Perjalanan Paulo Coelho Pada Masa Krisis Keyakinan

Posted: Agustus 21, 2013 in buku baru, Resensi Buku Fiksi, Review Buku Fiksi, Review Buku Non Fiksi
Tag:, , ,

alephISBN    :    9789792296372
Rilis    :    2013
Halaman    :    312
Penerbit    :    Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Bahasa    :    Indonesia

Aleph berdiameter sekitar dua sampai tiga sentimeter, akan tetapi seluruh ruang kosmis ada di dalamnya, tanpa berkurang ukurannya. Masing-masingnya tak berbatas, sebab aku bisa melihatnya dengan jelas dari setiap titik di alam semesta.

–          Jorge Luis Borges,The Aleph

Paulo Coelho menuangkan kisah perjalanan spiritualnya dalam sebuah novel berjudul Aleph.  Kisah perjalanan dengan kereta api di jalur Trans-Siberian yang melintasi Moscow hingga Vladivostok, menempuh jarak 9288 km dengan perbedaan waktu 7 jam.

Perjalanan ini sebenarnya berawal dari rasa krisis keyakinan yang dialaminya, juga ada rasa semacam belenggu rutinitas yang membuatnya ingin kembali mempertanyakan apa sebenarnya arti kebahagiaan. Hidup serba berkecukupan, dikelilingi oleh orang-orang yang dicintai dan mencintai, memang sepertinya sangat menyenangkan. Tapi Paulo ingin kembali “tumbuh” lagi sisi spiritualnya dengan bertemu orang-orang baru, peristiwa baru, suasana baru. Bukan karena kurang bersyukur atas apa yang telah didapatkan dan dirasakan saat ini, tapi bertemu dan berbicara dengan orang baru juga merupakan rekreasi pikiran dan menambah pengalaman spiritualnya.

Sebagai penulis terkenal, yang karyanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia, Paulo melakukan perjalanan sambil mampir untuk menghadiri diskusi bukunya juga bertemu dengan penggemar dan menandatangani bukunya. Setiap kali sehabis acara diskusi dan tandatangan, Paulo meminta untuk dibuatkan semacam pesta kecil, yang bertujuan agar bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan orang-orang baru dalam suasana yang lebih santai.

Pada saat singgah di Rusia, Paulo bertemu dengan Hilal, salah satu penggemar tulisannya yang khusus hadir untuk menemuinya secara pribadi. Hilal gadis misterius yang piawai memainkan biola, berumur sekitar 20an. Hilal, menemui Paulo di hotel saat d Moscow.  Paulo yang percaya dengan reinkarnasi, ketika bertatapan dengan Hilal dalam perjalanan kereta, merasakan Aleph, dan menyadari dirinya pernah bertemu Hilal pada masa lalu di kehidupan lain. Kisah masa lalu kehidupan lain itu bergulir  ketika Paulo memasuki masa lalunya bak film lawas yang diputar ulang.

Paulo mencoba masuk di kehidupan masa lalunya bersama Hilal, saat melakukannya muncul cincin api mengitari tubuh mereka berdua hingga akhirnya Paulo dapat melihat masa lalunya dan mencari jawaban dari pertanyaan seputar Hilal. Nun di ratusan tahun yang lampau, Paulo muda berada di Spanyol di masa Inkuisisi tepatnya di Cordoba. Paulo seorang pengabdi gereja yang taat. Pada saat itu, sihir merupakan ilmu terlarang yang dianggap sebagai bid’ah. Ada laporan dari seorang petani di muka umum, bahwa sekitar 8 wanita muda terlibat praktik sihir. Siapapun yang dianggap melakukannya akan dihukum berat. Paulo mengenali salah satu dari 8 wanita tersebut.

Si wanita yang dikenalinya, berasal dari keluarga yang kaya raya dan berkedudukan tinggi dalam kelas social kala itu, orang tua wanita itu meminta kepada Inkuisitor agar putri mereka tidak dihukum. Mereka menganggap putri mereka tidak melakukan praktik sihir. Paulo yang saat itu posisinya berada di bawah sang Inkuisitor mengalami tekanan hebat, karena dia pernah memiliki kenangan dan kebersamaan dengan wanita itu. Bahkan Paulo telah jatuh hati kepadanya, Paulo bimbang apakah benar si wanita melakukan praktik sihir?  Namun dia tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan wanita itu dari hukuman.

Selama perjalanan ini, Paulo ditemani oleh beberapa orang dekatnya. Kisah dalam novel ini juga meluaskan pengetahuan tentang betapa luasnya Rusia, selain kisah perjalanan Paulo sendiri yang ditulisnya dengan apik. Kita akan banyak belajar tentang makna kehidupan dari buku ini, Mungkin sesekali kita memang perlu untuk melakukan sesuatu diluar rutinitas yang dilakukan sehari-hari. Untuk menyegarkan pikiran juga tentunya bertemu orang-orang baru serta tempat baru yang akan menambah wawasan serta pengalaman hidup. Memang tidak setiap orang punya kemewahan seperti Paulo yang bisa melakukan perjalanan saat pikiran sedang galau atau keyakinan yang labil. Bagaimanapun perjananan juga memerlukan persiapan uang, waktu, tenaga dan pikiran.  Namun setidaknya, kita bisa mencoba keluar dari rutinitas sejenak dengan hal-hal lain yang mampu dilakukan, mengunjungi rumah teman atau saudara mungkin😀

Jika sekiranya punya dana lebih, tidak ada salahnya merencanakan perjalanan apalagi perjalanan tersebut untuk menjaga pikiran tetap segar dan jernih, seperti halnya yang dilakukan Paulo di buku Aleph ini.

Cheerss..

@eviwidi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s