Membakar Buku dan Mengakui Kesalahan

Posted: Juni 15, 2012 in Bad News is a Good News?, buku baru, Secara Menurut Aku....
Tag:, ,

ImageDalam beberapa hari terakhir, dunia perbukuan kita diguncang oleh peristiwa yang kurang nyaman untuk didengar; pembakaran buku.

Buku yang dibakar dan menjadi polemik tersebut berjudul : “5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia” karya Douglas Wilson.  Buku tersebut merupakan buku terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit terbesar Indonesia: Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Sangat disayangkan, penerbit sebesar GPU  akhirnya harus menelan pil pahit dengan membakar sendiri  buku yang diterbitkannya. Tapi paling tidak kejadian ini harusnya bisa menjadi pembelajaran penting  untuk lebih berhati-hati,  tentang dampak buku jika sudah diterbitkan di masyarakat.

Dalam hal ini, GPU cukup berwibawa dengan tidak jumawa mempertahankan buku tersebut dan meminta pembenaran peredarannya. Tapi memilih menariknya, meminta maaf dan mengakui keteledoran, kemudian membakarnya. Dalam poin ini, GPU sudah melakukan hal yang boleh dibilang “gentlemen”.

Penegakan sesuatu masalah benar salah memang seharusnya harus dengan sikap tegas.  Jika A ya A, jika B ya B tidak boleh setengah-setengah atau abu-abu.  Dalam kasus buku ini, sudah sangat jelas, isi buku tersebut penulis menghina Nabi Muhammad SAW.  Berikut ini screenshot  yang diambil dari buku aslinya, dan bisa dibaca via Google Books.

Image

Secara pribadi sebagai umat Islam, ketika membaca tulisan dari Douglas Wilson yang menuliskan tentang Nabi Muhammad SAW secara semena-mena, tentu sangat marah.

ImageDalam substansi masalah ini, buku tersebut memang tidak seharusnya beredar di Indonesia, yang mayoritas adalah kalangan umat muslim. Jadi sudah seharusnya ditarik dari peredaran oleh penerbitnya. Ketika buku itu sudah kembali ke penerbitnya, eksekusi selanjutnya adalah hak penerbit mau memilih cara apa untuk memusnahkannya. Apakah kertasnya dijadikan bubur dan di daurulang, apakah dibakar, ataukah dirajang, itu sepenuhnya hak penerbit. Yang jelas, buku tersebut tujuannya musnah, dan tidak ada banyak orang lain lagi yang membacanya dan menekan penyebarannya.

Lalu apakah proses ini adalah bukti pembungkaman terhadap kreatifitas? Dalam kasus ini tentu tidak. Buku tersebut versi aslinya tetap bisa dibeli kok di Amazon. Buku tersebut bisa bebas beredar di Negara lain, dan penulisnya juga bisa hidup di negaranya. Namun, ketika buku tersebut sudah diterjemahkan ke bahasa kita, dengan mayoritas penduduk muslim, masalah tersebut tentu menjadi masalah yang sangat sensitive, dan pasti akan terluka karena  tulisan penulisnya, tentunya sangat tidak pantas untuk dipertahankan peredarannya.

Bagaimanapun, penerbit juga diisi oleh manusia biasa, yang bisa melakukan kesalahan.  Mudah-mudahan kesalahan ini adalah tonggak penting untuk lebih berhati-hati.  Mata pena maupun Keyboard kumputer  bisa lebih tajam dari mata pedang ketika melukai orang lain bahkan  bisa memecah belah suatu kaum juga negara.***

Salam,

Eviwidi

Komentar
  1. fruitcake mengatakan:

    Dalam kasus kemarin, ada beberapa elemen menarik dlm peristiwanya, dari sudut pandang saya.

    1) Muatan bahaya dalam buku tersebut.
    Douglas Wilson menulis dengan sudut pandang yg sama sekali tidak ramah terhadap Islam. Penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW selalu jadi alasan umat Islam utk mengamuk. Apalagi ada FPI yg selalu jd alat entah siapa utk memanaskan suasana. Jadi bahayanya di sini adalah amuk massa akibat tersinggung.

    2) Model bisnis Gramedia
    Dari sudut pandang industri, berdasarkan diskusi saya dgn seorang kawan berinisial CP/LL yg sudah wara-wiri di lingkungan KG sejak bertahun2 yg lalu, kami sepakat bahwa saat ini arah garis besar penerbitan buku kelompok Gramedia semata-mata adalah bisnis. Tidak ada idealisme apa pun selain laba (meski sebagian pekerjanya dapat dipastikan masih punya visi sendiri tentang penerbitan buku & punya peluang tertentu utk mempraktikan visi tersebut). Buku Douglas Wilson merupakan keteledoran, seperti yg diakui Pak Wandi, karena pastinya Gramedia tidak pernah ingin menyinggung siapa pun dgn menerbitkan buku2 “sensitif”. Pemusnahan buku, dgn demikian, bisa dimengerti.

    3) Membakar buku
    Tindakan membakar buku di tempat itu pada saat itu tidak bisa tidak lepas dari persepsi bahwa pemikiran yg tidak sesuai dengan kelompok tertentu (semayoritas apa pun) harus dimusnahkan. Dalam sejarahnya, pembakaran buku dilakukan sebagai simbol utk mematikan gagasan/pemikiran yg diklaim terlarang oleh suatu pihak. Pembakaran buku kemarin seperti dipanggungkan di depan MUI dan publik demi memuaskan ego pihak tertentu yg terluka perasaannya karena agamanya dihina.

    4) Keterbukaan & kedewasaan
    Sebagian besar dari kita tetap tidak bisa terima orang Barat bicara jelek sedikit saja. Buku Douglas Wilson bicara tentang pengaruh historis 5 kota penting, meski dgn bias yg nggak bermutu. Tapi buku itu punya poin selain hinaannya: dari dulu Barat belajar sejarah dengan metode yg layak diikuti dan kita mesti melengkapi kontribusi itu dgn sudut pandang non-Barat. Sudah terlalu sering kita bersikap reaksioner terhadap hinaan Barat alih-alih bergerak progresif membenahi infrastruktur industri penerbitan dan menciptakan buku2 penting yg bisa membuka mata dunia.

    Sambil menyayangkan betapa tertinggalnya kita dalam penguasaan sejarah & betapa sensinya kita soal hal2 yg nggak penting, saya menandatangani petisi antipembakaran buku.

    Salam,
    Ninus

  2. Fauzi Utama mengatakan:

    wah parah banget tuh yang nulisnya, nulis sih nulis tapi jangan ngehina Nabi Muhammad

  3. jarjit mengatakan:

    tapi besok-besok akan ada lagi yang seperti ini atau bahkan lebih. perang ehh maksudnya perjuangan dalam konteks pemikiran, intelektual dan ranah dialektika akan selalu menarik, berkelanjutan dan tentu saja tidak ada habisnya…dibakar satu tumbuh lima belas, uhhh mari terus berjuang besok ada douglas wilson yang lain, juga ada penerbit yang (pura-pura) teledor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s