Archive for the ‘Prosa’ Category

Oleh: Eviwidi & Granito Ibrahim

Aku heran, pekerjaan begini banyak tidak satupun yang menarik. Membuat kata sambutan, menulis beberapa paragraf pada lembar profil perusahaan, iklan-iklan yang menyesatkan, ah kenapa pula tak ada yang menantang. Bukannya apa, seringkali memanipulasi data bukan keinginanku. Kata-kata adalah senjata promosi dan aku tidak ingin menyalah gunakan untuk membunuh, memengaruhi masyarakat pada ketidak jelasan sebuah manfaat produk industri. Dan ini jebakan, aku butuh pemasukan, namun bukan cara seperti ini. Keinginanku untuk menulis cerpen sudah beberapa lama memudar. Butuh mood yang luar biasa. Dan aku dalam masalah.

Aku sering bertengkar dengan Mel akhir-akhir ini, perbedaan yang mencolok mulai terkuak. Aku memilih malam hari untuk bekerja sementara Mel memulai segalanya pada pagi hari. Dia sudah terbiasa dengan jam biologisnya dan aku dengan kebiasaan melawan hukum alam. Malam hari adalah waktu yang super tepat untuk penulis sepertiku, bebas dari hiruk pikuk sekitar sehingga seluruh pikiranku begitu fokus untuk mengembangkan imaji dan kreatifitas. Mel sulit mengerti akan hal ini. Dan ini awal segala permasalahannya.

(lebih…)

Apa mau dikata, bila kekasih lama memintamu kembali dan kau yang tlah menduakan hatimu padaku akhirnya mencampakkan aku bagai sampah tak berguna.

Apa mau dikata, bila engkau telah lelah menari bersamaku, memutuskan untuk berhenti seperti berhentinya  langkah kaki, di mana saja, kapan saja sesukamu.

Apa mau dikata, bila lonceng berakhirnya kisah kita, berdentang saat bunga cinta sedang mekar-mekarnya.

Apa mau dikata, bila raga ini tak kuasa menahanmu untuk tetap di sisiku..

Apa mau dikata, bila hatiku yang telah tertambat padamu, masih mengendap berjuta rasa untukmu..yang belum hilang, dan masih menunggumu..

Dan aku masih di sini, menantimu kembali dalam pelukku….

——–

Untuk kisah kita yang hanya seumur jagung…

End of  May 2011

-Eviwidi-

mengapa, masih saja tak jua kau sadari bahwa kita telah berakhir

begitu sulitkah mengakui kita telah tidak lagi di jalan yang sama?

dan bukankah ini yang kau inginkan?

waktu-waktu kita amatlah berharga, sayang…

jangan lagi kau habiskan untuk menegakkan benang basah

di sudut hatimu, aku telah pergi

tak ada lagi jalan untuk kembali

inilah kenyataan, inilah kita sekarang

kita tak bisa terus menerus hidup dalam kenangan

matahari yang terik membangunkan tidur kita yang panjang

setelah ini, sadarilah kita takkan pernah lagi bersisian

Jakarta, 29/07/2010

Usaikan Beku

Posted: Mei 3, 2010 in Prosa, Puisi
Tag:,

Ya, tlah sampai  kita di sini jua

Pada pertarungan; ego dan sayang

Menepikan cinta yang lama bersarang

oleh sebuah peristiwa di perjalanan

Berbuang pandangan dalam diam

Tak satupun sisa cinta runtuhkan murka

Pun tercecap manisnya yang melewati

malam kita, masih terasa..

Dan kepergianmu tanpa sapa

heningmu adalah genta yang memekakkan telinga

memecahkan bendungan air mata

melangut rasa mengurung jiwa

Oh, kota yang malang

Inikah akhir dari segala kisah usang?

Bergegaslah, bergegaslah usaikan beku

Atau takkan pecah walau dalam rindu…

30/04/2010

Tubuh Yang Memudar

Posted: Desember 14, 2009 in Prosa

Aku tenggelam dalam lautmu, kulihat dirimu menyambutku dengan senyum, akupun tersenyum dan berharap kau menarikku ke permukaan.

Namun ketika kusentuh, tubuhmu memudar bagai gumpalan tinta yang tercampur air..

Tanah Gersang

Posted: Desember 14, 2009 in Prosa

Di suatu pagi yang murung, aku terbangun dan mengusap kaca jendela yang berembun. Seakan tak percaya, benih-benih yang kusemai di ladang dan mulai tumbuh yang biasa kutatap setiap pagi, kini lenyap berganti tanah gersang. Aku berlari, menjerit, apakah semuanya selama ini hanya ilusi? Dan aku tak kuasa membendung derai air mata yang terus mengalir. Kini, di tanah gersang ini, aku harus memulai lagi segalanya, SENDIRI.

Himpunan Puisi Padang 7,6 Skala Richter

Oleh:

Solidaritas 25 sastrawan dari Indonesia, Singapura dan Malaysia untuk gempa Padang.

ISBN    :    9786028543309
Rilis    :    2009
Halaman    :    206p
Penerbit:    Bisnis2030
Bahasa    :    Indonesia
Rp.50.250

Rabu, 30 September 2009, gempa 7,6 Skala Richter yang berpusat di 57 km dari Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) itu menyentakkan kita semua. Berita-berita seputar gempa  tersebut berhamburan baik di media cetak maupun elektronik. Dan segera menjadi headline di hampir semua media. Kita terkejut, kita bersedih, bencana begitu silih berganti menimpa wilayah demi wilayah yang ada di Indonesia. Menyedot perhatian dan mengajak kita untuk segera mengulurkan tangan membantu untuk berbuat sesuatu. Kita tidak boleh berdiam diri.

(lebih…)