawaban. Mel hanya tersenyum lalu mengambil posisi duduk di sebelahku.

            “Franky, maafkan aku… “ kata-kata Mel tersendat.

            “Adaapa Mel?” aku segera memeluknya seperti biasanya.

            “Aku tak sanggup lagi Frank…aku tak sanggup… untuk terus berdusta di hadapanmu…aku..aku…mencintai Jasmin Frank…” Dan tangis Mel pun pecah…dan pecah pula rasanya isi kepalaku. Tak perlu lagi aku interogasi kenapa Mel ke rumah Jasmin kemarin sore, tak perlu lagi kutanyakan apa kepentingannya kesana, dan ada hubungan apa…perlahan aku melepaskan pelukan, dan menutup wajahku rapat-rapat dengan kedua telapak tanganku. Aku menangis.

            Dan hampir dua bulan setelah itu, Mel tak pernah terdengar kabar, hingga suatu hari yang diwarnai hujan rintik-rintik pagi itu, aku membuka Koran pagi sambil menyeduh kopi, dan mendapati headline tentang diketemukannya seorang wanita muda yang meninggal diduga karena over dosis di sebuah hotel mewah, dengan ciri-ciri dan identitas yang membuatku ingin menghantamkan kepala di tembok…wanita itu Mel….Melati… Melati-ku… !

            Aku terduduk lesu di lorong sebuah rumah sakit, hingga seorang suster memanggil;

            “Keluarga Ibu Melati…”

            “Ya, suster..saya suaminya..”.

****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s