Candi, Cakrabirawa, dan Cinta Segitiga

Posted: Desember 17, 2012 in Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi
Tag:, , , , , , ,

manjali-dan-cakrabirawaManjali dan Cakrabirawa

Oleh: Ayu Utami

ISBN      :               9789799102607

Rilis        :               2010

Halaman :            276

Penerbit :            Kepustakaan Populer Gramedia

Bahasa :               Indonesia

Berbicara tentang sejarah Indonesia yang terjadi pada masa tahun 1965 dan sesudahnya, tentunya seperti mengorek luka lama bangsa Indonesia. Ketika beberapa Jenderal terbunuh dan menyisakan kengerian ketika mendengar istilah G-30S/PKI.  Kilasan sejarah itu, tercatat nama pasukan “Cakrabirawa” yang merupakan pasukan pengawal istana negara kala itu, dipimpin oleh Letkol. Untung, dituduhkan sebagai pelaku keji kejadian pembunuhan para Jenderal tersebut.

Nah, dalam novel Ayu Utami yang berjudul Manjali dan Cakrabiwara yang merupakan salah satu seri dari Bilangan Fu, Cakrabirawa dibicarakan lebih dalam lagi, selain tentang sejarah kelam tersebut, utamanya berkaitan dengan asal muasal kata Cakrabirawa, misteri candi-candi di Jawa Timur,  mitos-mitors leluhur dan tentu tak lupa ada bumbu asmara tokoh-tokoh di dalamnya.

 

Bagi yang sudah pernah membaca Bilangan Fu, tentunya masih ingat dengan tokoh-tokohnya. Bagi yang belum baca, ada 3 tokoh utama dalam Manjali dan Cakrabirawa; Marja Manjali, Parang Jati, Sandi Yuda. Marja gadis 19 tahun, cerdas, modern yang sedang kuliah di ITB, memiliki kekasih bernama Sandi Yuda seorang pemanjat tebing professional yang kerap menjadi langganan TNI untuk diajak latihan bersama. Sandi Yuda memiliki sahabat Parang Jati, seorang pemuda tampan bermata bidadari, berjari 12, arkeolog muda yang juga hobi panjat tebing. Marja-Sandi Yuda-Parang Jati, merupakan sahabat yang sangat kental, tak lengkap rasanya bila tidak kumpul bertiga. Ibaratnya makan es krim terus belepotan tidak ada tissue, nah kira-kira begitu deh kalau tidak kumpul semua. Ada yang kurang. Lalu siapa yang jadi tissue? (lah kok dibahas yaa…)

Pada suatu ketika, Manjali “dititipkan” oleh Yuda  yang sedang melakukan panjat  tebing  dengan TNI selama beberapa hari, di rumah Parang Jati di Sewugunung, di  tepi laut Selatan yang  saat itu sedang meneliti temuan candi di Jawa Timur bersama arkeolog dari Perancis Jacques Cherer.   Penemuan candi itu berawal dari ayah Parang Jati yaitu Suhubudi  mendapat kabar tentang adanya sebuah candi yang belum tergali di suatu tempat dekat perbatasan Jawa Tengah dan Timur, di wilayah yang diperkirakan bagian periferi kerjaan Kahuripan Airlangga di masa silam… (hal. 22).

Penggalian candi itu akhirnya di lakukan, di dukuh Girah tempat candi tersebut ditemukan. Dukuh Girah sangat lekat dengan dongeng tentang janda tukang teluh yang sakti dan sangat kejam, Calonarang yang hidup dalam masa pemerintahan Airlangga, awal abad ke-11 Masehi. Calonarang atau Calwanarang memiliki anak gadis yang sangat cantik bernama Ratna Manjali. Candi di dukuh Girah tersebut masih diduga masih berkaitan dengan Calwanarang, yaitu anaknya yang sedang melakukan perjalanan spiritual.  Nama anak Calwanarang yang mirip dengan nama Marja Manjali membuat Marja terkejut, kenapa bisa kebetulan sama?

Dalam proses penggalian itu ditemukan arca pertama yaitu Syiwa Bhairawa, di arca tersebut terdapat anjing, tengkorak, dan trisula, arca itu biasa disebut juga Cakra Cakra. Lalu apa ada hubungannya dengan Cakrabirawa? Tentu saja, dan kisah ini juga diwarnai oleh Marja yang tak bisa melawan pesona mata bidadari Parang Jati. Serta kebetulan-kebetulan lain yang cukup banyak. Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita tetap percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka? (hal. 18).

Manjali dan Cakrabirawa, terbagi menjadi 3 tema besar,  Rahasia, Misteri, Teka-Teki. Semua terangkai dalam satu jalinan berurut, seperti kebetulan bisa terangkai begitu. Dan masing-masing mewujud cerita tersendiri. Dalam buku ini, lebih diexplore kisah asmara antara Parang Jati dan Marja, yang di buku Bilangan Fu tidak diungkap secara detail. Menurut Ayu Utami dalam akun twitternya @BilanganFu nantinya ada 12 seri  Bilangan Fu, saat ini seri yang sudah terbit (setelah buku Bilangan Fu) ada 2 yaitu Manjali dan Cakrabirawa dan Lalita.

Sangat menarik membaca novel dengan latar belakang sejarah yang dikaitkan dengan mitos-mitos leluhur yang ada dalam masyarakat. Tentunya akan bisa lebih mengenal sejarah bangsa sendiri dan budaya lokal. Ayu Utami menulis Manjali dan Cakrabirawa dikemas lebih ringan dibanding dengan BIlangan Fu yang cukup berat. Cukup bisa dipahami karena buku ini sebenarnya bagian dari Bilangan Fu tersebut. Mengorek tentang sejarah tentunya akan bisa membuka mata tentang sejarah tersebut sebenarnya bagaimana. Tidak harus menelan mentah-mentah dengan apa yang disodorkan oleh pemerintah, oh si A yang salah, kamu harus percaya, ya begitu saja. Tapi, dalam fakta-fakta yang nyata sejarah bisa lebih diketahui kebenaran serta riwayatnya. Oleh karenanya, kenapa buku ini penting dibaca? Salah satunya karena ada kisah sejarah yang ditulis dengan apik berdasarkan riset oleh Ayu Utami. ***

Cheers..

@eviwidi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s